WAWANCARA EKSKLUSIF HARIAN-NEWS.com dengan DR. Ir. H. Heru Tjahjono, M.M., tentang Stunting Turun, 9,3 Persen Balita Tulungagung Masih Kekurangan Gizi
TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com – Penurunan prevalensi stunting di Kabupaten Tulungagung hingga 5,12 persen menjadi capaian positif dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan anak. Namun, keberhasilan tersebut belum sepenuhnya menjawab persoalan gizi masyarakat. Pasalnya, prevalensi balita dengan berat badan kurang (underweight) masih mencapai 9,3 persen.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi Golkar, Dr. Ir. H. Heru Tjahjono, M.M. Menurutnya, penurunan angka stunting harus diikuti penguatan intervensi gizi secara menyeluruh. Pemerintah tidak boleh hanya berorientasi pada capaian angka, tetapi harus memastikan setiap anak memperoleh hak untuk tumbuh sehat dan berkembang optimal.
Dalam wawancara eksklusif bersama wartawan Harian-News.com, Pandhu, Sabtu (7/11/2026), Heru memaparkan sejumlah persoalan mendasar dalam percepatan penurunan stunting. Mulai dari pencegahan sejak hulu, optimalisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), penguatan peran Posyandu, hingga pentingnya sanitasi dan pengawasan program.
Berikut petikan wawancaranya:
Harian-News.com: Angka stunting di Tulungagung turun menjadi 5,12 persen. Bagaimana Anda melihat capaian ini?
Heru Tjahjono: Tentu ini patut diapresiasi. Artinya, ada upaya dan kerja bersama yang mulai menunjukkan hasil. Tetapi kita tidak boleh terlena. Sebab, masih ada persoalan gizi lain yang membutuhkan perhatian serius.
Data yang menunjukkan angka underweight atau balita dengan berat badan kurang mencapai 9,3 persen harus menjadi perhatian kita bersama. Jangan sampai kita hanya melihat keberhasilan dari penurunan stunting, sementara persoalan kekurangan gizi masih terjadi.
Harian-News.com: Apa yang harus menjadi perhatian pemerintah setelah capaian tersebut?
Heru Tjahjono: Yang harus diperkuat adalah pencegahan sejak awal. Penanganan stunting tidak bisa hanya dimulai ketika anak sudah mengalami gangguan pertumbuhan.
Intervensi harus dilakukan sejak masa remaja, persiapan calon pengantin, kehamilan, persalinan, hingga 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Semua tahapan ini harus mendapatkan pendampingan yang konsisten.
Kalau sejak awal sudah terlihat ada anak yang berisiko mengalami kekurangan gizi, harus segera dilakukan intervensi. Jangan menunggu sampai kondisinya berkembang menjadi stunting.
Harian-News.com: Seberapa penting peran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam mendukung upaya tersebut?
Heru Tjahjono: MBG merupakan salah satu instrumen pemerintah untuk meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat. Program ini diharapkan dapat mendukung kelompok yang membutuhkan perhatian khusus, terutama ibu hamil, ibu menyusui, dan balita atau kelompok 3B.
Dalam pelaksanaannya, Badan Gizi Nasional (BGN) perlu bersinergi dengan berbagai unsur di lapangan. Ada kader Posyandu, Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB), dan Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) yang memiliki jangkauan sampai tingkat desa dan kelurahan.
Namun, yang paling penting adalah memastikan program ini tepat sasaran, kualitas makanannya terjaga, kandungan gizinya sesuai kebutuhan, dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Harian-News.com: Bagaimana memastikan program tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan penyaluran bantuan?
Heru Tjahjono: Harus ada pengawasan dan evaluasi. Program sebesar MBG tidak cukup hanya diukur dari jumlah makanan yang dibagikan atau banyaknya penerima manfaat.
Kita harus melihat dampaknya terhadap kondisi kesehatan dan perkembangan anak. Apakah berat badannya meningkat? Apakah tinggi badannya bertambah sesuai tahapan pertumbuhan? Bagaimana perkembangan status gizinya?
Laporan kader Posyandu di lapangan memang menunjukkan adanya perkembangan positif pada sejumlah bayi dan balita yang mendapatkan intervensi. Ada yang mengalami peningkatan lingkar lengan, pertumbuhan tinggi badan, serta kondisi kesehatan yang lebih baik.
Tetapi semua itu harus didukung pengukuran dan pencatatan yang konsisten. Data harus menjadi dasar evaluasi agar kita mengetahui apakah intervensi yang diberikan benar-benar efektif.
Harian-News.com: Berarti Posyandu memiliki peran strategis dalam penanganan masalah gizi?
Heru Tjahjono: Sangat strategis. Posyandu merupakan salah satu ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat. Kader Posyandu berada dekat dengan keluarga sehingga dapat membantu mendeteksi lebih awal apabila ada bayi atau balita yang mengalami masalah pertumbuhan.
Karena itu, kapasitas kader harus terus diperkuat. Pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar lengan, serta pemantauan perkembangan anak harus dilakukan secara rutin.
Kalau ditemukan anak yang pertumbuhannya tidak sesuai standar, harus segera ditindaklanjuti oleh tenaga kesehatan. Jangan sampai ada anak berisiko yang tidak terpantau.
Harian-News.com: Apakah penanganan stunting cukup melalui pemenuhan makanan bergizi?
Heru Tjahjono: Tidak cukup. Pemenuhan gizi memang penting, tetapi harus didukung lingkungan yang sehat.
Sanitasi, ketersediaan jamban sehat, kebersihan rumah, dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga sangat menentukan. Anak yang tinggal di lingkungan tidak sehat lebih rentan mengalami gangguan kesehatan yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan penyerapan gizinya.
Jadi, persoalan stunting bukan hanya urusan Dinas Kesehatan. Harus ada keterlibatan pemerintah daerah, pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader Posyandu, dan keluarga.
Semua harus bergerak bersama. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.
Harian-News.com: Apa pesan Anda kepada pemerintah daerah dalam memperkuat kebijakan penanganan stunting?
Heru Tjahjono: Pemerintah daerah harus memastikan seluruh program berjalan terintegrasi dan berkelanjutan. Jangan hanya mengejar capaian angka, tetapi pastikan persoalan di tingkat keluarga benar-benar ditangani.
Evaluasi program MBG, ketepatan penerima manfaat, kualitas pendampingan Posyandu, dan perkembangan status gizi anak harus dilakukan secara terukur.
Kalau ada anak yang mengalami kekurangan gizi, harus diketahui penyebabnya. Apakah karena asupan makanan, kondisi ekonomi keluarga, sanitasi, pola asuh, atau faktor kesehatan lainnya. Dengan mengetahui penyebabnya, intervensi bisa lebih tepat.
Harian-News.com: Bagaimana kaitan keberhasilan penanganan stunting dengan target Generasi Emas Indonesia 2045?
Heru Tjahjono: Ini sangat berkaitan. Anak-anak yang saat ini masih berusia enam bulan sampai satu tahun kelak akan menjadi bagian dari generasi produktif Indonesia.
Karena itu, kita harus memastikan mereka tumbuh sehat, mendapatkan asupan gizi yang baik, dan memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai.
Generasi Emas 2045 tidak cukup hanya menjadi slogan. Harus dipersiapkan sejak sekarang melalui kebijakan yang nyata dan konsisten.
Harian-News.com: Apa yang menjadi ukuran keberhasilan sesungguhnya dari seluruh program penanganan stunting dan gizi anak?
Heru Tjahjono: Ukurannya sederhana, tetapi membutuhkan keseriusan semua pihak. Anak-anak harus tumbuh sehat, status gizinya membaik, dan tidak ada lagi anak berisiko yang luput dari perhatian.
Penurunan stunting menjadi 5,12 persen merupakan capaian yang baik. Tetapi angka underweight 9,3 persen mengingatkan kita bahwa pekerjaan belum selesai.
Jangan sampai kita merasa berhasil hanya karena angka stunting turun. Yang paling penting adalah bagaimana setiap anak mendapatkan haknya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Harian-News.com: Jadi, apa pesan utama yang ingin Anda sampaikan kepada seluruh pemangku kepentingan?
Heru Tjahjono: Mari kita jadikan persoalan gizi anak sebagai tanggung jawab bersama. Pemerintah harus hadir melalui kebijakan dan pelayanan yang berkualitas. Tenaga kesehatan dan kader harus aktif melakukan pendampingan. Keluarga juga harus memahami pentingnya pemenuhan gizi, pola asuh, dan lingkungan sehat.
Kita ingin anak-anak Tulungagung tumbuh sehat dan menjadi generasi yang berkualitas. Itu membutuhkan kerja nyata, bukan sekadar program dan angka statistik.
Jurnalis: Pandhu
Harian-News.com













