TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com – Ancaman diabetes melitus (DM) kini tidak lagi hanya membayangi kelompok lanjut usia. Perubahan pola konsumsi, tingginya kebiasaan mengonsumsi minuman berpemanis, serta rendahnya kesadaran menjaga kesehatan membuat generasi muda semakin rentan terhadap penyakit tersebut.
Kondisi ini mendorong Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung memperkuat upaya pencegahan sejak usia remaja. Salah satunya melalui gerakan Jagung Bakar Manis (Gerakan Remaja Tulungagung Bersatu Atasi Kencing Manis), yang menempatkan pelajar sebagai penggerak edukasi kesehatan di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Program tersebut disosialisasikan di Aula Sabha Husada Bakti, Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Sabtu (7/11/2026). Kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu melibatkan sekitar 200 hingga 300 peserta dari unsur tenaga kesehatan, pendidik, dan pelajar SMA/SMK.
Kegiatan ini mendapat dukungan dan fasilitasi Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi Golkar, Dr. Ir. Heru Tjahjono, M.M. Dukungan tersebut membuka ruang bagi Dinkes untuk menyelenggarakan sosialisasi berskala besar yang sebelumnya terkendala keterbatasan anggaran.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Dr. Desi Lusiana Wardhani, S.KM., M.Kes., menjelaskan, Jagung Bakar Manis dirancang untuk mengubah pendekatan edukasi kesehatan. Remaja tidak sekadar menjadi penerima informasi, tetapi dipersiapkan sebagai pendidik sebaya atau peer educator.
Menurutnya, pendekatan tersebut penting karena kebiasaan hidup sehat harus dibangun sejak dini. Apalagi, konsumsi gula berlebihan telah menjadi bagian dari pola konsumsi sehari-hari, termasuk di kalangan anak muda.
Menjamurnya kafe, pusat kuliner, serta mudahnya memperoleh kopi dan berbagai minuman berpemanis menjadi tantangan tersendiri. Di satu sisi, pertumbuhan usaha kuliner dan UMKM perlu didukung sebagai penggerak ekonomi. Namun, di sisi lain, kesadaran masyarakat terhadap risiko konsumsi gula berlebihan juga harus diperkuat.
Persoalan ini tidak cukup diselesaikan melalui sosialisasi sesaat. Perubahan perilaku membutuhkan edukasi berkelanjutan, keterlibatan keluarga, serta lingkungan yang mendukung pola hidup sehat.
Gambaran besarnya tantangan penyakit kronis juga terlihat dari layanan hemodialisa di RSUD dr. Iskak Tulungagung. Berdasarkan paparan Desi, layanan cuci darah beroperasi dalam tiga sif dengan kapasitas sekitar 30 pasien setiap sif. Artinya, kapasitas pelayanan mencapai sedikitnya 90 pasien reguler per hari, di luar lima tempat tidur tambahan pada setiap sif untuk kebutuhan darurat.
Diabetes dan hipertensi merupakan dua faktor risiko penting yang dapat memicu gangguan ginjal apabila tidak dikendalikan. Bahkan, menurut paparan Desi, terdapat pasien berusia di bawah 25 tahun yang membutuhkan penanganan medis serius.
Kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa pencegahan penyakit kronis tidak boleh menunggu seseorang jatuh sakit. Pengendalian faktor risiko, pemeriksaan kesehatan, aktivitas fisik, dan pola konsumsi seimbang perlu menjadi kebiasaan sejak usia muda.
Melalui Jagung Bakar Manis, Dinkes berupaya membangun model edukasi yang lebih dekat dengan kehidupan pelajar. Setiap tim dirancang melibatkan sekitar delapan orang, terdiri atas unsur kepala Puskesmas, pengelola program kesehatan remaja, guru pendamping, dan perwakilan siswa.
Para pelajar terpilih akan mendapatkan pembekalan mengenai diabetes, faktor risiko, gizi seimbang, serta keterampilan komunikasi. Selanjutnya, mereka bertugas menyampaikan informasi kesehatan kepada teman-teman di sekolah maupun lingkungan keluarga.
Desi menilai komunikasi antarteman berpotensi menjadi pendekatan efektif karena pesan kesehatan disampaikan melalui lingkungan pergaulan yang akrab dengan kehidupan remaja.
