TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung memperkuat upaya deteksi dini penyakit tidak menular (PTM), khususnya hipertensi dan diabetes, yang kini semakin mengancam kelompok usia produktif. Skrining terhadap 300.000 hingga 400.000 warga ditargetkan untuk menemukan kasus lebih awal sekaligus mempercepat penanganan medis.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Dr. Desi Lusiana Wardhani, S.KM., M.Kes., menegaskan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk mengendalikan risiko penyakit kronis. Menurutnya, perubahan pola penyakit dalam 10 hingga 20 tahun terakhir menunjukkan bahwa PTM tidak lagi identik dengan kelompok lanjut usia.
“Sekitar 34–35 persen penduduk Indonesia mengalami hipertensi,” ungkap Desi saat diwawancarai secara eksklusif oleh Harian News, Minggu (1/11/2026).
Menurut Desi, tingginya angka hipertensi menjadi perhatian serius karena penyakit tersebut kerap tidak menunjukkan gejala yang mudah dikenali. Tanpa pemeriksaan rutin, seseorang dapat tidak menyadari tekanan darahnya telah melampaui batas normal hingga muncul komplikasi.
Ancaman PTM juga tidak hanya berkaitan dengan kondisi kesehatan individu. Penyakit kronis yang tidak terdeteksi dan tidak terkendali dapat menurunkan kualitas hidup, mengganggu produktivitas masyarakat, serta meningkatkan beban pembiayaan kesehatan.
Karena itu, Dinkes Tulungagung mendorong perubahan pendekatan pelayanan kesehatan. Pemeriksaan tidak cukup dilakukan ketika masyarakat sudah merasakan keluhan, tetapi perlu diperkuat melalui skrining dan pencegahan secara terencana.
Target skrining terhadap 300.000 hingga 400.000 warga menjadi salah satu langkah yang disiapkan untuk memperluas jangkauan deteksi dini. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi tantangan berupa rendahnya kesadaran sebagian masyarakat untuk memeriksakan kesehatan secara berkala.
Bagi Dinkes, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh besarnya target pemeriksaan. Warga yang terdeteksi memiliki faktor risiko atau penyakit juga harus memperoleh tindak lanjut medis agar hasil skrining benar-benar berdampak terhadap kondisi kesehatan mereka.
Desi menekankan bahwa penanganan hipertensi membutuhkan komitmen jangka panjang. Pasien harus menjalani pengobatan dan pemantauan secara berkelanjutan sesuai anjuran tenaga medis, bukan menghentikan perhatian terhadap kesehatannya ketika keluhan mulai berkurang.
Selain memperkuat skrining, Dinkes Tulungagung mendorong Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Upaya tersebut mencakup aktivitas fisik, konsumsi makanan bergizi seimbang, penerapan pola hidup sehat, dan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Warga yang terdeteksi mengalami hipertensi maupun diabetes akan mendapatkan tindak lanjut melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), termasuk Puskesmas. Apabila kondisi pasien membutuhkan pelayanan lebih kompleks, rujukan dilakukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut sesuai indikasi medis.
Perkuat Pengendalian TBC
Di samping ancaman PTM, Dinkes Tulungagung juga memperkuat upaya pengendalian tuberkulosis (TBC). Penyakit menular melalui udara ini membutuhkan penemuan kasus secara cepat, terutama pada kelompok masyarakat yang memiliki risiko penularan lebih tinggi.
Dinkes Tulungagung telah mengalokasikan sekitar 13.000 alat tes TBC yang diprioritaskan bagi kelompok berisiko. Langkah tersebut disertai penelusuran kontak erat atau contact tracing untuk mengidentifikasi kemungkinan penularan dari penderita kepada orang-orang di sekitarnya.
Lingkungan pondok pesantren dan asrama turut menjadi perhatian karena intensitas interaksi antarindividu relatif tinggi. Pemeriksaan terhadap kelompok berisiko diperlukan agar kasus dapat ditemukan lebih awal dan segera ditangani.
Meski demikian, pengendalian TBC tidak cukup hanya dengan menyediakan alat pemeriksaan. Hasil skrining harus ditindaklanjuti dengan pemeriksaan sesuai kebutuhan, pengobatan bagi pasien yang terdiagnosis, serta pendampingan agar terapi dijalani hingga selesai sesuai standar.
Keseriusan Dinkes Tulungagung dalam menangani PTM dan TBC pada akhirnya perlu tercermin dari jangkauan pelayanan dan kesinambungan penanganan pasien. Target skrining ratusan ribu warga maupun alokasi ribuan alat tes TBC harus diikuti pelaksanaan yang terukur dan tindak lanjut medis yang konsisten.
Dengan pendekatan tersebut, deteksi dini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pemeriksaan, tetapi menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang tepat dan berkelanjutan.
Jurnalis: Pandhu













