
TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com – Menjelang bulan suci Ramadhan 1446 H Tahun 2025, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Tulungagung kembali menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di Jalan Raya Wonorejo, Krandekan, Wonorejo, Kecamatan Sumbergempol.
Program ini bertujuan menstabilkan pasokan dan harga pangan serta mengendalikan inflasi, khususnya menjelang hari besar keagamaan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Tulungagung Agus Suswantoto, S. Sos, M. Si melalui Kepala Bidang Distribusi dan Cadangan Pangan , Hari Pujianto, menjelaskan, kegiatan ini rutin dilaksanakan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri untuk memastikan ketersediaan bahan pangan berkualitas dengan harga terjangkau bagi masyarakat.
Menurut Hari, GPM merupakan salah satu strategi pengendalian harga yang diterapkan oleh dinas. Selain itu, pihaknya juga mengintensifkan panel harga pangan, yaitu pemantauan harga bahan pangan di enam pasar besar di Tulungagung setiap hari. Dari hasil pemantauan tersebut, pemerintah dapat mengidentifikasi komoditas yang mengalami fluktuasi harga dan melakukan intervensi melalui GPM maupun operasi pasar.
“Gerakan ini bertujuan menstabilkan harga dengan memotong rantai distribusi, mendekatkan produsen langsung ke konsumen. Dengan cara ini, harga bisa lebih murah dibanding harga pasar,” ujarnya.
Bahan pangan yang dijual dalam GPM meliputi beras, minyak goreng, gula pasir, cabai rawit, cabai merah, telur, dan ayam. Komoditas ini disuplai dari berbagai distributor dan produsen, termasuk Bulog, kelompok binaan Lembaga Usaha Pangan Masyarakat (LUPM), serta kelompok peternak yang bekerja sama dengan Dinas Peternakan.
“Kami menggandeng berbagai pihak, termasuk Bulog untuk beras, distributor minyak goreng, hingga kelompok tani untuk menyediakan sayur dan cabai ini, harga bahan pangan bisa lebih stabil dan terjangkau,” tambahnya.
Masyarakat menyambut positif program ini. Setiap kali digelar, GPM selalu mendapat respons antusias dari warga, terutama masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah.
“Di mana pun GPM dilaksanakan, antusiasme masyarakat selalu tinggi. Program ini sangat membantu, terutama bagi mereka yang membutuhkan bahan pangan dengan harga lebih murah dari pasar,” ungkap Hari.
Namun, untuk menjaga pemerataan, dinas menerapkan pembatasan pembelian pada komoditas tertentu. Misalnya, setiap warga hanya diperbolehkan membeli maksimal 1 kg telur dan 1-2 kg cabai rawit per orang. Hal ini dilakukan untuk menghindari aksi panic buying dan memastikan semua warga mendapatkan kesempatan yang sama.
GPM tidak hanya dilakukan menjelang Ramadhan, tetapi juga akan terus berlanjut pada momen hari besar keagamaan nasional lainnya, seperti Idul Fitri, Idul Adha, dan Natal-Tahun Baru (Nataru).
“Program ini sudah menjadi agenda rutin dan akan terus kami laksanakan dengan berkoordinasi bersama berbagai stakeholder untuk menjamin stabilitas pasokan dan harga pangan,” kata Hari.
Ia juga menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir akan stok pangan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. “Tidak perlu panik membeli dalam jumlah besar. Pemerintah memastikan stok pangan cukup dan harga tetap stabil,” tutupnya.
Dengan adanya Gerakan Pangan Murah, diharapkan masyarakat Tulungagung dapat memenuhi kebutuhan pangan dengan harga yang lebih terjangkau, sehingga tidak terbebani oleh lonjakan harga menjelang bulan suci Ramadhan.