

BANGKALAN, HARIAN-NEWS.com – Penyangdang disabilitas yang masih usia pelajar sangat membutuhkan adanya sekolah inklusi di Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan, Hal itu disampaikan oleh Thoher orangtua dari penyangdang difabel asal Dusun Masaran, Desa Togubang, Kecamatan Geger, Bangkalan.
Thoher menyampaikan, adanya stigma tentang difabel itu membuat masyarakat sulit percaya pada kemampuan difabel untuk dilibatkan pada kegiatan publik. Hal itu, akhirnya membatasi kesempatan mereka untuk melibatkan diri.
Padahal, setiap penyandang disabilitas memiliki karakteristik dan kemampuan tersendiri yang layak untuk dilibatkan dalam kegiatan masyarakat pada umumnya. Apalagi, saat ini banyak lembaga yang berupaya memberikan bantuan agar kaum difabel dapat lebih terlatih.
Namun, Thoher selaku peran orang tua tidak menampik, presentase penempatan kaum difabel terlatih di lapangan kerja pun memang belum banyak.
Menurutnya, masih sedikit kalangan yang mempercayakan kaum difabel untuk menjadi salah satu pekerja ataupun sekolah Ditambah lagi, masih banyak kaum difabel yang belum begitu terbuka dengan kehidupan normal.
”Makanya, sebaiknya program pelatihan bagi kaum difabel diperbanyak dan diintensifkan lagi. Agar kemampuan mereka berkembang dan memiliki kepercayaan diri yang semakin tinggi ke depannya,” ujarnya.
Semakin besar kesempatan kaum difabel bersekolah, maka semakin besar pula peluang mereka untuk bekerja berterampil. Thoher menilai, ketika peningkatan kemampuan difabel terfokus, ke depannya mereka pun dapat ditempatkan sesuai dengan kemampuan dan keterampilan.
Terlebih, peraturan pemerintah menetapkan bahwa penyandang cacat atau difabel berhak memperoleh kesempatan kerja. Sekurang-kurangnya, perusahaan pun diharuskan mempekerjakan 1% difabel dari jumlah seluruh pekerja.
Sementara itu, Ketua Yayasan Purnama Cipanas Khudhori mengatakan, masa depan kaum difabel perlu diperjelas dengan bantuan peran masyarakat.
Sebagai salah satu yayasan yang membawahi sekolah luar biasa (SLB), ia mengharapkan kaum difabel dapat diterima dengan melihat kemampuan mereka dalam bermasyarakat.
”Jaminan selepas sekolah memang belum ada, tapi kami tidak lepas tangan. Mereka harus terus dibina dan dipastikan mendapatkan tempat dalam masyarakat. Itu mengapa, kami peran orang tua berupaya melatih mereka di sekolah,” ujarnya.
Ia juga ingin, kaum difabel dapat lebih mandiri dalam perkembangan jaman saat ini. Dan bisa lebih dipertimbangkan oleh pemerintah. Pasalnya, tidak seharusnya kaum difabel terus menerus bergantung pada banyak pihak sementara ia mampu untuk dilatih dan terjun langsung ke lapangan.
Dengan memberikan mereka kesempatan melatih keterampilan, melalui melukis, bertani, membuat cinderamata, hingga furniture.
”Kami berupaya membimbing mereka untuk semakin siap berhadapan dengan dunia luar. Hingga saat ini, alumni sekolah pun sudah diterima di beberapa lokasi, dan terus menghasilkan siswa yang bertalenta,” katanya.
Dengan bekerjasama dengan sejumlah dinas, dan tempat lapangan pekerjaan. Diharapkan, publik semakin percaya jika kaum difabel pun layak untuk berada di dalam kegiatan masyarakat pada umumnya.
Jurnalis : Choirul Anwar
Editor : Mas Edit
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !