Seni BudayaTulungagung

Kades Anang Mustofa: Desa Benteng Budaya, Jaranan Klasik Jangan Sampai Punah

×

Kades Anang Mustofa: Desa Benteng Budaya, Jaranan Klasik Jangan Sampai Punah

Sebarkan artikel ini

TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan menggerus identitas budaya lokal, Pemerintah Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, memilih berdiri di garis depan menjaga warisan leluhur. Melalui “Pagelaran Kesenian Jaranan” yang digelar di Lapangan Sitisoro, Dusun Rongganan, Sabtu (9/5/2026), desa ini menegaskan bahwa budaya tradisional tidak boleh dibiarkan hilang ditelan zaman.

Pagelaran yang menampilkan kelompok seni Turonggo Kondho Pamungkas Klasik itu bukan sekadar hiburan rakyat. Acara tersebut menjadi simbol kepedulian terhadap kesenian tradisional, khususnya Jaranan klasik atau yang dikenal masyarakat sebagai Jaranan Jowo/Breng, yang kini mulai jarang diminati generasi muda.

Anang Mustofa Kepala Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung

Kepala Desa Kendalbulur, Anang Mustofa, S.E., menegaskan bahwa desa harus menjadi benteng terakhir pertahanan budaya bangsa. Menurutnya, pemerintah desa tidak boleh hanya fokus pada pembangunan fisik dan administrasi, tetapi juga wajib menjaga identitas budaya masyarakatnya.
“Desa adalah benteng budaya. Kalau desa sudah tidak mampu mempertahankan kesenian dan tradisinya, maka perlahan kebudayaan Indonesia bisa hilang,” tegas Anang di hadapan warga dan para pelaku seni.

Ia menilai, kesenian tradisional memiliki fungsi sosial yang jauh lebih besar dibanding sekadar tontonan. Dalam budaya Jawa, kesenian menjadi ruang berkumpul masyarakat, media syukur pasca panen, hingga sarana mempererat kerukunan dan gotong royong warga.

Karena itu, sejak tahun 2018 Pemerintah Desa Kendalbulur terus mengambil langkah konkret dalam upaya pelestarian budaya. Bersama tokoh adat, budayawan, seniman, dan masyarakat, desa aktif membina berbagai kesenian tradisional seperti Jaranan, thethek, jedoran, hingga pelatihan vokal tradisional melalui kegiatan sinau sinden.

Anang menegaskan, pelestarian budaya harus dipandang sebagai investasi sosial jangka panjang. Menurutnya, pembangunan tidak akan memiliki makna apabila masyarakat kehilangan rasa kebersamaan dan identitas budayanya.
“Sebagus apa pun pembangunan fisik yang dibuat pemerintah desa, kalau masyarakatnya tidak guyub dan kehilangan semangat gotong royong, maka pembangunan itu kehilangan ruhnya,” ujarnya.

Nuansa tradisional dalam pagelaran tersebut juga terasa kuat. Panitia sengaja menghadirkan atmosfer khas era 1980-an melalui penggunaan atribut budaya lokal seperti obor tradisional (oncor) dan penjor.

Langkah itu mendapat apresiasi langsung dari Kepala Desa karena dinilai mampu membangkitkan memori kolektif masyarakat sekaligus mempertegas identitas budaya Jawa yang mulai terpinggirkan.

Di tengah dominasi hiburan modern dan budaya digital yang semakin masif, langkah Desa Kendalbulur dinilai menjadi contoh nyata bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya diwacanakan, tetapi harus diwujudkan melalui aksi konkret dan keberpihakan pemerintah desa terhadap seniman lokal.

Melalui pagelaran seni rakyat tersebut, Pemerintah Desa Kendalbulur berharap generasi muda tidak lagi memandang kesenian tradisional sebagai budaya kuno yang tertinggal zaman, melainkan sebagai warisan bernilai tinggi yang wajib dijaga dan diwariskan.

Dengan semangat kebudayaan, gotong royong, dan kerukunan yang terus dirawat, Desa Kendalbulur optimistis mampu membangun masyarakat yang harmonis, aman, sekaligus tetap berakar kuat pada identitas budayanya sendiri.

Jurnalis : Pandhu.