KesehatanPemerintahanTulungagung

Dinkes Tulungagung Ingatkan Bahaya Silent Killer

×

Dinkes Tulungagung Ingatkan Bahaya Silent Killer

Sebarkan artikel ini
dr. Desy Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung

TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Di balik ramainya kegiatan masyarakat yang digelar DPD PPNI Tulungagung, tersimpan fakta yang menjadi alarm serius bagi dunia kesehatan di Kabupaten Tulungagung.

Pemeriksaan kesehatan gratis yang dibuka Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung justru menemukan banyak warga hidup dalam ancaman penyakit kronis tanpa pernah menyadarinya, Sabtu (9/5/2026).

Hipertensi dan diabetes menjadi temuan paling dominan dalam layanan pemeriksaan tersebut.

Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman penyakit tidak menular di tengah masyarakat bukan lagi persoalan sepele, melainkan masalah laten yang selama ini sering diabaikan akibat rendahnya kesadaran melakukan pemeriksaan kesehatan rutin.

Kepala Dinas Kesehatan Tulungagung, Desi Lusiana Wardhani, menegaskan layanan cek kesehatan gratis bukan sekadar pelengkap kegiatan atau formalitas semata. Menurutnya, program tersebut merupakan langkah deteksi dini agar masyarakat lebih waspada terhadap penyakit yang sering datang tanpa gejala.
“Banyak warga datang tanpa keluhan, tetapi setelah diperiksa ternyata tekanan darah dan gula darahnya tinggi. Ini berbahaya karena sering kali masyarakat baru sadar ketika kondisinya sudah masuk tahap komplikasi,” ujarnya.

dr. Desi Lusiana Wardhani, S.KM, .M.Kes     Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung

Fenomen tersebut memperlihatkan masih rendahnya budaya pemeriksaan kesehatan rutin di masyarakat. Di sisi lain, pola hidup tidak sehat terus menjadi pemicu meningkatnya kasus hipertensi dan diabetes—dua penyakit yang dikenal sebagai pintu masuk berbagai komplikasi serius seperti stroke, gagal ginjal, hingga serangan jantung.

Hipertensi bahkan dikenal sebagai silent killer karena dapat merusak organ tubuh secara perlahan tanpa gejala yang jelas. Ketika penderita mulai merasakan dampaknya, kondisi kerap sudah terlambat untuk ditangani secara optimal.

Karena itu, Dinkes Tulungagung menegaskan pemeriksaan di lokasi kegiatan hanyalah langkah awal. Seluruh hasil pemeriksaan langsung dimasukkan dalam sistem pemantauan kesehatan daerah.

Warga yang terindikasi memiliki tekanan darah maupun gula darah tinggi diminta segera melakukan pemeriksaan lanjutan ke Puskesmas agar tidak berhenti hanya sebatas mengetahui hasil pemeriksaan.
“Yang paling penting bukan hanya diperiksa, tetapi bagaimana masyarakat mau melanjutkan pengobatan dan mengubah pola hidupnya,” tambah Dr. Desi.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa masyarakat masih cenderung datang ke fasilitas kesehatan hanya ketika sakit parah. Padahal, beban terbesar layanan kesehatan saat ini justru berasal dari penyakit kronis yang sebenarnya dapat dicegah melalui deteksi dini dan perubahan pola hidup sehat.

Dinkes Tulungagung menargetkan sekitar 46 persen penduduk atau hampir 500 ribu jiwa dapat terjangkau program cek kesehatan gratis dalam satu tahun. Target tersebut menjadi bagian dari implementasi program kesehatan nasional sekaligus upaya menekan laju peningkatan penyakit tidak menular.

Namun, target besar itu bukan tanpa tantangan. Rendahnya kesadaran masyarakat, pola hidup tidak sehat, hingga kebiasaan mengabaikan gejala awal penyakit masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.

Untuk memperluas jangkauan layanan, Dinkes memastikan pemeriksaan kesehatan gratis tersedia setiap hari di seluruh Puskesmas di Tulungagung. Pemerintah juga membuka kolaborasi dengan berbagai komunitas dan penyelenggara kegiatan masyarakat agar layanan kesehatan dapat hadir langsung di tengah aktivitas publik.

Langkah jemput bola tersebut dinilai penting, sebab ancaman terbesar bukan hanya penyakit itu sendiri, melainkan ketidaktahuan masyarakat bahwa mereka sebenarnya sedang berada dalam risiko.

Di tengah meningkatnya kasus hipertensi dan diabetes, pesan Dinkes Tulungagung terdengar jelas: merasa sehat bukan berarti tubuh benar-benar aman. Tanpa pemeriksaan rutin, banyak warga sesungguhnya sedang berjalan perlahan menuju ancaman penyakit mematikan tanpa pernah menyadarinya.

Jurnalis : Pandhu