
TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com – Penguatan kualitas pendidikan Islam tidak hanya berbicara tentang kurikulum dan fasilitas kampus, tetapi juga menyangkut kesejahteraan guru serta kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja. Persoalan tersebut menjadi bahasan utama dalam NGOPI (Ngobrol Pendidikan Islam) yang digelar Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung di Lotu’s Garden, Rabu (4/11/2026).
Dalam forum tersebut, Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Ir. Endro Hermono, M.B.A., menyoroti pentingnya peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik sekaligus mendorong perguruan tinggi Islam memperkuat kemitraan dengan masyarakat, pemerintah, serta dunia usaha dan industri agar mampu menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap kerja.

Endro Hermono menilai kualitas pendidikan Islam di Indonesia menunjukkan perkembangan positif. Namun, capaian tersebut perlu diimbangi pembenahan tata kelola kelembagaan, peningkatan kualitas tenaga pendidik, serta penguatan hubungan antara perguruan tinggi dan kebutuhan masyarakat.”
Menurut Endro, salah satu persoalan yang masih membutuhkan perhatian serius adalah kesejahteraan guru, khususnya tenaga pendidik honorer di lingkungan pendidikan Islam.
Persoalan tersebut tidak terlepas dari belum optimalnya sistem pendataan tenaga pendidik. Pertumbuhan lembaga pendidikan Islam yang dinamis membuat jumlah guru terus bertambah, sementara perencanaan anggaran belum sepenuhnya mampu mengimbangi kebutuhan.
Perbedaan visi dan kebijakan di sejumlah daerah juga menjadi tantangan dalam menyatukan data. Karena itu, penguatan kelembagaan dan pembenahan sistem pendataan diperlukan agar kebijakan peningkatan kesejahteraan guru dapat lebih tepat sasaran.
Endro juga menyoroti pentingnya pembenahan struktur kelembagaan pendidikan Islam. Salah satunya melalui penguatan pengelolaan pendidikan pesantren menjadi Direktorat Jenderal (Ditjen), sehingga kewenangan, koordinasi, dan dukungan anggaran dapat lebih optimal.
Selain itu, pemisahan urusan penyelenggaraan ibadah haji dari Kementerian Agama (Kemenag) dinilai dapat memberikan ruang bagi kementerian tersebut untuk lebih fokus pada urusan pendidikan dan keagamaan.
Di sisi lain, Endro menegaskan perguruan tinggi tidak boleh hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi minim pengalaman praktis. Mahasiswa harus dibekali kemampuan beradaptasi, keterampilan sosial, serta pengalaman lapangan sebelum memasuki dunia profesional.
Menurutnya, pengalaman berorganisasi juga menjadi modal penting dalam membentuk karakter, kepemimpinan, komunikasi, dan kemampuan bekerja sama.
Perguruan tinggi, lanjut Endro, harus lebih terbuka terhadap masyarakat dan tidak hanya berkutat pada kegiatan akademik di lingkungan kampus. Kampus perlu menyerap persoalan nyata sekaligus memastikan pendidikan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan dunia kerja.

Sejalan dengan hal tersebut, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN SATU Tulungagung, Khoirul Anam, menjelaskan bahwa kegiatan Ngopi merupakan upaya kampus memperkuat hubungan dengan masyarakat, pemerintah, serta dunia usaha dan industri.
Menurut Anam, perguruan tinggi tidak seharusnya menjadi institusi eksklusif yang hanya berorientasi pada aktivitas akademik. Kolaborasi dengan berbagai pihak perlu diperkuat agar mahasiswa mendapatkan pengalaman nyata di luar ruang perkuliahan.
Perguruan tinggi berperan memberikan bekal keilmuan, masyarakat menjadi ruang pembelajaran melalui penelitian dan pengabdian, sedangkan dunia usaha dan industri menyediakan kesempatan magang serta pengalaman profesional.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti selama mahasiswa menempuh pendidikan, tetapi berlanjut hingga mereka menyelesaikan studi dan memasuki dunia kerja.
Anam menjelaskan, kegiatan Ngopi merupakan program yang mendapat dukungan anggaran Kementerian Agama RI melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. UIN SATU Tulungagung mendapat amanah melaksanakan kegiatan tersebut di tingkat daerah dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Endro Hermono sebagai mitra kerja Kementerian Agama di Komisi VIII DPR RI.
Dalam penguatan kemitraan, UIN SATU telah menjalin sejumlah nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan berbagai lembaga. Namun, kerja sama tersebut tidak hanya berhenti pada penandatanganan dokumen formal, melainkan diarahkan pada program konkret sesuai kebutuhan masing-masing fakultas.
Di lingkungan FTIK, misalnya, kemitraan diarahkan pada lembaga pendidikan melalui kegiatan berbagi pengetahuan, penelitian, dan penempatan mahasiswa untuk melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL).
Sebaliknya, lembaga pendidikan mitra juga dapat memperoleh dukungan akademik dari kampus melalui keterlibatan dosen atau tenaga ahli sebagai narasumber dalam kegiatan pengembangan pendidikan.
Sementara itu, fakultas yang bergerak di bidang ekonomi memperluas kerja sama dengan pelaku usaha dan industri. Mahasiswa diberikan kesempatan menjalani magang untuk mengenal proses dan kebutuhan dunia kerja secara langsung.
UIN SATU juga membuka peluang pendampingan bagi pelaku usaha, salah satunya melalui Pusat Halal yang membantu proses pendampingan sertifikasi halal produk masyarakat.
Untuk memastikan lulusan memiliki kompetensi sesuai kebutuhan lapangan, kampus juga menyerap masukan dari masyarakat dan mitra industri. Aspirasi tersebut menjadi bahan evaluasi dan pembaruan kurikulum secara berkala.
Anam menyebutkan, sejumlah kerja sama yang telah berjalan selama bertahun-tahun memberikan manfaat bagi mahasiswa maupun alumni. Beberapa lulusan UIN SATU telah bekerja di lembaga pendidikan, sektor usaha, dan industri, termasuk institusi yang sebelumnya menjalin kemitraan dengan kampus.
Selain penguatan kerja sama, UIN SATU juga memanfaatkan tracer study atau pelacakan alumni untuk mengetahui kondisi lulusan setelah menyelesaikan pendidikan.
Pengumpulan data dilakukan melalui layanan legalisasi ijazah serta fasilitas pengisian data secara daring melalui situs resmi kampus. Informasi tersebut digunakan untuk memetakan aktivitas dan perjalanan karier alumni sekaligus menjadi bahan evaluasi institusi.
Anam berharap kemitraan yang telah dibangun terus dikembangkan melalui program nyata dan inovasi yang memberikan manfaat timbal balik. Evaluasi secara rutin pada setiap akhir tahun anggaran juga menjadi dasar untuk merumuskan pengembangan kerja sama berikutnya.
Dengan penguatan kemitraan tersebut, UIN SATU diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga pengalaman, keterampilan, dan kesiapan menghadapi kebutuhan dunia kerja.
Jurnalis: Pandhu













