TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Semangat membangun industri kreatif daerah mulai nyata terasa di Tulungagung. Melalui Workshop Kreatif Produksi Film bertajuk CIKAL (Cipta Karya Layar), ratusan anak muda tidak hanya belajar teori perfilman, tetapi langsung terjun memproduksi karya film mereka sendiri sebagai langkah awal membangun ekosistem sineas lokal yang berkelanjutan.
Kegiatan yang digelar Sabtu (16/5/2026) di Lotus Cafe & Coffee House Tulungagung itu menjadi momentum penting kebangkitan perfilman lokal yang selama ini belum memiliki ruang pengembangan yang kuat dan terstruktur.
Penggagas kegiatan, Bambang Wijanarko selaku Ketua Yayasan Siswo Budoyo Indonesia sekaligus Ketua Panitia, mengatakan bahwa banyak talenta muda Tulungagung sebenarnya memiliki potensi besar di bidang perfilman dan industri kreatif.
Namun selama ini, kata dia, sebagian besar harus mencari ruang berkembang di luar daerah karena minimnya wadah kreatif yang mampu mendukung proses pembelajaran hingga produksi karya secara serius.
“Melalui workshop ini kami ingin menciptakan ruang tumbuh bagi sineas muda Tulungagung agar mereka bisa berkembang di daerah sendiri tanpa harus keluar kota,” ujarnya.
Tidak sekadar seminar, workshop CIKAL langsung menghadirkan nuansa industri perfilman profesional dengan menggandeng praktisi perfilman dari Yogyakarta, termasuk jejaring Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dan Dr. Harmono dari Jogja Film Academy.
Peserta mendapatkan pengalaman langsung mengenai proses produksi film secara utuh, mulai penulisan skenario, penyutradaraan, tata kamera, hingga pascaproduksi.
Antusiasme peserta pun sangat tinggi. Dari sekitar 100 peserta yang mendaftar, tingkat kehadiran mencapai 95 persen. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai pelajar SMA/SMK, mahasiswa Universitas Tulungagung (UNITA), UIN SATU Tulungagung, hingga komunitas budaya dan kreatif lokal.
Menariknya, seluruh peserta langsung dibagi menjadi 10 tim produksi film dan diterjunkan membuat karya nyata di lapangan. Setiap kelompok juga mendapatkan dukungan biaya produksi agar ide kreatif mereka dapat direalisasikan secara langsung.
Pendampingan dilakukan secara terstruktur sejak awal. Minat peserta dipetakan sesuai bidang yang diminati, seperti penulisan naskah, penyutradaraan, hingga kameramen, lalu dipertemukan dengan mentor sesuai kompetensinya.
Untuk bidang penulisan skenario, peserta dibimbing oleh Mas Yagi, sementara produksi dan tata kamera didampingi Mas Bre dan Mas Lanang. Dukungan teknis juga diperkuat melalui kerja sama dengan BLKK SMK NU yang menyediakan fasilitas ruang editing bagi seluruh tim produksi.

Sebagai puncak kegiatan, hasil karya peserta akan ditampilkan dalam screening film sekaligus pemberian penghargaan untuk sejumlah kategori, seperti karya terbaik, sutradara terbaik, hingga pemeran terbaik.
Bambang Wijanarko menegaskan bahwa CIKAL bukan sekadar agenda seremonial, melainkan langkah awal membangun ekosistem perfilman Tulungagung yang berkelanjutan.
“Target kami bukan hanya workshop. Ke depan kami ingin ada festival film lokal, pembinaan rutin, dan pengakuan nyata terhadap karya sineas muda Tulungagung,” tegasnya.
Dukungan terhadap geliat industri kreatif ini juga datang dari Ketua DPD Golkar Tulungagung, Jairi Irawan. Ia menilai dunia perfilman memiliki peluang besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif daerah.
Menurut Jairi, anak muda Tulungagung memiliki semangat berkarya yang luar biasa dan perlu didukung melalui ruang kreatif, jaringan, serta fasilitas yang memadai agar mampu berkembang secara profesional.
Karena itu, pihaknya memilih terlibat langsung mendukung komunitas kreatif lokal, mulai komunitas film hingga Stand Up Indo Tulungagung.
Dukungan tersebut diwujudkan melalui pembiayaan berbagai kegiatan kreatif, termasuk bedah film komunitas hingga pendanaan penuh workshop produksi film CIKAL.
“Ini bukan kegiatan simbolik. Kami ingin membangun ekosistem kreatif yang benar-benar hidup dan berkelanjutan,” ujar Jairi.
Sebagai bentuk keseriusan, hasil produksi 10 kelompok peserta bahkan langsung dijadwalkan tayang dalam agenda screening sehari setelah workshop berlangsung.
Ke depan, pihaknya juga menyiapkan Festival Film Tulungagung sebagai ruang besar bagi sineas lokal untuk menampilkan karya mereka kepada publik.
Selain itu, workshop teknis seperti kelas penulisan naskah, penyutradaraan, hingga sinematografi akan terus digelar secara berkala agar ekosistem kreatif daerah terus berkembang.
Jairi juga berkomitmen membuka akses jejaring nasional dengan menjembatani komunitas kreatif Tulungagung kepada berbagai pihak strategis, termasuk anggota DPR RI.
“Tahun ini menjadi langkah awal. Tahun depan kami ingin Tulungagung sudah memiliki ekosistem perfilman yang jelas, terstruktur, dan mampu melahirkan sineas hebat yang berbicara di tingkat nasional,” pungkasnya.
Jurnalis : Pandhu













