Jembatan Mendalanwangi–Sumbersuko telah rampung 100 persen.
MALANG, HARIAN-NEWS.com — Pemerintah Kabupaten Malang melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga menuntaskan penggantian Jembatan Pohbener di ruas jalan kabupaten K1 Mendalanwangi-Sumbersuko, Kecamatan Wagir.
Pekerjaan tersebut kini telah mencapai progres 100 persen. Rampungnya jembatan diharapkan memperlancar mobilitas masyarakat, khususnya akses yang menghubungkan Desa Mendalanwangi dan Desa Gondowangi.
Penanganan infrastruktur ini tidak hanya menyasar penguatan konstruksi jembatan, tetapi juga persoalan aliran sungai yang sebelumnya berpotensi mengganggu akses warga ketika debit air meningkat.
Kepala Dinas PU Bina Marga Kabupaten Malang, Khairul Isnaidi Kusuma, mengatakan kondisi sebelumnya menjadi salah satu titik yang rawan terdampak luapan air sungai.
“Untuk Jembatan Pohbener ini berada di ruas Mendalanwangi-Sumbersuko, melewati Desa Gondowangi. Kondisi eksisting sebelumnya, ketika debit air tinggi, air bisa meluap,” ujar Khairul, Senin (24/8/2026).
Sebagai solusi, Pemkab Malang membangun box culvert insitu berdiameter 2 meter. Pekerjaan tersebut diperkuat dengan pembangunan dinding penahan tanah (DPT) sungai serta plat duiker.
Menurut Khairul, kombinasi penanganan tersebut dirancang untuk memperbaiki sistem aliran air sekaligus menjaga stabilitas konstruksi di sekitar jembatan.
“Penanganannya menggunakan box culvert insitu dengan diameter 2,00 meter, kemudian DPT sungai dan plat duiker,” jelasnya.
Dengan penanganan tersebut, peningkatan debit sungai diharapkan tidak lagi mudah mengganggu badan jalan maupun aktivitas masyarakat yang melintas.
Rampungnya Jembatan Pohbener menjadi bagian dari upaya Pemkab Malang memperkuat konektivitas antarwilayah. Ruas Mendalanwangi-Sumbersuko memiliki fungsi penting sebagai jalur penghubung aktivitas masyarakat di wilayah Kecamatan Wagir.
“Manfaat dari pembangunan ini untuk menghubungkan antar desa, terutama Mendalanwangi dan Gondowangi. Mobilitas warga sekitar diharapkan tidak terganggu lagi oleh meluapnya air dari sungai,” terang Khairul.
Ia menegaskan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan tidak dapat dilepaskan dari kondisi lingkungan di sekitarnya. Sistem drainase dan aliran sungai menjadi faktor penting agar konstruksi dapat berfungsi optimal serta memiliki ketahanan menghadapi kondisi cuaca, terutama ketika musim hujan.
“Jadi bukan hanya persoalan jembatannya, tetapi bagaimana aliran airnya juga bisa tertangani. Harapannya, saat debit air tinggi, tidak lagi mengganggu mobilitas masyarakat,” tegasnya.
Berdasarkan data pengadaan, pekerjaan penggantian Jembatan Pohbener dibiayai melalui APBD Kabupaten Malang Tahun Anggaran 2026. Paket pekerjaan tersebut memiliki nilai pagu Rp350 juta, sedangkan nilai Harga Perkiraan Sendiri (HPS) mencapai Rp341.522.907,45.
Khairul memastikan seluruh pekerjaan fisik telah diselesaikan sesuai target.
“Untuk progres pekerjaannya saat ini sudah 100 persen,” ungkapnya.
Meski pekerjaan telah rampung, pemantauan terhadap kondisi jembatan dan aliran sungai tetap diperlukan, terutama saat memasuki periode dengan intensitas hujan tinggi.
Pengawasan berkala penting dilakukan untuk memastikan fungsi konstruksi tetap optimal sekaligus mengantisipasi potensi gangguan yang dapat memengaruhi keselamatan dan kelancaran lalu lintas.
Dengan selesainya Jembatan Pohbener, Pemkab Malang berharap akses masyarakat di jalur Mendalanwangi-Gondowangi semakin aman dan lancar. Penanganan tersebut sekaligus menjadi langkah pemerintah daerah untuk memastikan pembangunan infrastruktur memberikan manfaat langsung dan berkelanjutan bagi aktivitas warga serta konektivitas antarwilayah di Kecamatan Wagir.
Jurnalis: Teguh













