Kesehatan

Dr. Desi: CKG Punya Peran Strategis Temukan Penyakit Sejak Dini

×

Dr. Desi: CKG Punya Peran Strategis Temukan Penyakit Sejak Dini

Sebarkan artikel ini

Dr. Desi Lusiana Wardhani, S.KM., M.Kers., Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur.(foto by Pandhu).

Capaian Baru 20,16 Persen, Tulungagung Masih Kejar Target Nasional 46 Persen

TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Dr. Desi Lusiana Wardhani, S.KM., M.Kes., menegaskan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) memiliki peran strategis dalam mendeteksi penyakit sejak dini.

Menurut Desi, CKG tidak boleh dipandang sekadar sebagai program pemeriksaan kesehatan gratis atau sekadar mengejar angka partisipasi. Lebih dari itu, program tersebut menjadi pintu masuk untuk mengetahui kondisi kesehatan masyarakat sebelum penyakit berkembang menjadi lebih serius.

“CKG idealnya dimanfaatkan masyarakat minimal satu kali dalam setahun. Jangan menunggu sakit untuk memeriksakan kesehatan,” ujar Desi dalam wawancara dengan wartawan Harian News, Pandhu Rangga Sasmita, Senin (24/8/2026).

Penegasan tersebut menjadi penting di tengah capaian pelayanan CKG di Tulungagung yang hingga Agustus 2026 baru mencapai 20,16 persen. Angka tersebut masih jauh dari target nasional sebesar 46 persen.

Artinya, Tulungagung masih memiliki pekerjaan rumah untuk mengejar 25,84 poin persentase agar mencapai target nasional tersebut.

Namun, bagi Desi, keberhasilan CKG tidak cukup diukur dari seberapa banyak warga yang mendaftar.

Data sementara menunjukkan sebanyak 24,73 persen penduduk sasaran telah terdaftar. Dari jumlah tersebut, warga yang benar-benar hadir mencapai 22,1 persen, sedangkan pelayanan yang telah terselesaikan baru 20,16 persen.

Dengan demikian, terdapat penurunan capaian pada setiap tahapan, yakni 24,73 persen pendaftar, 22,1 persen hadir, dan 20,16 persen pelayanan selesai.

Desi menilai kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi. Sebab, masyarakat yang telah mendaftar belum tentu datang ke fasilitas pelayanan, sementara warga yang sudah hadir juga belum tentu seluruhnya menyelesaikan rangkaian pemeriksaan.

Bukan Sekadar Mengejar Angka

Desi menegaskan pemerintah tidak ingin pelaksanaan CKG hanya berorientasi pada pencapaian angka partisipasi.

Ukuran yang lebih penting adalah memastikan masyarakat benar-benar datang, menjalani pemeriksaan, memperoleh hasil pemeriksaan, dan mendapatkan tindak lanjut apabila ditemukan persoalan kesehatan.

“Pembunuh diam-diam” seperti hipertensi dan diabetes melitus, misalnya, dapat ditemukan pada orang yang sebelumnya merasa sehat dan tetap mampu menjalankan aktivitas sehari-hari.

Karena itu, rasa sehat tidak selalu berarti seseorang benar-benar terbebas dari gangguan kesehatan.

Tanpa pemeriksaan, seseorang bisa saja tidak mengetahui bahwa dirinya memiliki faktor risiko atau penyakit yang membutuhkan penanganan.

Di sinilah, kata Desi, CKG mempunyai posisi strategis.

Melalui pemeriksaan, pemerintah memiliki kesempatan menemukan persoalan kesehatan lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kondisi berkembang menjadi lebih berat.

Namun, manfaat tersebut hanya akan dirasakan apabila masyarakat bersedia datang dan menyelesaikan pemeriksaan.

Hasil Pemeriksaan Harus Ditindaklanjuti

Desi juga menekankan bahwa menemukan penyakit melalui skrining bukanlah akhir dari program CKG.

Warga yang memiliki indikasi penyakit akan mendapatkan penanganan melalui fasilitas kesehatan, terutama Puskesmas. Jika kondisi pasien membutuhkan pelayanan yang lebih kompleks, maka akan dilakukan rujukan secara berjenjang ke rumah sakit.

Dengan demikian, hasil pemeriksaan tidak berhenti sebagai data statistik.

Harus ada kesinambungan antara deteksi, diagnosis, pengobatan, pemantauan hingga pencegahan komplikasi.

Dinas Kesehatan Tulungagung juga memanfaatkan sistem digital untuk memantau perkembangan pelaksanaan CKG, termasuk tingkat kelengkapan skrining dan jenis penyakit yang ditemukan.

Data tersebut selanjutnya dapat menjadi dasar untuk menyusun kebijakan kesehatan yang lebih tepat sasaran.

Jika, misalnya, hipertensi dan diabetes menjadi temuan dominan, pemerintah dapat melihatnya sebagai sinyal epidemiologis yang membutuhkan intervensi lebih luas, bukan hanya menambah jumlah pemeriksaan.

Strategi Perlu Dipercepat

Dengan capaian pelayanan baru 20,16 persen, Tulungagung masih harus mengejar target 46 persen.

Desi menilai strategi pelaksanaan CKG tidak bisa hanya mengandalkan pola pelayanan pasif dengan menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan.

Karena itu, Dinas Kesehatan mengarahkan perhatian pada kelompok sasaran tertentu, termasuk anak-anak usia sekolah pada Agustus.

Langkah tersebut diharapkan dapat membantu memperluas cakupan pelayanan.

Namun, kelompok masyarakat dewasa juga perlu mendapat perhatian. Sebab, masih banyak orang dewasa yang cenderung menunda pemeriksaan karena merasa sehat atau tidak memiliki keluhan.

Paradigma “belum sakit berarti belum perlu diperiksa” justru menjadi tantangan dalam program kesehatan preventif.

Masyarakat sering kali baru mencari pertolongan ketika penyakit sudah menimbulkan gejala.

Padahal, tujuan utama pemeriksaan kesehatan adalah menemukan persoalan sebelum kondisi berkembang lebih jauh.

Jaminan Kerahasiaan Data

Persoalan lain yang perlu dijawab adalah kekhawatiran sebagian masyarakat mengenai keamanan data kesehatan.

Desi memastikan identitas pribadi dan hasil pemeriksaan warga tetap dijaga kerahasiaannya sesuai ketentuan dan kode etik medis.

Data individu tidak diumbar kepada publik. Informasi yang dapat disampaikan secara terbuka berupa data agregat atau rekapitulasi penyakit untuk kepentingan evaluasi program.

Jaminan tersebut dinilai penting untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap program CKG.

Sebab, program kesehatan publik tidak akan berjalan optimal apabila masyarakat takut menjalani pemeriksaan karena khawatir hasilnya diketahui pihak lain.

Pemerintah Harus Mengejar Masyarakatnya

Capaian 20,16 persen, menurut Desi, seharusnya menjadi momentum evaluasi, bukan sekadar laporan angka.

Pemerintah perlu melihat secara menyeluruh apa yang menjadi hambatan rendahnya capaian tersebut. Mulai dari sosialisasi, akses pelayanan, kesadaran masyarakat, mekanisme pendaftaran hingga kemungkinan kendala teknis di lapangan.

Target nasional 46 persen tidak akan tercapai hanya dengan imbauan.

Diperlukan strategi yang lebih agresif dan terukur dengan melibatkan pemerintah desa, sekolah, kader kesehatan, Puskesmas, tokoh masyarakat hingga media.

Masyarakat sasaran tidak cukup hanya mengetahui keberadaan CKG, tetapi harus benar-benar terdorong untuk memanfaatkannya.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu memastikan tidak terjadi kesenjangan antara angka administratif dan realitas pelayanan.

Sebab, 24,73 persen terdaftar belum berarti 24,73 persen telah diperiksa. Demikian pula 22,1 persen hadir belum berarti seluruhnya mendapatkan pelayanan secara tuntas.

Angka 20,16 persen pelayanan selesai menjadi indikator penting karena menggambarkan masyarakat yang benar-benar telah menuntaskan pelayanan CKG.

Desi berharap masyarakat Tulungagung mulai mengubah cara pandang terhadap kesehatan.

Pemeriksaan kesehatan, katanya, tidak seharusnya dilakukan hanya ketika seseorang merasa sakit.

“CKG idealnya dimanfaatkan masyarakat minimal satu kali dalam setahun. Jangan menunggu sakit untuk memeriksakan kesehatan,” tegasnya.

Pesan tersebut sederhana, tetapi memiliki konsekuensi besar.

Jika masyarakat terbiasa melakukan pemeriksaan secara berkala, penyakit dapat ditemukan lebih awal. Penanganan pun berpeluang dilakukan sebelum kondisi berkembang menjadi komplikasi yang lebih berat.

Sebaliknya, jika masyarakat terus menganggap pemeriksaan tidak diperlukan selama tubuh tidak menunjukkan keluhan, penyakit yang berkembang tanpa gejala akan tetap menjadi ancaman tersembunyi.

Pada akhirnya, tantangan CKG Tulungagung bukan semata bagaimana mengejar angka 46 persen.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan setiap warga sasaran benar-benar mendapatkan hak untuk mengetahui kondisi kesehatannya.

Capaian 20,16 persen merupakan fakta yang harus dievaluasi. Selisih 25,84 poin persentase menjadi pekerjaan rumah yang harus dikejar.

Dan bagi Desi, setiap angka dalam capaian tersebut bukan sekadar statistik, melainkan menggambarkan masyarakat yang membutuhkan perlindungan kesehatan.

Jurnalis: Pandhu