

Semangat Literasi Dorong Siswa dan Guru SMPN 2 Campurdarat Berkarya
HARIAN-NEWS.COM (TULUNGAGUNG) – Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Campurdarat memberikan ruang pada pengembangan kreativitas siswa dan guru untuk membangkitkan semangat literasi.
Dengan mengembangkan keunggulan dalam literasi yang dimulai dari membaca hingga menulis yang akhirnya mengantarkan karya siswa berupa analogi cerpen menjadi juara di tingkat nasional.
Tentu prestasi ini menambah prestasi akademik dan non akademik oleh para siswanya.
Bidang akademik di antaranya Juara 3 lomba Sains tingkat kabupaten, dan Juara 1 lomba Cerpen tingkat nasional. Sedangkat dalam lomba non akademik di antaranya olahraga lempar lembing, sepak takraw dan lain-lainnya.
Meski letak sekolahan terletak di wilayah pinggiran yang fasilitasnya masih tertinggal dari sekolahan yang ada di kota, tetapi tidak menghalangi para siswa sekolah tersebut untuk meraih prestasi.

Terbukti dari hasil dalam meraihnya juara 1 lomba cerpen tingkat nasional yang diadakan oleh Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional pada bulan Maret lalu.
Lomba tersebut diikuti sekitar 620 sekolah di Indonesia. Dengan karya yang turut berlomba ada sekitar 600 ribu lebih. Karena pengiriman lomba ini minimal 50 artikel, di setiap kategorinya. Dan setiap sekolahan ada yang mengikuti beberapa kategori.
Hal ini bermula saat Retno Amirawati Guru Bahasa Indonesia di sekolah ini, mengajak para siswa/siswi sadar akan pentingnya literasi.
Retno mengawali dengan adanya materi menulis cerpen dan puisi di kelas 9. Hasil puisi dan cerpen karya anak didiknya itupun dikumpulkan satu persatu, diseleksi yang bagus bagus untuk dijadikan buku.
“Dalam pembelajaran di kelas 9 ada materi menulis cerpen, dan hasilnya saya kumpulkan, kemudian saya seleksi yg bagus-bagus. Niatnya akan saya bukukan menjadi analogi puisi dan analogi cerpen,” ucap Retno
“Seiring berjalanya waktu saya kirimkan ke temen saya seorang pegiat literasi, untuk meminta tolong agar di bantu dalam penerbitan menjadi buku. Namun justru saya disarankan untuk mengikutkan dalam lomba gerakan sokalah menulis buku nasional,” imbuhnya.
“Adapun dari 2 buku yang mau diterbitkan antologi puisi dan antalogi cerpen. Saya hanya mengikutkan lomba untuk antologi cerpen saja. antologi puisinya tidak saya ikutkan lomba karena keterbatasan biaya, yang cukup tinggi,” terang Retno
Retno juga menyampaikan salah satu kesuksesan ini didapatkan dengan cara pendeketan emosional terhadap para murid. Lalu memberikan motivasi dan memberikan monitoring terhadap murid yang mau menulis.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !