
TULUNGAGUNG, HARIAN NEWS – Pelantikan Dr. Dian Septi Nur Afifah, M.Pd. sebagai Rektor Universitas Bhinneka PGRI (UBHI) Tulungagung periode 2026–2030 menandai dimulainya agenda transformasi kampus yang lebih komprehensif.
Tidak hanya berfokus pada penguatan akademik, kepemimpinan baru UBHI juga mengusung percepatan digitalisasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan kemitraan industri, hingga target menghadirkan Guru Besar pertama dalam sejarah universitas.
Dilantik di Auditorium UBHI Tulungagung, Sabtu (6/6/2026), Dr. Dian menegaskan bahwa pengembangan tata kelola organisasi akan menjadi langkah awal untuk memperkuat fondasi institusi.

Namun demikian, transformasi kampus menurutnya harus dimulai dari peningkatan kualitas dosen dan tenaga kependidikan sebagai motor utama perubahan.
“Kampus harus menjadi ruang akademik yang ramah, profesional, dan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada mahasiswa maupun masyarakat. Karena itu, kualitas sumber daya manusia menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Selain penguatan SDM, UBHI juga akan melakukan penyesuaian kurikulum agar selaras dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang. Evaluasi kurikulum dilakukan dengan melibatkan praktisi dan pelaku industri sehingga lulusan memiliki kompetensi yang relevan dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, kerja sama dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) akan diperluas melalui penguatan program magang, keterlibatan praktisi dalam perkuliahan, serta kolaborasi dalam penyusunan kurikulum.
Transformasi digital turut menjadi agenda prioritas. UBHI akan mempercepat digitalisasi layanan akademik dan administrasi, disertai peningkatan kapasitas teknologi bagi dosen dan tenaga kependidikan guna mendukung efektivitas proses pembelajaran.
Pada sektor akademik, UBHI menargetkan peningkatan jumlah program studi berakreditasi unggul. Selain itu, universitas juga tengah menunggu proses pembukaan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) bidang Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang saat ini masih berada pada tahap pleno kementerian.
Target strategis lainnya adalah menghadirkan Guru Besar pertama dalam sejarah UBHI. Menurut Dr. Dian, sejumlah dosen telah memenuhi syarat akademik dan tengah menyelesaikan tahapan administrasi serta publikasi ilmiah yang diperlukan.
“Kami optimistis target tersebut dapat diwujudkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan reputasi akademik UBHI,” katanya.

Di samping berbagai program strategis tersebut, Dr. Dian menegaskan pentingnya membangun budaya akademik yang sehat melalui forum-forum ilmiah, ruang dialog yang terbuka antara dosen dan mahasiswa, serta penguatan tradisi berpikir kritis di lingkungan kampus.
Baginya, kemajuan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari aspek fisik maupun jumlah mahasiswa, tetapi juga dari tumbuhnya budaya intelektual yang hidup dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan.
Dengan arah kebijakan yang terukur dan visi pengembangan yang jelas, kepemimpinan baru UBHI diharapkan mampu membawa kampus menuju perguruan tinggi yang semakin unggul, adaptif, inklusif, dan berdaya saing di tingkat nasional.
Jurnalis: Pandhu













