
TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Olahraga Domino (ORADO) Kabupaten Tulungagung memasuki babak baru. Setelah mendapat pengakuan sebagai cabang olahraga (cabor) di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Tulungagung, domino kini dituntut membuktikan diri sebagai olahraga yang mampu melahirkan atlet berprestasi.
Masuknya ORADO ke dalam ekosistem KONI bukan sekadar menambah daftar cabang olahraga di Tulungagung. Status tersebut membawa konsekuensi berupa pembinaan atlet yang lebih terstruktur, kompetisi yang terukur, serta regenerasi pemain secara berkelanjutan.
Ketua Pengcab ORADO Tulungagung, Michail Candra Putra, mengatakan pengakuan sebagai cabor KONI menjadi momentum untuk membangun pembinaan yang lebih serius.
“Dengan ORADO diakui sebagai cabor di bawah naungan KONI, saat ini menjadi tantangan buat kita untuk terus mengembangkan ORADO dengan berkoordinasi dengan dinas-dinas dalam menjaring atlet,” ujar Michail saat ditemui di Kantor Sekretariat KONI Kabupaten Tulungagung, Rabu (2/9/2026).
Salah satu strategi yang disiapkan adalah menjadikan sekolah sebagai basis pencarian bibit atlet. ORADO berencana memperkenalkan olahraga domino melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah.
Pengurus ORADO akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan serta menjalin komunikasi dengan kepala sekolah untuk memperkenalkan cabor baru tersebut.
“Kita akan berkoordinasi kepada Dinas Pendidikan serta menjalin komunikasi baik kepada para kepala sekolah se-Kabupaten Tulungagung untuk memperkenalkan cabor baru ORADO,” katanya.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi regenerasi atlet. ORADO tidak ingin pembinaan hanya mengandalkan pemain yang sudah ada, tetapi mulai menyiapkan bibit baru sejak usia pelajar.
Pengembangan juga menyasar tingkat desa dan kecamatan. ORADO menargetkan pembentukan klub yang nantinya menjadi wadah masyarakat untuk berlatih sekaligus mengembangkan kemampuan.
“Target kita untuk pembentukan klub di tingkat desa akan kita pantau terus dan akan kita bina,” ujar Michail.
Tak berhenti di sekolah dan desa, ORADO juga membidik lingkungan perguruan tinggi. Pengurus menargetkan terbentuknya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) ORADO di sejumlah kampus di Tulungagung.
Menurut Michail, kampus memiliki potensi besar sebagai ruang pembinaan generasi muda. Minat mahasiswa terhadap permainan kartu dapat diarahkan menjadi kegiatan yang lebih terorganisasi dan berorientasi pada prestasi.
“Kita menargetkan kampus untuk membentuk UKM karena banyak anak zaman sekarang yang sangat menyukai game-game kartu. Dengan adanya UKM, menjadi wadah untuk menyalurkan hobi mereka,” jelasnya.
Bagi ORADO, keberhasilan tidak hanya diukur dari banyaknya klub maupun turnamen yang digelar. Ukuran sebenarnya adalah kemampuan organisasi mencetak atlet yang mampu bersaing pada level lebih tinggi.
Michail menargetkan atlet binaan ORADO Tulungagung dapat menembus kompetisi tingkat provinsi hingga nasional.
“Saya sendiri yang akan memantau setiap calon-calon atlet serta akan memberikan yang terbaik bagi para calon-calon atlet untuk mengikuti kompetisi di tingkat provinsi hingga nasional. Kita akan berkoordinasi penuh dengan KONI,” tuturnya.

Di sisi lain, Ketua Umum KONI Kabupaten Tulungagung, H. Agus Santosa, S.H., menegaskan bahwa tantangan terbesar ORADO adalah membangun citra domino sebagai olahraga prestasi.
Selama ini domino masih kerap dikaitkan dengan aktivitas perjudian. Karena itu, stigma tersebut harus diputus melalui tata kelola olahraga yang jelas dan berorientasi pada prestasi.
“Kalau yang namanya olahraga, stigmanya jangan judi, kita prestasi. Kalau prestasi berarti kan urusannya nanti reward,” tegas Agus.
Menurutnya, ORADO harus mampu menunjukkan identitas sebagai cabang olahraga melalui tata kelola organisasi, regulasi pertandingan, pembinaan atlet, serta kompetisi yang jelas.
KONI juga tengah menyiapkan mekanisme dukungan dana hibah. Namun, bantuan tersebut tidak serta-merta diberikan. Rencananya, dana hibah dapat dikucurkan setelah kepengurusan ORADO berjalan dan terdaftar secara resmi selama minimal satu tahun.
Artinya, ORADO terlebih dahulu harus membuktikan keseriusan dalam menjalankan organisasi dan pembinaan.
Agus juga mendorong ORADO lebih aktif menggelar turnamen dan kejuaraan. Kompetisi dinilai penting untuk memperkenalkan olahraga tersebut kepada masyarakat sekaligus menjadi sarana mengukur kemampuan atlet.
Regenerasi Jadi Kunci
KONI Tulungagung juga memberi perhatian terhadap regenerasi atlet. Pembinaan tidak hanya diarahkan kepada masyarakat umum, tetapi juga kalangan pelajar.
Untuk penjaringan atlet muda, KONI akan berkoordinasi dengan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Tulungagung yang menaungi program olahraga pelajar, termasuk Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda).
Atlet ORADO nantinya juga masuk dalam pemantauan KONI melalui mekanisme monitoring dan evaluasi. Langkah ini diperlukan untuk melihat perkembangan atlet sekaligus memetakan potensi prestasi yang dapat dikembangkan.
Agus menyatakan pihaknya juga akan mempelajari lebih jauh regulasi dan aturan pertandingan ORADO agar proses pembinaan dapat berjalan sesuai karakter olahraga tersebut.
Kini ORADO memiliki pekerjaan besar. Bukan hanya membentuk klub dan menggelar turnamen, tetapi membangun sistem pembinaan yang mampu melahirkan atlet berkualitas.
Pembentukan klub di desa dan kecamatan, penjaringan atlet melalui sekolah dan perguruan tinggi, kompetisi, hingga monitoring atlet harus berjalan secara konsisten.
Pada saat bersamaan, ORADO dituntut membangun citra baru dan menjauhkan olahraga tersebut dari praktik perjudian yang selama ini menjadi salah satu stigma kuat terhadap permainan domino.
Jika pembinaan dilakukan serius dan terukur, ORADO berpeluang menjadi ruang baru bagi masyarakat Tulungagung untuk menyalurkan minat sekaligus menemukan potensi atlet.
Status sebagai cabor di bawah KONI hanyalah titik awal. Pembuktian sesungguhnya adalah ketika domino Tulungagung mampu melahirkan atlet yang berprestasi di tingkat provinsi hingga nasional.
Jurnalis: Pandhu











