Leman Dwi Prasetyo, S.E, M.E., Pecinta dan pelestari Budaya, Anggota DPRD Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, dari Fraksi Golongan Karya (Golkar) (tengah/ by Pandhu).
TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Kecintaan terhadap budaya lokal mendorong Leman Dwi Prasetyo untuk ikut menghidupkan kembali kesenian jaranan yang sempat mati suri selama hampir satu dekade.
Melalui Paguyuban Jaranan Ngesti Tunggal Budoyo, Leman bersama para pelaku seni dan masyarakat berupaya memastikan kesenian tradisional tersebut tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Kebangkitan Ngesti Tunggal Budoyo ditandai dengan gebyakan atau pementasan perdana yang digelar di kediaman Leman, Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Minggu (16/8/2026). Pementasan tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bagi Leman, pementasan tersebut bukan sekadar hiburan. Ada misi yang lebih besar, yakni menjaga keberlangsungan budaya sekaligus membuka ruang regenerasi bagi generasi muda.
“Kalau kita tidak melakukan regenerasi, kesenian tradisional akan semakin sulit bertahan. Karena itu, anak muda harus diberi ruang untuk ikut terlibat dan memiliki kesenian ini,” ujar Leman.
Ngesti Tunggal Budoyo sendiri memiliki perjalanan panjang. Paguyuban tersebut sempat mengalami kevakuman sekitar 10 tahun. Pada masa generasi kedua, keberadaannya bahkan hanya ditopang tiga pelatih yang tetap bertahan menjaga eksistensi kelompok seni tersebut.
Kondisi itulah yang kemudian mendorong Leman ikut turun tangan membangkitkan kembali semangat para pelaku seni.
Kini Ngesti Tunggal Budoyo memasuki generasi ketiga dengan wajah berbeda. Anak muda justru menjadi kekuatan utama dalam kelompok tersebut.
Sekitar 90 persen penari berasal dari kalangan pemuda, khususnya dari wilayah Bangoan. Secara keseluruhan, sekitar 60 persen anggota paguyuban merupakan generasi muda, sedangkan 40 persen lainnya berasal dari generasi lebih tua.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa jaranan tidak selalu identik dengan generasi tua. Dengan pendekatan yang tepat, kesenian tradisional juga mampu menjadi ruang ekspresi bagi anak muda.
Untuk menarik minat generasi muda, Ngesti Tunggal Budoyo mulai melakukan inovasi. Musik gamelan tradisional dipadukan dengan sentuhan irama campursari agar lebih mudah diterima telinga generasi sekarang.
Anak muda juga diberi ruang untuk menjadi wiraswara atau penyanyi yang sebelumnya lebih banyak diisi kalangan sesepuh.
Namun, Leman mengingatkan agar inovasi tidak menghilangkan akar tradisi.
“Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana, ajining bangsa saka luhuring budaya,” ungkapnya.

Falsafah tersebut menjadi pegangan bahwa perkembangan zaman tidak seharusnya membuat masyarakat meninggalkan akar budayanya.
Menurut Leman, kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai bebas dari penjajahan, tetapi juga sebagai kemampuan masyarakat menjaga warisan budaya bangsa agar tetap hidup dan berkembang.
Karena itu, momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI dinilai menjadi momentum tepat untuk kembali menghidupkan kesenian tradisional di tengah masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Leman juga menyampaikan apresiasi kepada para penggerak Ngesti Tunggal Budoyo, yakni Ketua Budi Peti (Maulana), Sekretaris Andi, Bendahara Ho, serta para sesepuh atau guru kampuh, Bapak Dolar dan Sukardi.
Apresiasi juga diberikan kepada warga, simpatisan, tetangga dan para donatur yang ikut memberikan dukungan tenaga maupun materi hingga pementasan perdana dapat terlaksana.
Menurutnya, keberlangsungan sebuah paguyuban seni tidak mungkin hanya bergantung pada satu atau dua orang. Diperlukan gotong royong masyarakat agar tercipta ekosistem kesenian yang kuat.
Leman bahkan memiliki harapan lebih jauh. Ia ingin jaranan dapat berkembang menjadi salah satu ikon budaya Kabupaten Tulungagung dan suatu saat mampu berdiri sejajar dengan Reog Kendang sebagai kekuatan identitas budaya daerah.
“Harapannya, jaranan bisa menjadi ikon kedua Kabupaten Tulungagung setelah Reog Kendang. Kalau pembinaan ini berhasil, semangatnya bisa menular ke desa-desa lain,” ujarnya.
Ia menilai regenerasi merupakan kunci utama. Tanpa keterlibatan generasi muda, kesenian tradisional berisiko hanya menjadi catatan sejarah.
Dalam pementasan perdana tersebut, Leman juga menunjukkan sikap rendah hati. Ia meminta masyarakat memaklumi apabila masih terdapat kekurangan dalam penampilan para penari maupun wiyaga.
“Kalau nanti ada wiyaga atau penari yang gerakannya belum sempurna atau kurang kompak, kami mohon dimaklumi,” katanya.
Permohonan maaf juga disampaikan apabila masih terdapat kekurangan dalam pelayanan kepada para tamu, mulai dari gupuh, suguh, lungguh hingga aruh.
Pementasan Ngesti Tunggal Budoyo akhirnya bukan sekadar pertunjukan seni. Di balik tabuhan gamelan dan gerak para penari, tersimpan pesan bahwa budaya hanya akan bertahan ketika ada generasi yang bersedia merawatnya.
Bangkitnya Ngesti Tunggal Budoyo setelah hampir satu dekade mati suri menjadi bukti bahwa kesenian tradisional masih memiliki masa depan. Ketika anak muda mulai mengambil bagian, jaranan memiliki peluang kembali menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Tulungagung.
Bagi Leman, merawat budaya bukan sekadar mempertahankan kesenian yang diwariskan para leluhur. Lebih dari itu, budaya harus diberi ruang untuk tumbuh agar tetap dikenal dan dicintai generasi berikutnya.
Leman Dwi Prasetyo sendiri saat ini merupakan Anggota Komisi C DPRD Kabupaten Tulungagung sekaligus Penasehat Paguyuban Jaranan Ngesti Tunggal Budoyo. Namun, di tengah kesibukannya, kecintaannya terhadap seni dan budaya menjadi salah satu alasan ia memilih ikut turun tangan membangkitkan kembali jaranan agar tidak hilang ditelan zaman.
Jurnalis: Pandhu













