TRENGGALEK, Harian-News.com – Warga Desa Pogalan, Ngulankulon, dan Ngadirenggo, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek, mendesak agar stopel tambang yang berada dekat permukiman segera dipindahkan. Hingga pertemuan berakhir, pemerintah belum menetapkan keputusan final terkait pemindahan tersebut.
Desakan itu disampaikan dalam pertemuan di Balai Desa Ngadirenggo, Rabu (9/9/2026). Warga mengeluhkan debu dan timbunan material dalam jumlah besar yang berada tak jauh dari rumah mereka.
Bahkan, salah seorang warga mengaku terpaksa pindah kost karena tidak tahan dengan gangguan debu.
“Harapan kami stopel ini bisa segera dipindah. Sudah sangat mengganggu, bahkan ada warga yang terpaksa pindah kost karena debu,” ungkap salah satu warga.
Warga juga menyoroti keberadaan gunungan material tanah dan keramik di sekitar permukiman. Mereka khawatir kondisi tersebut menimbulkan persoalan baru saat musim hujan, terutama terkait aliran air dan potensi genangan.
Kasatpol PP Trenggalek, Purwo Edi, mengatakan persoalan tersebut belum sampai pada keputusan akhir. Pemerintah bersama instansi terkait akan turun melakukan pengecekan, mulai dari titik nol tambang hingga lokasi stopel.
“Hari ini belum ada titik temu. Kita cek dulu perizinan tambang dan stopel agar langkah tidak salah. Tugas kami menenangkan masyarakat sekaligus memastikan pengusaha juga tenang,” jelasnya.
Sekretaris DLH Trenggalek, Ariyoga, menyebut proses yang berlangsung masih berupa mediasi. Menurutnya, keluhan warga perlu menjadi perhatian karena menyangkut kenyamanan dan ruang hidup masyarakat.
“Tuntutan warga wajar, karena ruang hidup mereka terganggu. Proses mediasi masih berjalan, pengusaha juga akan menyampaikan komitmen bila terjadi pencemaran lingkungan,” ujarnya.
Pertemuan tersebut dihadiri Camat Pogalan, Danramil, Kapolsek, Satpol PP, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas PUPR, Dinas Perizinan, kepala desa setempat, pihak penambang Kebo Jaya, serta warga terdampak.

Warga menegaskan mereka tidak bermaksud menghalangi aktivitas usaha. Namun, mereka meminta kegiatan penimbunan material ditempatkan di lokasi yang lebih layak dan tidak berdekatan dengan permukiman.
“Kami tidak menghalangi orang mencari rezeki, tapi jangan sampai lingkungan rusak. Stopel harus pindah ke tempat yang aman dan indah,” tegas salah satu perwakilan warga.
Musyawarah lanjutan dijadwalkan Senin mendatang. Warga berharap pertemuan tersebut menghasilkan keputusan konkret mengenai pemindahan stopel, bukan sekadar mediasi tanpa kepastian.
Jurnalis: Nangkho














