TRENGGALEK, HARIAN NEWS — Derap kaki kuda masih setia terdengar di sisi barat Alun-alun Trenggalek. Meski tak lagi seramai era kejayaannya, andong tetap bertahan sebagai denyut tradisi yang belum sepenuhnya hilang ditelan modernisasi transportasi.
Saat ini, sebanyak 16 delman yang tergabung dalam Paguyuban Kusir andong Trenggalek masih aktif beroperasi secara bergantian. Dalam sehari, rata-rata hanya empat delman yang mangkal dan melayani penumpang. Pada hari biasa, para kusir harus puas dengan dua hingga tiga kali perjalanan.
Bagi para kusir sepuh, andong bukan sekadar alat transportasi, tetapi bagian dari perjalanan hidup yang telah puluhan tahun mereka jalani.

Sutejo (75), warga Kelurahan Tamanan, mengaku sudah menjadi kusir andong sejak awal 1980-an. Ia masih mengingat masa ketika andong menjadi pilihan utama masyarakat berkeliling kota.
“Kalau hari Minggu atau libur masih lumayan ramai. Bisa lima sampai enam kali narik sampai malam, asal tidak hujan,” tuturnya.
Hal serupa disampaikan Mbah Pingat (77), warga Desa Sukosari. Dengan nada lirih, ia mengenang masa ketika andong masih menjadi ikon transportasi kota.
“Dulu tahun 80-an, malam hari masih banyak penumpang. Bisa empat kali narik,” ujarnya.
Kini, perjuangan para kusir semakin berat. Selain jumlah penumpang yang terus menurun, biaya perawatan kuda juga tidak kecil. Untuk pakan saja, mereka harus mengeluarkan sekitar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per hari, sebagian besar dengan mencari rumput sendiri.
Belum lagi biaya kepemilikan andong dan kuda yang nilainya cukup tinggi. Harga satu delman berkisar Rp17 juta hingga Rp20 juta, sedangkan harga kuda dapat mencapai Rp20 juta hingga Rp25 juta.
“Selama ini belum pernah ada perhatian khusus dari pemerintah. Kalau ada bantuan, kami berharap bisa dianggarkan, misalnya untuk seragam kusir,” kata Mbah Pingat.

Untuk memenuhi kebutuhan bersama, para anggota paguyuban selama ini mengandalkan iuran mandiri melalui koperasi andong. Mereka rutin menggelar arisan Rp30 ribu dan iuran anggota Rp20 ribu setiap bulan.
Paguyuban Kusir Andong Trenggalek sendiri telah menetapkan tarif resmi bagi penumpang dengan beberapa pilihan rute wisata kota, di antaranya:
1. Rp30 ribu : Alun-alun – Pasar Pon – Alun-alun
2. Rp40 ribu : Alun-alun – Pasar Pon – SMPN 5 – Pak Tomo – Alun-alun
3. Rp50 ribu : Alun-alun – Pasar Pon – Terminal Bus – Alun-alun
4. Rp75 ribu : Alun-alun – Pasar Pon – Pertigaan Perikanan – Nirwana – Alun-alun
5. Rp100 ribu : Alun-alun – Pertigaan Hotel Widowati – Jalan Baru

66
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek, Toni W., mengakui bahwa andong memiliki potensi besar sebagai bagian dari wisata daerah.
“Kalau untuk wisata, andong bisa menjadi daya tarik. Misalnya di kawasan pantai atau hutan kota, bisa dikolaborasikan sebagai atraksi wisata,” jelasnya.
Namun hingga kini, gagasan tersebut masih sebatas wacana dan belum diwujudkan dalam program nyata.
Di tengah derasnya perkembangan transportasi modern, keberadaan andong di Trenggalek seakan menjadi pengingat bahwa tradisi masih memiliki tempat di hati masyarakat. Para kusir sepuh berharap, suatu saat nanti pemerintah benar-benar hadir untuk menjaga keberlangsungan andong sebagai simbol budaya sekaligus daya tarik wisata khas daerah.
Jurnalis : Nanang













