Muhammad Sarmuji Anggota Komisi VI DPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Golkar.
TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com – Jalan rusak masih menjadi persoalan utama yang membayangi kehidupan masyarakat di kawasan pegunungan Kabupaten Tulungagung. Bagi warga Desa Picisan, Kecamatan Sendang, kondisi itu bukan sekadar mengganggu kenyamanan berkendara, tetapi turut memengaruhi roda perekonomian, distribusi hasil pertanian, hingga akses terhadap pelayanan publik.
Persoalan tersebut kembali mengemuka saat Anggota Komisi VI DPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Golkar, M. Sarmuji, menyerap aspirasi masyarakat dalam agenda reses di Desa Picisan, Senin (27/7/2026).
Sarmuji mengaku merasakan langsung beratnya medan menuju desa tersebut. Menurutnya, kondisi jalan yang belum memadai menjadi hambatan utama bagi aktivitas ekonomi masyarakat pegunungan.
“Persoalan utama warga di sini adalah jalur logistik, dan itu kunci utamanya ada di infrastruktur,” ujar Sarmuji.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur di wilayah pegunungan masih membutuhkan perhatian serius. Selama ini, kerusakan jalan membuat biaya angkut hasil pertanian meningkat dan memperlambat mobilitas warga.
Meski bertugas di Komisi VI DPR RI yang membidangi BUMN, perdagangan, koperasi, UMKM, investasi, dan standardisasi nasional, Sarmuji menyatakan akan memanfaatkan posisinya sebagai Ketua Fraksi Partai Golkar untuk membangun komunikasi lintas komisi serta mendorong sinergi antara pemerintah pusat dan Pemerintah Kabupaten Tulungagung.
Menurutnya, koordinasi tersebut diperlukan agar usulan pembangunan jalan di Desa Picisan dapat masuk dalam perencanaan anggaran yang lebih luas.
Namun demikian, komitmen tersebut masih menunggu pembuktian melalui realisasi pembangunan. Selama bertahun-tahun, persoalan jalan rusak di kawasan pegunungan kerap muncul dalam berbagai forum reses, tetapi penyelesaiannya belum sepenuhnya menjawab harapan masyarakat.
Selain persoalan infrastruktur, Sarmuji juga memberi perhatian terhadap pelestarian budaya lokal yang masih hidup di Desa Picisan, seperti Wayang Jemblung dan Kesenian Lesung.
Ia menilai pembangunan desa tidak cukup hanya diukur dari hadirnya proyek fisik, melainkan juga harus mampu menjaga identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Menurut Sarmuji, seni tradisional memiliki fungsi penting sebagai media pendidikan sosial sekaligus penguat nilai-nilai kebangsaan. Karena itu, kesenian lokal memerlukan dukungan nyata agar tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
Sebagai bentuk komitmennya, ia menyatakan siap membantu penyediaan sarana kesenian, termasuk perangkat gamelan, serta menugaskan tim pendamping untuk membantu pemerintah desa dan kelompok seni menyusun proposal bantuan kepada kementerian maupun lembaga terkait.
Meski demikian, tantangan pelestarian budaya tidak berhenti pada pengadaan peralatan. Keberlangsungan seni tradisional juga bergantung pada regenerasi pelaku, tersedianya ruang pertunjukan, dukungan pemerintah daerah, hingga strategi promosi yang mampu menarik minat generasi muda.
Karena itu, pelestarian budaya membutuhkan kebijakan yang berkelanjutan agar tidak hanya menjadi simbol identitas daerah, tetapi juga berkembang sebagai bagian dari sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Menutup agenda resesnya, Sarmuji menegaskan seluruh aspirasi masyarakat akan dikawal melalui evaluasi secara berkala setiap tahun.
Baginya, hasil reses tidak boleh berhenti sebagai catatan administratif, tetapi harus bermuara pada kebijakan yang benar-benar diwujudkan dalam bentuk pembangunan.
Pada akhirnya, masyarakat Desa Picisan akan menilai keberhasilan bukan dari banyaknya janji yang disampaikan dalam forum reses, melainkan dari perubahan nyata yang mereka rasakan—jalan yang semakin layak dilalui, aktivitas ekonomi yang semakin lancar, serta kesenian lokal yang tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Jurnalis: Pandhu













