

Imam Mawardi Ridlwan
Oleh: Imam Mawardi Ridlwan
TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com – Jalan sempit berliku tanpa penerangan menuju Pesantren Sepuh Roudlotul Qur’an (PS RQ) Selopanggung, Semen, Kediri, menjadi saksi perjalanan saya pada Sabtu (18/4/2026) seusai sholat maghrib. Malam itu, selain bersilaturahim dengan pengasuh PS RQ, Prof. DR. KH. Ali Arifin, saya juga menghadiri kegiatan munajat Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Pondok Pesantren Roudlotul Qur’an (PPRQ).
Saya tiba di PS RQ bersama Mas Ali Jatis Mojokerto, yang mengantar dengan mobil boks berlogo SPPG. Ia tengah membangun dapur SPPG, meski belum beroperasi.
Dalam pertemuan tersebut, Prof. Ali Arifin menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah proyek kemaslahatan yang akan berdampak baik bila tepat sasaran. Program ini, menurut beliau, hanya cocok untuk anak-anak yang kekurangan gizi, bukan untuk anak-anak dari keluarga kaya.
“MBG cocok untuk anak-anak yang kekurangan,” pesan Prof. Ali.
Program MBG yang digagas pemerintah dipandang sebagai upaya mulia untuk memutus rantai kekurangan gizi, agar anak Indonesia tumbuh sehat dan cerdas. Bila dijalankan sesuai tujuan, maka sejalan dengan pesan pengasuh PS RQ.
Prof. Ali juga menekankan bahwa MBG yang tepat sasaran akan membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
Rantai kebutuhan bahan, proses produksi, hingga distribusi akan melibatkan banyak pihak, sehingga ekonomi rakyat ikut bergerak.
Namun, beliau mengingatkan adanya bahaya jika niat baik pemerintah dimanfaatkan oleh oknum. Manipulasi anggaran belanja, pengurangan kualitas makanan, hingga kasus keracunan menjadi bukti bahwa program kemaslahatan bisa berubah menjadi kemudaratan.
Agama menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan dasar umat, terutama makanan bergizi yang menjadi fondasi kehidupan. Pesan pokok agama kepada para pemimpin adalah menjaga jiwa, akal, keturunan, harta, dan agama.
Makanan yang baik dan bergizi akan menjaga kesehatan anak serta masa depan bangsa. Namun, jika pengelolaan MBG disalahgunakan, maka tujuan mulia tersebut tidak akan tercapai.
Saat ini masyarakat sedang menyoroti pola penggunaan anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) yang tidak tepat, seperti pembelian sepeda motor untuk kepala SPPG. Banyak pengelola dapur SPPG yang tidak amanah, hanya mengejar keuntungan bisnis.
Akibatnya, menu yang disajikan kurang layak dan tidak disenangi anak-anak.
Lebih parah lagi, masyarakat sekitar tidak dilibatkan dalam rantai produksi. Petani dan pedagang lokal hanya menjadi penonton, sementara keuntungan dikuasai mitra besar.
Saya mengambil inti pesan mendalam dari Prof. Ali Arifin adalah agar program MBG tidak menjadikan anak Indonesia sebagai proyek orang serakah. Pengurangan kualitas bahan makanan, permainan porsi, dan manipulasi anggaran adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah.
Masyarakat sudah cukup skeptis terhadap program MBG.
Jangan sampai ketidakamanahan oknum di BGN semakin merusak kepercayaan publik. Sebagaimana diingatkan dalam Surat Al-Anfal ayat 27, amanah adalah hal yang wajib dijaga.
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !