Feature

Posyandu “Tersayang” Sobontoro, Merawat ODGJ dengan Kasih Sayang

×

Posyandu “Tersayang” Sobontoro, Merawat ODGJ dengan Kasih Sayang

Sebarkan artikel ini

TULUNGAGUNG, HARIAN NEWS — Di saat sebagian masyarakat masih memandang Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dengan stigma dan ketakutan, Desa Sobontoro, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, memilih jalan berbeda: merangkul dan memulihkan.

Lewat Posyandu Jiwa Sehat Mandiri atau Posyandu “Tersayang”, desa ini menghadirkan ruang pendampingan bagi para penyintas gangguan jiwa agar kembali menemukan rasa percaya diri dan harapan hidup.

Program yang digagas sejak 2015 di bawah kepemimpinan Kepala Desa Sobontoro, Sodik Afandi, S.Sos., itu kini menjadi simbol kepedulian sosial berbasis masyarakat.

Di Balai Desa Sobontoro, Kamis (21/5/2026), suasana posyandu tampak hangat. Sejumlah pasien mengikuti berbagai aktivitas seperti bermain musik reog kendang, membuat telur asin, merangkai gantungan kunci, hingga pelatihan sulap.

Kegiatan tersebut bukan sekadar terapi, melainkan bagian dari upaya mengembalikan fungsi sosial dan mental pasien agar mampu kembali hidup di tengah masyarakat.
“Yang kami lakukan bukan hanya mengobati, tetapi mengembalikan mereka menjadi manusia yang percaya diri dan merasa dihargai,” ujar Sodik Afandi.

Perjalanan panjang program itu mulai menunjukkan hasil. Jika dahulu jumlah pasien binaan mencapai lebih dari 30 orang, kini berkurang menjadi sekitar 15 pasien dengan kondisi emosional yang jauh lebih stabil.

Menurut Sodik, keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran kader yang mendampingi pasien secara rutin, mulai memastikan pengobatan berjalan hingga memberi dukungan kepada keluarga.
“Para kader ini bekerja dengan hati. Fokus mereka hanya satu, bagaimana pasien bisa sembuh dan hidup layak,” katanya.

Program Posyandu “Tersayang” juga mendapat dukungan lintas sektor, mulai pemerintah desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Dinas Sosial, hingga tenaga kesehatan Puskesmas Beji.

Meski demikian, stigma sosial masih menjadi tantangan terbesar. Banyak keluarga masih merasa malu dan memilih menutupi anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa.
“Stigma adalah musuh terbesar kami. Padahal mereka hanya butuh dirangkul dan diberi kesempatan untuk sembuh,” tegas Sodik.

Melalui Posyandu “Tersayang”, Desa Sobontoro ingin membuktikan bahwa pemulihan kesehatan jiwa tidak cukup hanya dengan obat-obatan, tetapi juga membutuhkan kepedulian, penerimaan sosial, dan kasih sayang.
Jurnalis : Pandhu