Feature

“Buah Apa yang Paling Manis? Buah-hlil,” Saat Golkar Tulungagung Menertawakan Lagu Viral

×

“Buah Apa yang Paling Manis? Buah-hlil,” Saat Golkar Tulungagung Menertawakan Lagu Viral

Sebarkan artikel ini
Pengurus DPD Partai Golkar Tulungagung, Jairi Irawan (ketua),

TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Di tengah riuh rendah media sosial yang tak pernah kehabisan bahan hiburan, sebuah lagu jenaka tentang Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, mendadak menjadi perbincangan. Lirik-lirik ringan yang menyebut “MBG” atau “Mas Bahlil Ganteng” hingga “Bahlil Cahaya Asia” berseliweran di berbagai platform, mengundang tawa sekaligus rasa penasaran publik.

Namun alih-alih tersinggung atau bersikap kaku, DPD Partai Golkar Tulungagung justru memilih menikmati fenomena itu dengan santai.

Di ruang kerjanya di Kantor DPD Golkar Tulungagung, Jumat (29/5/2026), Ketua DPD Golkar Tulungagung Jairi Irawan, S.Hum., M.KP., menyambut pertanyaan tentang lagu viral tersebut dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.

Jairi Irawan Ketua DPD Partai Golkar

Bagi Jairi, lagu yang ramai dibicarakan warganet itu bukan serangan politik, melainkan bentuk kreativitas generasi muda yang lahir dari ruang digital yang semakin dinamis.

“Kami melihatnya sebagai ekspresi kreatif anak-anak muda, mulai dari generasi milenial, Gen Z hingga Gen Alpha. Itu bentuk perhatian dan kedekatan publik terhadap Pak Bahlil,” ujarnya.

Menurutnya, media sosial telah menjadi ruang baru tempat masyarakat mengekspresikan pandangan dengan cara yang lebih ringan, segar, dan mudah diterima banyak kalangan. Karena itu, fenomena lagu viral tidak selalu harus dibaca sebagai kritik atau sindiran.

Kalaupun ada kritik yang terselip di dalamnya, Jairi menilai hal tersebut justru dapat menjadi masukan berharga bagi partai maupun para pemimpinnya.

“Kalau itu kritik, kami terima sebagai bahan evaluasi. Kalau itu candaan, ya biarkan menjadi hiburan yang menyenangkan masyarakat,” katanya.

Fenomena tersebut bahkan telah menembus batas usia. Jairi bercerita, dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar kini ikut hafal potongan lirik lagu yang tengah viral tersebut. Sebuah gambaran sederhana tentang betapa cepat budaya digital menyebar dari layar gawai hingga ke ruang keluarga.

Di mata Jairi, para kreator yang membuat konten kreatif semacam itu juga layak diapresiasi. Selama tidak mengandung fitnah atau kebencian, kreativitas yang mampu menghibur masyarakat dan bahkan menghasilkan nilai ekonomi merupakan bagian dari ekosistem digital yang sehat.

Percakapan yang semula serius perlahan berubah cair. Tawa beberapa orang di ruangan pecah ketika Jairi ditanya lirik apa yang paling membekas di ingatannya.

Tanpa berpikir lama, ia melontarkan jawaban yang spontan.

“Buah apa yang paling manis?” tanyanya.

Sejenak ruangan hening.

“Buah-hlil,” jawabnya sambil tertawa.

Gelak tawa pun pecah.

Mungkin di situlah pesan sederhana yang ingin disampaikan. Bahwa politik tidak selalu harus tampil tegang dan penuh sekat. Di tengah berbagai perdebatan yang kerap memenuhi ruang publik, masih ada ruang untuk humor, kreativitas, dan tawa yang menyatukan.

Jurnalis: Pandhu