HiburanLegislatifTulungagung

Wayang Jemblung Jadi Panggung Jairi Irawan  Bicara Regenerasi Seni

×

Wayang Jemblung Jadi Panggung Jairi Irawan  Bicara Regenerasi Seni

Sebarkan artikel ini
Sambutan Plt. Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin saat pementasan Wayang Jemblung.

Wayang Jemblung Jadi Panggung Jairi Irawa  Bicara Regenerasi Sen

TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com – Pelestarian kesenian tradisional di Tulungagung tidak cukup hanya dengan menggelar pertunjukan. Regenerasi seniman menjadi persoalan penting yang harus segera mendapat perhatian pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan kebudayaan.

Pesan tegas itu disampaikan Ketua DPD Partai Golkar Tulungagung sekaligus Wakil Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Jairi Irawan, S.Hum., M.Kp., saat pagelaran Wayang Jemblung di halaman Kantor DPD Partai Golkar Tulungagung, Sabtu (19/9/2026) malam.

Menurut Jairi, Wayang Jemblung, Jaranan, Ketoprak dan berbagai kesenian tradisional lainnya masih memiliki panggung. Namun, keberlangsungannya akan menghadapi persoalan serius jika tidak diikuti munculnya generasi baru yang mau terlibat sebagai pelaku seni.

“Jangan sampai kita masih memiliki panggung, tetapi tidak memiliki generasi yang akan naik ke panggung itu.”

Jairi menyoroti kondisi sejumlah kesenian tradisional yang pelakunya semakin didominasi kelompok usia lanjut. Karena itu, regenerasi harus menjadi bagian penting dari strategi pelestarian budaya.

Seniman Butuh Ruang

Selain regenerasi, Jairi mendorong Pemerintah Kabupaten Tulungagung menyediakan ruang publik yang bisa digunakan para seniman untuk berkumpul, berlatih, berekspresi hingga menggelar pertunjukan.

Salah satu gagasan yang disampaikan yakni menetapkan ruas jalan atau kawasan tertentu sebagai ruang publik untuk aktivitas seni dan budaya.

Menurut Jairi, keberadaan ruang semacam itu bukan hanya memberikan kesempatan masyarakat menikmati kesenian, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal dan kemudian terlibat dalam kesenian daerah.

“Kalau ingin kesenian hidup, senimannya harus diberikan ruang,” tegasnya.

Gagasan tersebut menempatkan pemerintah tidak sekadar sebagai pemberi dukungan saat festival atau kegiatan seremonial, tetapi juga sebagai pihak yang ikut membangun ekosistem agar kesenian dapat terus hidup.

Kantor Golkar Dibuka untuk Seniman

Upaya membuka ruang ekspresi juga dilakukan DPD Partai Golkar Tulungagung. Jairi menyampaikan, pihaknya secara rutin menggelar pertunjukan seni setiap tiga bulan.

Rangkaian tersebut diawali kesenian Hadrah pada Maret, Jaranan pada Juni, Wayang Jemblung pada September, dan direncanakan dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian lainnya pada Desember.

Kantor DPD Partai Golkar Tulungagung juga diarahkan memiliki fungsi sosial yang lebih luas, yakni sebagai rumah aspirasi, pusat informasi, dan ruang ekspresi.

Sebagai rumah aspirasi, masyarakat maupun kepala desa dapat menyampaikan persoalan dan usulan. Sedangkan sebagai pusat informasi, masyarakat dapat memperoleh pendampingan terkait informasi pelayanan pemerintah dan validasi data tertentu.

Untuk fungsi ruang ekspresi, komunitas seni dipersilakan menggunakan fasilitas tersebut secara gratis untuk latihan maupun pementasan.

Baharudin: Seni Bukan Sekadar Hiburan

Pagelaran Wayang Jemblung tersebut turut dihadiri Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin, perwakilan Fraksi Golkar DPRD Tulungagung Asrori, Kepala Dinas terkait Candra, perwakilan MN KAHMI Royo, insan pers dan para seniman.

Dalam sambutannya, Ahmad Baharudin mengapresiasi penyelenggaraan pagelaran tersebut.

Menurutnya, kesenian tradisional tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Pertunjukan seni juga dapat menjadi media pendidikan, penyampaian pesan moral sekaligus refleksi kehidupan masyarakat.

Malam itu, kelompok seniman membawakan lakon “Damarwulan Ngawulo”. Baharudin mengaitkan cerita tersebut dengan nilai pengabdian.

Menurutnya, kata ngawulo mengandung pesan bahwa seseorang yang mendapat amanah harus bersedia mengabdikan diri kepada masyarakat.

“Lakon seperti ini bukan hanya untuk ditonton. Ada nilai yang bisa kita ambil tentang pengabdian,” ujarnya.

Dari Panggung, Menjadi Gerakan Kebudayaan

Pesan dari panggung Wayang Jemblung malam itu akhirnya tidak berhenti pada pertunjukan.

Ada persoalan regenerasi yang harus dijawab. Ada ruang publik yang perlu diperbanyak. Dan ada generasi muda yang perlu kembali didekatkan dengan kesenian daerah.

Jairi melihat seni juga dapat menjadi ruang pertemuan masyarakat di tengah perbedaan pandangan yang muncul dalam kehidupan sosial maupun politik.

Melalui kesenian, kata dia, masyarakat dapat membangun kebersamaan dan menghaluskan hati. Pesan tersebut kemudian diwujudkan melalui tembang “Pepeling” yang dibawakan Ki Muselam atas permintaan Jairi.

Tantangan terbesar pelestarian budaya, pada akhirnya, bukan sekadar memastikan pertunjukan tetap berlangsung. Tetapi memastikan ada generasi penerus yang siap melanjutkan tradisi ketika para pelaku seni saat ini tidak lagi mampu berdiri di atas panggung.

Persoalan regenerasi itulah yang menjadi pekerjaan bersama pemerintah, komunitas seni, masyarakat dan generasi muda Tulungagung.

Jurnalis: Pandhu