Bahkan, para kader diharapkan mampu menjadi pengingat bagi keluarga di rumah. Mereka didorong mengajak orang tua mengurangi konsumsi gula, termasuk membatasi kebiasaan mengonsumsi kopi dan minuman manis secara berlebihan.
Sebelumnya, program rintisan serupa telah dilaksanakan di MTs Negeri 1 dan SMP Negeri 1 Bandung. Kali ini, sasaran diperluas ke jenjang SMA dan SMK agar jangkauan edukasi semakin luas dan melibatkan pelajar dari berbagai kecamatan.
Dinkes telah menyiapkan enam tahapan pelaksanaan, mulai persiapan dan koordinasi lintas sektor, sosialisasi dan rekrutmen kader, pelatihan, implementasi di sekolah, monitoring dan evaluasi, hingga pembentukan jejaring pendidik sebaya.
Selama pelatihan dua hari, peserta mendapatkan materi diabetes, faktor risiko, gizi seimbang, dan Komunikasi Antarpribadi (KAP). Mereka juga mengikuti simulasi kampanye, menyusun rencana aksi, serta menjalani evaluasi melalui pre-test dan post-test.
Setelah pelatihan, kader akan menjalankan kampanye kesehatan melalui edukasi kelas, pembuatan poster, konten media sosial, aktivitas fisik bersama, hingga ajakan mengurangi konsumsi minuman berpemanis.
Keberlanjutan Jadi Tantangan
Meski konsep program telah disusun, keberhasilan Jagung Bakar Manis tidak cukup diukur dari jumlah peserta sosialisasi maupun kader yang berhasil dilatih.
Perubahan pengetahuan, perilaku konsumsi, aktivitas fisik, dan keterlibatan keluarga harus menjadi indikator yang dievaluasi secara berkala. Tanpa pengukuran yang jelas, program berisiko hanya ramai pada tahap awal, tetapi kehilangan keberlanjutan setelah kegiatan selesai.
Untuk memperkuat pelaksanaan, Dinkes berencana menerbitkan Surat Keputusan (SK) sebagai dasar pembinaan hingga tingkat Puskesmas dan sekolah. Koordinasi juga akan dilakukan dengan Cabang Dinas Pendidikan wilayah SMA/SMK serta Kantor Kementerian Agama.
Desi menginstruksikan seluruh kepala Puskesmas agar mengalokasikan anggaran pembinaan pada 2027, minimal untuk satu sekolah binaan di wilayah kerja masing-masing.
Dinkes juga merencanakan lomba Kader Remaja Peduli Diabetes Melitus antarsekolah binaan setelah program berjalan selama satu tahun. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi sarana evaluasi sekaligus apresiasi bagi sekolah dan kader yang aktif.
Namun, komitmen anggaran dan pembinaan tersebut perlu dipastikan benar-benar terealisasi. Sebab, program kesehatan berbasis masyarakat membutuhkan pendampingan, pengawasan, dan dukungan lintas sektor secara konsisten.
Selain edukasi di sekolah, Dinkes juga perlu memperkuat pemeriksaan faktor risiko, memperluas keterlibatan keluarga, serta mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang mendukung pola hidup sehat.
Keterbukaan data perkembangan diabetes di Tulungagung juga penting untuk memperkuat evaluasi kebijakan. Informasi mengenai jumlah penderita, tren kasus, kelompok usia, hingga capaian deteksi dini dapat menjadi dasar dalam menentukan langkah pencegahan berikutnya.
Jagung Bakar Manis menjadi langkah positif dalam membangun kesadaran kesehatan generasi muda. Namun, pekerjaan sesungguhnya justru dimulai setelah pelatihan dan sosialisasi berakhir.
Dukungan Heru Tjahjono dan langkah Dinkes perlu diterjemahkan menjadi gerakan berkelanjutan yang mampu mengubah kebiasaan masyarakat. Sebab, keberhasilan pencegahan diabetes bukan diukur dari meriahnya kampanye, melainkan dari kemampuan menekan faktor risiko dan membangun perilaku hidup sehat sejak dini.
Jurnalis: Pandhu














