

TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com – Gatut Sunu Wibowo Bupati Tulungagung dan Wakil Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin menggelar acara buka bersama di Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso, Jumat (20/2/2026), Suasana buka puasa bersama menjadi panggung refleksi satu tahun kepemimpinan mereka.

Di hadapan tokoh agama, tokoh masyarakat, relawan, jajaran birokrasi, dan insan pers, keduanya memaparkan capaian, tantangan, sekaligus arah kebijakan ke depan.
Tepat satu tahun memimpin periode 2025–2030, Gatut Sunu menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar mandat politik lima tahunan, melainkan tanggung jawab moral untuk menjawab harapan publik dengan kerja cepat, terukur, dan berdampak nyata.
“Tahun pertama ini bukan tanpa ujian,” ujarnya.
Ujian Fiskal, Langkah Tak Surut
Fase transisi pemerintahan diwarnai kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat yang berdampak pada penyesuaian dana transfer sebesar Rp15 miliar pada 2025. Tekanan fiskal itu berpotensi memperlambat sejumlah agenda prioritas.
Namun, Pemerintah Kabupaten Tulungagung menegaskan tidak mengendurkan langkah.
Di sektor infrastruktur, perbaikan jalan rusak berat diklaim telah mencapai 34 hingga 50 kilometer.
Sementara itu, jaringan irigasi sepanjang 11,08 kilometer dibenahi untuk menopang produktivitas pertanian—sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
“Kami tidak boleh menjadikan keterbatasan anggaran sebagai alasan untuk berhenti bekerja,” tegas Gatut Sunu.
Rekor Anggaran Jalan, Publik Menanti Bukti
Sorotan utama refleksi satu tahun ini adalah lonjakan anggaran infrastruktur jalan pada 2026. Pemerintah daerah mengalokasikan sekitar Rp318 miliar untuk pemeliharaan dan perbaikan jalan—disebut sebagai yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Anggaran tersebut meningkat hampir tiga kali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya, hasil sinergi antara APBD Kabupaten, dukungan APBD Provinsi, serta kebijakan pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto.
Besarnya anggaran itu kini menjadi taruhan kredibilitas. Publik menanti pembuktian di lapangan: kualitas pengerjaan, ketepatan waktu, serta dampak riil terhadap konektivitas antarwilayah.

Pembangunan Tak Hanya Beton dan Aspal
Gatut Sunu menegaskan pembangunan tidak boleh semata berwujud fisik. Pemerintah daerah menyelaraskan program dengan visi “Asta Cita” pemerintah pusat, dengan fokus pada kesejahteraan masyarakat bawah.
Beberapa program yang dipaparkan antara lain:
1. Ketahanan Pangan dan Ekonomi Rakyat: Gerakan pangan murah di 19 kecamatan serta rehabilitasi 11 pasar tradisional.
2. Pengentasan Kemiskinan Ekstrem: Pemasangan instalasi listrik gratis bagi 1.040 warga kategori miskin ekstrem.
3. Pendidikan dan Inklusi Sosial: Perbaikan 94 gedung sekolah serta bantuan alat bagi 385 penyandang disabilitas.
4. Dukungan Program Nasional: Kesiapan menjalankan program makan bergizi gratis dan penguatan operasional pemerintahan desa.
Program-program tersebut, menurutnya, dirancang agar manfaatnya langsung dirasakan masyarakat, bukan sekadar menjadi laporan administratif.
Kritik Dibuka, Persatuan Ditegaskan
Menutup refleksi, Gatut Sunu menyampaikan pesan tegas: pembangunan harus diawasi bersama. Ia mengundang masyarakat ikut mengawal proyek-proyek jalan agar kualitasnya sesuai standar dan tidak sekadar mengejar serapan anggaran.
“Masukan konstruktif sangat kami butuhkan. Pengawasan publik adalah energi untuk memastikan pembangunan berjalan lurus,” ujarnya.
Pesan politik pun ditegaskan: kontestasi telah usai, saatnya seluruh elemen masyarakat bersatu.
Perbedaan pilihan pada masa pilkada tidak boleh lagi menjadi sekat dalambmembangun Tulungagung.
Satu tahun telah dilalui dengan sejumlah capaian dan klaim progres.
Namun tantangan ke depan tetap berat—menjaga konsistensi fiskal, pemerataan pembangunan, serta memastikan setiap rupiah anggaran benar-benar berbuah kesejahteraan.
Rekor anggaran telah dicanangkan. Program telah digulirkan. Kini, publik menunggu satu hal yang paling hakiki: pembuktian nyata hingga ke pelosok desa.
Jurnalis: Pandhu/Rif
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !