Fajar Widariyanto, S.P., M.M., Kepala Disperindag Kabupaten Tulungagung ( foto by Pandhu)
TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Produk telur asin Tulungagung berhasil menembus pasar Kalimantan Barat. Melalui fasilitasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Tulungagung, IKM Ternak Mulya Putra mencatat komitmen transaksi mencapai Rp25,025 miliar dalam Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur–Kalimantan Barat.
Misi dagang yang berlangsung 10–12 Agustus 2026 di Novotel Pontianak Convention Centre itu menjadi momentum penting bagi IKM Tulungagung untuk memperluas pasar sekaligus memotong rantai distribusi yang selama ini cukup panjang.
Kepala Disperindag Tulungagung, Fajar Widariyanto, S.P., M.M., mengatakan capaian tersebut berawal dari kemampuan pelaku IKM membaca kebutuhan pasar Kalimantan Barat. Disperindag kemudian mendorong agar peluang tersebut dipertemukan dengan calon pembeli melalui misi dagang yang difasilitasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
“Telur asin memiliki tingkat konsumsi yang tinggi di Pontianak, sementara kebutuhan tersebut belum sepenuhnya dipenuhi oleh pasokan yang tersedia,” ujar Fajar kepada Harian News di Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso Tulungagung, Senin (24/8/2026).
Menurutnya, selama ini pasokan telur asin untuk pasar Pontianak antara lain berasal dari Jawa Tengah dan Malaysia. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi produsen Jawa Timur, termasuk Tulungagung.
Disperindag Fasilitasi IKM Masuk Pasar Baru
Peran Disperindag terlihat dari fasilitasi terhadap pelaku IKM Tulungagung agar tidak hanya bergantung pada pasar lokal. Dalam misi dagang tersebut, dua IKM Tulungagung difasilitasi, yakni Ternak Mulya Putra dengan produk telur bebek dan olahannya serta Putri Panda yang membawa produk makanan ringan.
Hasilnya cukup signifikan. Ternak Mulya Putra memperoleh komitmen transaksi Rp25.025.000.000 untuk telur bebek, telur asin dan telur bakar. Sedangkan Putri Panda memperoleh komitmen transaksi Rp500 juta. Kesepakatan tersebut dituangkan dalam formulir yang ditandatangani para pihak.
Bagi Disperindag, capaian itu menunjukkan bahwa produk IKM daerah memiliki peluang masuk ke pasar antarpulau apabila mendapat akses promosi, jejaring dan pertemuan bisnis yang tepat.
Pangkas Mata Rantai, Naikkan Posisi Tawar
Fajar mengungkapkan, sebelumnya produsen telur asin dari Kecamatan Bandung rutin mengirim hingga satu truk per pekan ke Brebes dan Blitar. Belakangan diketahui, produk tersebut kembali dipasarkan ke Pontianak.
Artinya, produk Tulungagung harus melewati sejumlah mata rantai sebelum sampai ke pasar tujuan. Kondisi tersebut membuat produsen memiliki akses terbatas terhadap pembeli akhir dan berpotensi menekan margin keuntungan.
Melalui misi dagang, Disperindag mendorong pelaku IKM bertemu langsung dengan calon pembeli sehingga rantai distribusi dapat dipersingkat dan jaringan pemasaran diperluas.
Namun, transaksi puluhan miliar rupiah juga menuntut kesiapan produksi. Ternak Mulya Putra menggandeng peternak bebek skala kecil di sekitar Tulungagung sebagai mitra untuk mendukung kebutuhan pasokan.
Pola tersebut membuat dampak ekonomi tidak berhenti pada IKM. Jika permintaan meningkat, peluang pertumbuhan juga terbuka bagi peternak, pekerja, pemasok dan sektor distribusi.
Jangan Berhenti di Kesepakatan
Disperindag juga menghadapi pekerjaan lanjutan. Komitmen transaksi harus dikawal agar benar-benar terealisasi menjadi perdagangan berkelanjutan.
Kemampuan produksi, kontinuitas pasokan, kualitas produk dan ketepatan distribusi menjadi faktor yang menentukan keberhasilan kerja sama.
Karena itu, fasilitasi misi dagang perlu dilanjutkan dengan pendampingan setelah transaksi. Pemerintah tidak cukup hanya mempertemukan produsen dengan pembeli, tetapi juga memastikan pelaku IKM mampu memenuhi permintaan pasar secara konsisten.
Secara keseluruhan, Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur–Kalimantan Barat mencatat transaksi sekitar Rp2,529 triliun. Nilai tersebut terdiri atas penjualan Jawa Timur Rp1,480 triliun, pembelian Jawa Timur Rp163,829 miliar dan investasi Jawa Timur Rp885 miliar.
Bagi Tulungagung, komitmen Rp25,025 miliar menjadi bukti bahwa produk IKM lokal mampu bersaing di pasar nasional.
Kini tantangannya adalah bagaimana Disperindag bersama pelaku usaha menjaga agar peluang tersebut tidak berhenti sebagai angka transaksi, tetapi benar-benar berubah menjadi produksi yang meningkat, pendapatan peternak bertambah, serta perputaran ekonomi yang semakin kuat di Tulungagung.
Jurnalis: Pandhu













