DaerahPemerintahanSeni BudayaTrenggalek

Pemkab Trenggalek Gelar Nyadran Dam Bagong, Tradisi Syukur yang Menyatukan Alam dan Warga

×

Pemkab Trenggalek Gelar Nyadran Dam Bagong, Tradisi Syukur yang Menyatukan Alam dan Warga

Sebarkan artikel ini


TRENGGALEK, HARIAN NEWS — Pemerintah Kabupaten Trenggalek kembali menggelar Upacara Adat Nyadran Dam Bagong, Kamis (8/5/2026), sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus ungkapan syukur masyarakat atas keberlimpahan air dan hasil panen.

Tradisi yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2024 ini menjadi simbol kuat hubungan manusia, alam, dan sejarah yang terus dijaga lintas generasi.
Prosesi diawali dari Pendopo Manggala Praja Nugraha melalui Kirab Mahesa.

Seekor kerbau diarak menuju Makam Setono Bagong, tempat dimakamkannya Ki Ageng Menak Sopal, tokoh yang diyakini berjasa memakmurkan pertanian Trenggalek melalui pembangunan saluran pengairan Dam Bagong.

Dalam prosesi tersebut, Wakil Bupati Trenggalek Syah Mohamad Natanegara menerima kesinggahan kerbau sekaligus menyerahkan perlengkapan penyembelihan kepada petugas adat. Sebelum disembelih, kerbau lebih dulu menjalani prosesi jamasan atau penyucian sebagai simbol penghormatan terhadap leluhur dan alam.

Daging kerbau kemudian dibagikan kepada masyarakat sebagai sedekah dan lambang kebersamaan. Sedangkan kepala serta kaki kerbau dilarung ke Dam Bagong sebagai simbol persembahan dan doa agar sumber air tetap melimpah bagi pertanian warga.
“Alhamdulillah, upacara adat ini bisa dilaksanakan setiap tahun. Harapannya tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekitar,” ujar Wabup Syah usai melepas kirab.

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin menegaskan, Nyadran Dam Bagong merupakan doa bersama masyarakat agar keberkahan air tetap terjaga dan hasil pertanian warga semakin melimpah.

Selain prosesi utama, rangkaian acara turut dimeriahkan pertunjukan seni rakyat seperti wayang kulit yang menambah nuansa sakral sekaligus hiburan bagi masyarakat.

Lurah Ngantru, Bambang Wusprapto, memastikan seluruh tahapan tradisi tetap dijalankan lengkap sesuai pakem turun-temurun yang diwariskan leluhur.

Nyadran Dam Bagong kini tidak hanya menjadi ritual budaya tahunan, tetapi juga wajah kearifan lokal Trenggalek yang mempertemukan sejarah, spiritualitas, gotong royong, dan penghormatan terhadap alam dalam satu perayaan budaya yang hidup.

Jurnalis : Nanang/ Rif