PendidikanTulungagung

Riset Doktoral Yandria Elmasari Bongkar Akar Pengangguran SMK, Berpikir Kritis Jadi Kunci Masa Depan

×

Riset Doktoral Yandria Elmasari Bongkar Akar Pengangguran SMK, Berpikir Kritis Jadi Kunci Masa Depan

Sebarkan artikel ini

TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Tingginya angka pengangguran lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kembali menjadi sorotan serius dunia pendidikan nasional. Di tengah berbagai program revitalisasi pendidikan vokasi, riset doktoral mahasiswa Universitas Negeri Malang, Yandria Elmasari, justru menemukan fakta penting bahwa kemampuan berpikir kritis menjadi faktor paling menentukan kesiapan masa depan siswa SMK menghadapi dunia kerja, wirausaha, hingga pendidikan lanjut.

Temuan tersebut lahir melalui disertasi berjudul “Analisis Kanonik Dukungan Sosial, Kemampuan Berpikir Kritis, dan Literasi Digital terhadap Kesiapan Kerja Industri, Pola Pikir Kewirausahaan, dan Minat Studi Lanjut Siswa SMK Negeri di Kabupaten Tulungagung”.

Penelitian akademik tersebut dinilai tidak sekadar menjadi kajian ilmiah biasa, tetapi juga menawarkan arah baru pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia, khususnya dalam menghadapi tantangan era transformasi digital dan revolusi industri.

Yandria Elmasari bersama dewan penguji

Disertasi Yandria telah melalui proses pengujian akademik ketat oleh sejumlah pakar pendidikan vokasi nasional, di antaranya Prof. Syamsul Bachri, S.Si., M.Sc., Ph.D selaku Direktur Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Purnomo, S.T., M.Pd., Prof. Dr. Ir. Syaad Patmanthara, M.Pd., Dr. Wahyu Sakti Gunawan Irianto, M.Kom., Prof. Dr. Ir. Hakkun Elmunsyah, S.T., M.T., Prof. Dr. Eddy Sutadji, M.Pd., serta Prof. Dr. Yeri Sutopo, M.Pd., M.T dari Universitas Negeri Semarang sebagai penguji tamu.

Para penguji menilai penelitian tersebut sangat relevan dengan kondisi pendidikan vokasi saat ini karena mampu memotret persoalan nyata yang dihadapi lulusan SMK di Indonesia.

Selama ini, SMK diproyeksikan sebagai pencetak tenaga kerja siap pakai melalui berbagai program pemerintah seperti link and match, revitalisasi SMK, hingga program BMW (Bekerja, Melanjutkan, dan Wirausaha).

Namun data Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2025 menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan SMK masih mencapai 9,01 persen, tertinggi dibanding jenjang pendidikan lainnya.
Kondisi tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan nyata dunia kerja modern yang terus berkembang.

Di Kabupaten Tulungagung, fenomena serupa juga masih ditemukan. Meski sebagian lulusan telah terserap dunia kerja, tidak sedikit yang belum mampu bersaing secara optimal di sektor industri maupun usaha mandiri.

Berangkat dari persoalan tersebut, Yandria Elmasari mencoba membedah faktor-faktor utama yang mempengaruhi kesiapan karier siswa SMK melalui pendekatan kuantitatif korelasional multivariat menggunakan metode Canonical Correlation Analysis (CCA).
Penelitian melibatkan 387 siswa kelas XI dan XII dari delapan SMK Negeri di Kabupaten Tulungagung yang dipilih dari total populasi sebanyak 12.110 siswa.

Dalam penelitian tersebut, Yandria memfokuskan analisis pada tiga variabel utama, yakni dukungan sosial, kemampuan berpikir kritis, dan literasi digital.
Ketiga faktor itu kemudian dianalisis pengaruhnya terhadap kesiapan kerja industri, pola pikir kewirausahaan, serta minat studi lanjut siswa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis menjadi faktor paling dominan dalam menentukan kesiapan masa depan siswa SMK.
Kemampuan berpikir kritis memiliki hubungan signifikan terhadap kesiapan kerja industri sebesar 0,784, pola pikir kewirausahaan sebesar 0,661, dan minat studi lanjut sebesar 0,548.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa siswa dengan kemampuan berpikir kritis yang baik cenderung lebih siap menghadapi dunia kerja, mampu melihat peluang usaha, serta memiliki motivasi lebih tinggi untuk melanjutkan pendidikan.

Dalam era industri modern, kemampuan berpikir kritis dinilai menjadi kebutuhan utama karena dunia kerja tidak lagi hanya membutuhkan tenaga teknis, tetapi individu yang mampu menganalisis masalah, mengambil keputusan cepat, berpikir kreatif, dan beradaptasi terhadap perubahan teknologi.

Yandria Elmasari sat melakukan dialog dengan siswa SMK

Selain itu, penelitian juga menemukan bahwa dukungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap kesiapan karier siswa.

Dukungan sosial tercatat memiliki hubungan signifikan terhadap kesiapan kerja industri sebesar 0,635 dan pola pikir kewirausahaan sebesar 0,516.

Artinya, siswa yang memperoleh dukungan positif dari keluarga, guru, teman, dan lingkungan sekolah cenderung memiliki rasa percaya diri lebih tinggi dalam menghadapi masa depan.

Menariknya, penelitian ini juga menemukan fakta lain yang cukup mengejutkan terkait literasi digital.

Alih-alih berdampak positif, literasi digital justru menunjukkan hubungan negatif terhadap kesiapan kerja industri dan pola pikir kewirausahaan.

Literasi digital tercatat memiliki hubungan minus 0,537 terhadap kesiapan kerja dan minus 0,394 terhadap pola pikir kewirausahaan.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa penggunaan teknologi digital di kalangan siswa belum sepenuhnya diarahkan pada aktivitas produktif untuk pengembangan kompetensi kerja maupun kewirausahaan.

Penggunaan media sosial dan konsumsi hiburan digital dinilai masih lebih dominan dibanding pemanfaatan teknologi untuk pengembangan keterampilan profesional.
Melalui penelitian ini, Yandria juga mengembangkan model modifikasi Social Cognitive Theory (SCT) yang menekankan pentingnya sinergi antara kemampuan individu dan lingkungan sosial dalam membangun kesiapan karier siswa SMK.

Model tersebut menegaskan bahwa kesiapan karier siswa dapat diperkuat melalui penguatan kemampuan berpikir kritis, pemanfaatan literasi digital secara produktif, serta dukungan sosial yang relevan dengan kebutuhan industri.
Penelitian ini sekaligus menjadi pesan kuat bahwa pendidikan vokasi tidak cukup hanya fokus pada keterampilan teknis semata.

Sekolah didorong memperkuat pembelajaran berbasis proyek, praktik kerja lapangan, serta metode pembelajaran yang mampu melatih analisis, kreativitas, komunikasi, dan pemecahan masalah.
Guru juga dituntut menjadi fasilitator yang mampu membangun pola pikir kritis siswa agar lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja modern.

Selain itu, pemerintah dan dunia industri dinilai perlu memperkuat kolaborasi melalui program magang, sertifikasi kompetensi, hingga pengembangan kurikulum yang lebih adaptif terhadap kebutuhan pasar kerja.

Bagi Kabupaten Tulungagung, hasil penelitian ini diharapkan menjadi pijakan strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus menekan angka pengangguran lulusan SMK.

Secara nasional, disertasi Yandria Elmasari menjadi refleksi penting bahwa masa depan pendidikan vokasi Indonesia harus dibangun melalui penguatan karakter, pola pikir kritis, dukungan sosial, dan pemanfaatan teknologi secara produktif.

Dengan penguatan faktor-faktor tersebut, lulusan SMK diharapkan benar-benar mampu menjadi generasi produktif yang siap bekerja, melanjutkan pendidikan, maupun menciptakan peluang usaha secara mandiri di tengah persaingan global yang semakin kompetitif.

Jurnalis : Pandhu