
LAMONGAN, HARIAN NEWS — Jumat sore di Pesantren Krapak Mayong terasa berbeda. Sesaat setelah adzan Asar mereda di langit Mayong, teras pesantren telah dipenuhi jamaah Ngaji Selapan Sabtu Wage. Hari itu bukan Jumat biasa. Tepat 10 Muharam atau Yaumi Asy Syuro, hari yang dalam sejarah para nabi menjadi momentum taubat dan penghambaan diri kepada Allah SWT.
Suasana khidmat menyelimuti pesantren. Lantunan istighfar dan doa menggema, menghadirkan ketenangan yang menyentuh hati setiap jamaah yang hadir.
Kang Imam Suyuti, Sekretaris Pesantren Krapak Mayong, menyebut momen tersebut sebagai “sore istighfar”, sebuah ajakan untuk kembali membersihkan hati melalui doa dan taubat.
“Hari Asy Syuro adalah hari taubat. Jamaah diajak memperbanyak istighfar agar hati kembali bening,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu hadir KH Imam Mawardi Ridlwan, Sekretaris PW IPHI Jawa Timur, yang mengingatkan pentingnya memuliakan anak yatim sebagai bagian dari ajaran Islam yang penuh kasih sayang.
“Memuliakan mereka bukan sekadar memberikan santunan. Tetapi juga perhatian, kelembutan, serta memastikan kebutuhan hidup mereka terpenuhi,” tuturnya.
Sebanyak 80 anak yatim menerima santunan pada kegiatan tersebut. Mereka duduk berjejer dengan wajah polos penuh harap, menghadirkan pemandangan yang mengundang rasa haru.
Abah Imam, Wakil Ketua LD PWNU Jawa Timur, mengungkapkan rasa syukurnya sekaligus menyampaikan apresiasi kepada para donatur yang telah berpartisipasi.
“Terima kasih kepada para donatur. Menyantuni anak yatim akan menumbuhkan kelembutan hati,” ucapnya.
Sore itu Pesantren Krapak Mayong tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya jamaah untuk berdoa. Lebih dari itu, pesantren menjelma menjadi ruang pertobatan, ruang kelembutan, sekaligus ruang keberkahan.
Tradisi Asy Syuro yang dijalankan di pesantren tersebut menunjukkan bahwa spiritualitas tidak berhenti pada lantunan doa semata, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Memuliakan anak yatim bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah wujud empati, pendidikan sosial, sekaligus pengingat bahwa keberkahan sejati lahir dari kepedulian terhadap sesama.
Di tengah kehidupan yang semakin sibuk mengejar kepentingan dunia, tradisi seperti ini mengingatkan bahwa hati manusia masih dapat dilunakkan oleh doa, kasih sayang, dan rasa syukur.
Karena sejatinya, doa yang baik akan melahirkan kasih, dan kasih akan menghadirkan keberkahan.













