160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Saatnya Berubah: Sungai Mengajarkan Warga Tulungagung Tentang Tanggung Jawab Sampah

Sungai Penuh sampah dibersihkan
Puring Roots Fest Vol. 1, Sejumlah komunitas dan organisasi lingkungan terlibat dalam kolaborasi ini, di antaranya Puring Green Forest, Navicula, Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation), PUPR melalui gerakan “Sikap Membangun Negeri”, Pulau Plastik, serta ALWI (Aliansi Lereng Wilis).

TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com – Pagi itu, air di Saluran Pembuang Kedungwaru tidak benar-benar mengalir. Ia tertahan. Diam. Seolah menunggu kesadaran yang tak kunjung datang.

Sungai di jantung Kota Tulungagung itu kembali menjadi cermin buram tata kelola lingkungan. Minggu pagi (15/2/2026), puluhan relawan turun langsung ke Saluran Pembuang Kedungwaru, tepat di timur SMA Katolik S.T Thomas Aquino, Kecamatan Kedungwaru.

Mereka bukan sekadar memungut sampah, tetapi menyelamatkan aliran yang nyaris mati.
Kegiatan bertajuk Bersih Sungai – Puring Roots Fest Vol. 1 dimulai pukul 07.00 WIB.

Sejumlah komunitas dan organisasi lingkungan terlibat dalam kolaborasi ini, di antaranya Puring Green Forest, Navicula, Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation), PUPR melalui gerakan “Sikap Membangun Negeri”, Pulau Plastik, serta ALWI (Aliansi Lereng Wilis).

750 x 100 AD PLACEMENT

Aksi tersebut membawa pesan tegas: no plastik, wajib membawa tumbler, serta penyediaan free refill air mineral oleh panitia. Edukasi dimulai dari kebiasaan sederhana, namun berdampak besar.

Pemandangan di lokasi cukup memprihatinkan. Tumpukan gulma liar bercampur sampah rumah tangga menyumbat drainase. Air yang semestinya mengalir justru menggenang hingga setinggi perut orang dewasa.

Alamsyah Plt. Kepala Bidang SDA Dinas PUPR Kabupaten Tulungagung

Pelaksana Tugas Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Tulungagung, Alamsyah, turun langsung memantau kegiatan. Program yang ia kawal dikenal dengan sebutan “Sejoli” atau Sobat Jogo Kali.
“Air dari selatan tadi hampir tidak bergerak karena tersumbat. Setelah dibersihkan, ketinggiannya turun drastis. Sekarang tinggal setinggi lutut dan arus kembali lancar,” ujarnya di lokasi.

Fakta tersebut menegaskan bahwa sampah dan sedimentasi menjadi musuh utama sistem drainase. Ketika aliran tersumbat, potensi banjir tinggal menunggu waktu.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tim gabungan dari Dinas PUPR, UPT, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta relawan masyarakat yang dipimpin Harun berjibaku selama berjam-jam mengangkat gulma dan mengeruk endapan. Sungai yang semula “tercekik” perlahan kembali bernapas.

Namun di balik keberhasilan teknis itu, muncul catatan kritis. Alamsyah mengapresiasi soliditas koordinasi dengan DLH, tetapi menyayangkan tidak hadirnya perwakilan dari Kelurahan Kenayan, Kelurahan Kepatihan, dan Desa Kedungwaru.
“Ini tanggung jawab bersama. Sampah dan banjir tidak mengenal batas administrasi,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi alarm bahwa persoalan lingkungan bukan semata urusan dinas teknis. Tanpa dukungan pemerintah wilayah dan kesadaran warga, aksi bersih sungai berisiko menjadi rutinitas tanpa solusi jangka panjang.
PUPR memastikan kegiatan serupa tidak akan berhenti.

Titik rawan lain seperti Saluran Pembuang Barata dan Wajak Kidul telah dipetakan. Strategi ke depan mencakup penanganan dari hulu, pengendalian sedimentasi, hingga pemasangan baliho edukasi visual agar sampah tidak masuk ke sistem besar seperti Parit Agung.

750 x 100 AD PLACEMENT

 

Semangat bersih bersih sampah

Koordinator Puring Green Forest, Haris, menegaskan bahwa aksi ini lahir dari keresahan nyata. Sungai di pusat kota dinilai telah berubah fungsi menjadi penampung limbah rumah tangga hingga sisa produksi UMKM.
“Ini sungai buangan utama. Limbah terbesar bermuara di sini,” ujarnya.

Komunitas tersebut juga melakukan uji kualitas air sebelum aksi digelar. Hasilnya mengkhawatirkan. pH masih dalam batas aman, tetapi kandungan nitrat, nitrit, serta kadar asam terdeteksi cukup tinggi. Suhu air yang meningkat menjadi indikasi adanya reaksi kimia dan pencemaran berat.

Artinya, persoalan sungai Tulungagung bukan hanya soal sampah kasat mata. Ada ancaman kualitas air yang berpotensi merusak ekosistem dan berdampak pada kesehatan masyarakat.

Bagi Haris, keberhasilan aksi tidak diukur dari berapa ton sampah yang diangkat, melainkan dari seberapa banyak kesadaran yang tumbuh.
“Kalau pola pikir tidak berubah, sungai akan terus jadi korban,” tegasnya.

Melalui Puring Roots Fest, kampanye pelestarian lingkungan juga dikemas melalui panggung musik dan seni pada malam harinya, menyasar generasi muda agar isu lingkungan lebih membumi dan tidak eksklusif.

Namun tuntutan kebijakan tetap menjadi sorotan. Komunitas lingkungan berharap pemerintah daerah berani menerbitkan Peraturan Desa (Perdes) atau Peraturan Bupati (Perbup) yang secara spesifik mengatur pengurangan plastik sekali pakai. Tanpa payung hukum yang kuat, ajakan moral dinilai mudah dilupakan.

sungai tampak bersih setelah diberdihkan

Aksi di Kedungwaru menjadi bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil: menolak plastik, membawa tumbler, dan tidak membuang sampah ke sungai.

Namun perubahan sistemik membutuhkan komitmen bersama—pemerintah, komunitas, dan warga.
Sungai bukan sekadar saluran air, melainkan urat nadi kota. Ketika sungai sakit, kota ikut terancam.

Minggu pagi itu, para relawan tidak hanya membersihkan lumpur dan gulma. Mereka menantang budaya abai yang selama ini membiarkan sungai menjadi korban.

Pertanyaannya kini sederhana namun krusial: setelah aksi ini, siapa yang benar-benar mau berubah?

Jurnalis: Pandhu/Rif

Berita Terkait
930 x 180 AD PLACEMENT
Ayo ikut berpartisipasi untuk mewujudkan jurnalistik berkualitas!
Promo Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !