
TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Di tengah derasnya arus modernisasi, warga Desa Ngrendeng, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, kembali meneguhkan jati diri leluhur melalui tradisi sakral Merti Dusun atau Bersih Desa, Jumat (1/5/2026).
Bertempat di Balai Desa Ngrendeng, rangkaian acara berlangsung khidmat, sarat nilai spiritual, sekaligus menjadi ruang perekat sosial masyarakat.
Suasana malam penuh kehangatan menyelimuti kegiatan tahunan tersebut. Warga dari berbagai kalangan tampak antusias mengikuti setiap prosesi yang bukan sekadar seremoni adat, melainkan lambang rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat kesehatan, keselamatan, dan rezeki yang telah diberikan.
Kepala Desa Ngrendeng, Nurjiman, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menggunakan bahasa Jawa Krama Inggil yang halus dan penuh makna.

Ia menegaskan bahwa Merti Dusun merupakan wujud nyata donga sukur masyarakat atas limpahan berkah yang dirasakan selama ini.
“Melalui kegiatan ini, kita memanjatkan doa agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar, terhindar dari segala mara bahaya, serta masyarakat senantiasa diberi kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan,” ujarnya.
Sebagai puncak acara, digelar pertunjukan wayang kulit dengan lakon Kembalinya Dewi Sri. Lakon tersebut mengandung filosofi kehidupan agraris yang menggambarkan harapan akan tanah yang subur, ketahanan pangan, dan hasil panen melimpah. Dalam budaya Jawa, Dewi Sri dikenal sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan.
Menurut Nurjiman, pemilihan wayang kulit bukan hanya hiburan rakyat, tetapi juga media pendidikan karakter. “Wayang adalah tontonan sekaligus tuntunan. Nilai-nilai kehidupan di dalamnya harus terus diwariskan,” tegasnya.
Rangkaian kegiatan Merti Dusun juga memadukan harmoni nilai religius dan adat istiadat. Prosesi diawali doa bersama di Punden Sentono Sari sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, dilanjutkan Khotmil Al-Qur’an pada pagi hari, lalu ditutup ruwatan dan pagelaran wayang pada malam harinya.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Camat Gondang Endra Kusriawan, S.STP., M.Si., yang mengapresiasi kekompakan warga dalam menjaga tradisi di tengah perubahan zaman.
“Ini bukti nyata bahwa semangat guyub rukun masih hidup. Tradisi seperti ini bukan hanya menjaga budaya, tetapi juga memperkuat persatuan masyarakat,” ungkapnya.
Namun, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga sopan santun di tengah perkembangan era digital.
Menurutnya, peran orang tua sangat penting dalam menanamkan adab dan tata krama kepada generasi muda sejak dini.
“Jika kita lengah, bukan tidak mungkin suatu saat generasi kita harus belajar budaya sendiri ke luar negeri. Ini harus menjadi peringatan bagi kita semua,” tegasnya.

Pesan senada disampaikan Kepala Desa Nurjiman. Ia menekankan bahwa kemajuan zaman tidak boleh mengikis nilai luhur budaya Jawa yang diwariskan turun-temurun.
“Budaya adalah identitas. Jangan sampai hilang. Justru harus kita jaga, kita hidupkan, dan kita wariskan,” pesannya.
Ke depan, Pemerintah Desa Ngrendeng berkomitmen menjadikan agenda Bersih Desa tidak hanya sebagai pelestarian budaya, tetapi juga penggerak sosial dan ekonomi masyarakat.
Malam itu, di bawah gemuruh gamelan dan bayang-bayang wayang di atas kelir, Desa Ngrendeng tidak sekadar merawat tradisi. Mereka sedang menanam akar kebersamaan, menyiram warisan leluhur, dan memanen harapan masa depan yang lebih sejahtera.
Jurnalis: Pandhu













