
TULUNGAGUNG,HARIAN-NEWS.com – Kilas balik sejarah berdirinya Kabupaten Tulungagung yang ditandai dengan Prasasti Lawadan bahwa pada 18 November 2015 Masehi merupakan tonggak beridirnya Kabupaten Tulungagung, yang sebelumnya pernah bernama Kabupaten Ngrowo.
Saat ini tepatnya 815 (delapan ratus lima belas) tahun berlalu terjadi proses berdirinya Kabupaten yang memiliki sumber daya alam luar biasa berupa batu marmer itu, telah terjadi dinamika masyarakat yang membentuk kebudayaan dan fenomena alamnya membentuk sumber daya alam (potensi) tentu realitasnya terwujud kondisi sosial budaya, ekonomi dan lingkungan seperti saat ini.
Ditilik dari gerak dan tari Reog Kendang dan Busana yang dikenakan para penarinya tampak sekali ada pembauran budaya dari berbagai budaya yang ada di Nusantara ini yang kini menjadi budaya” wong” Tulungagung.
Dari berbagai referensi dan pantauan sosial selama ini, dapat dikatakan masyarakat Tulungagung itu egaliter yang bisa menerima berbagai budaya dan etnis budaya yang berbeda yang begitu mencolok diterimanya budaya dan warga etnis Cina di Tulungagung.
Sikap keterbukaan dan toleransi dan mudah memahami persoalan, tolong menolong tidak mau mencampuri yang bukan urusannya tampak begitu kental di era morednisasi ini.
Hal itu dibuktikan dengan laju pertumbuhan pendudukan yang berasal dari pendatang dari berbagai daerah di Nusantara. Pendatang didomonasi perantau yang berprofesi sebagai pedagang.
Bisa saksikan berbagai menu kuliner dari Nusantara seperti Rumah Makan Padang yang tersebar hingga di pelosok kecamatan, sedikitnya ada 35 rumah makan. Ada juga menu khas Sunda mulai dari Siomay, batagor dan Roti Bakar.
Tentu tidak ketinggalan kuliner khas Madura seperti Rujak Ulek, Soto Babat, Sate ayam dan dari Lamongan, ada Tahu Campur, Ayam, Lele, Bebek Gorengnya.
Dan yang sedang ngetren tumbuhnya angkringan khas Solo bak cendawan di musim hujan.
Dipesisir Selatan banyak nelayan dari Madura, Banyuwangi dan Pasuruan.
Pedagang sepatu, kacamata, farfum dan busana dari perantau Minang. Pedagang alat kebutuhan rumah tangga dari Tasikmalaya Jawa Barat dan masih banyak etnis Nusantara lainnya yang merasa nyaman tinggal dan berusaha di Tulungagung tanpa adanya gangguan dan diskriminasi, semua bisa diterima dengan baik oleh orang Tulungagung.
Pemerintah Kabupaten Tulungagung selalu memperingati Hari Jadi Kabupaten Tulungagung yang tahun ini jatuh pada Hari Rabu, Pasaran Pon, 18 November 2020. Namun pelaksanaannya tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, dikarenakan adanya penerapan protokol kesehatan yang ketat dalam menghadapi pandemi Covid-19.
Yang biasanya diadakan Bersih Nagari dengan kirab Panji-panji Kabupaten Tulungagung dan Buceng Lanang an Buceng Wadon mengelilingi jalan protokol Tulungagung yang startnya dari halaman Kantor Bupati Tulungagung di Jalan A.Yani menuju Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso.
Namun tahun ini cukup dilakukan upacara Bersih Nagari dalam lingkup halaman luar dan dalam Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso.
Yang berbeda adalah ditiadakannya berbagai kegiatan baik itu olah raga, kesnian dan budaya dan berbagai atraksi serta perlombaan lainnya oleh panitia Hari Jadi. Bahkan partisipasi masyarakat pun untuk tahun ini seperti lomba memancing dn olahraga antar lngkugan juga ditiadakan.
Untuk diketahui, Buceng Lanang merupakan tumpeng yang berisi nasi kuning disertai aneka lauk pauk, sedangkan Buceng Wadon berisi hasil bumi pertanian seperti buah dan sayuran.
Saat dikonfirmasi, Bupati Tulungagung Maryoto Bhirowo kepada wartawan, Rabu (18/11/2020), mengungkapkan, ritual Bersih Nagari ini merupakan agenda rutinan tiap tahun dalam memperingati hari jadi Kabupaten Tulungagung.
“Ada dua buceng ini merupakan perwujudan rasa syukur kepada Tuhan YME atas nikmat yang diberikan kepada kita semua. Selain itu Bersih Nagari ini juga bertujuan untuk menghormati jasa-jasa para leluhur terdahulu, seperti bupati terdahulu yang telah berjuang hingga terbentuk pemerintahan Kabupaten Tulungagung seperti sekarang ini,”ungkap Bupati.
Selain itu menurut Bupati, tradisi budaya Bersih Nagari ini dari tahun ke tahun seiring dinamika pembangunan dari sistem pemerintahan selalu meningkat dan hal itu bisa dilihat melalui fisik maupun pranata sosial yang ada di kabupaten Tulungagung.
Bupati juga mengakui jika peringatan hari jadi Tulungagung kali ini berbeda dari tahun yang lalu dikarenakan tidak ada arak-arakan seperti tahun lalu, untuk mencegah terjadinya kerumunan massa yang rentan terjadi penularan virus Covid-19.
“Jika tahun sebelumnya dilaksanakan secara terbuka namun kali ini kita lakukan secara tertutup dan kita batasi dengan menerapkan protokol kesehatan.Dari jumlah instansi yang diundang hanya perwakilan saja,”tambanya.
Bupati berharap di hari jadi kabupaten Tulungagung yang ke 815 ini terkait pelayanan masyarakat akan lebih maju dan meningkat yang mana agar masyarakat bisa merasakan hasil pembangunan.
“Meskipun saat ini masih musim pandemi covid-19 jangan sampai jadi halangan untuk itu mari kita dorong percepatan pemulihan ekonomi secara bersama-sama,”tutupnya.
Masih kata Bupati Maryoto, dengan peringatan ini diharapkan mampu memacu semangat warga masyarakat Kabupaten Tulungagung dalam meningkatkan perekonomian warga Tulungagung dalam situasi pandemi covid-19 seperti saat ini.
“Sehingga bisa memajukan pembangunan Kabupaten Tulungagung kedepan yang menuju Ayem Tentrem Mulyo lan Tinoto,” harapnya.
Upacara Peringatan Hari Jadi dan Bersih Nagari Kabupaten Tulungagung yang 815 ini diikuti oleh Forkopimda, Sekretaris Daerah Tulungagung, Asisten Sekda, Kepala OPD lingkup Pemda Tulungagung, Pejabat Eselon III OPD lingkup Pemda Tulungagung, Camat se Kabupaten Tulungagung, Perwira Kodim 0807/Tulungagung, Perwira Polres Tulungagung, Pimpinan Ormas,. Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Ormas Perempuan , Rektor dan Dekan serta ASn lingkup Pemda Tulungagung. (agp/red)













