TRENGGALEK, HARIAN NEWS.com – Suasana pesisir Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek, kembali dipenuhi nuansa sakral saat masyarakat menggelar Pahargyan Adat Longkangan Teluk Sumbreng pada Selasa Kliwon, 28 April 2026.
Tradisi turun-temurun ini menjadi wujud rasa syukur nelayan dan petani atas limpahan hasil laut serta bumi, sekaligus doa keselamatan dan kesejahteraan bersama.
Ritus Longkangan telah berlangsung sejak tahun 1849, menjadikannya salah satu tradisi pesisir tertua di Jawa Timur. Tahun ini, perayaan tersebut memasuki penyelenggaraan ke-177. Keberlangsungan tradisi ini menegaskan eratnya hubungan masyarakat Munjungan dengan alam serta nilai-nilai spiritual warisan leluhur.
Sejak tahun 2025, Pahargyan Adat Longkangan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, memperkuat posisinya sebagai identitas budaya masyarakat pesisir Trenggalek.

Puncak acara ditandai dengan pelarungan tumpeng agung beserta ubo rampe sesaji dan hasil bumi ke laut. Prosesi ini menjadi simbol penghormatan kepada alam sekaligus harapan akan keberkahan, keselamatan, dan hasil tangkapan yang melimpah. Bagi warga Munjungan, laut bukan hanya sumber mata pencaharian, tetapi juga ruang spiritual yang dijaga melalui doa dan ritual adat.

Keistimewaan lain dari tradisi ini adalah prosesi malam hari yang dikenal dengan Onang-Onang Bedhil Muni. Dalam ritual tersebut, masyarakat menyambut tamu-tamu tak kasat mata dari wilayah Brang Kidul dengan iringan gending gamelan serta bunyi tembakan senjata api laras panjang. Tembakan itu bukan sekadar atraksi, melainkan simbol komunikasi spiritual dan penghormatan kepada leluhur.
Camat Munjungan, Yusuf Widharto, S.STP., M.AP, mengatakan Pahargyan Adat Longkangan Teluk Sumbreng ke-177 menjadi bukti bahwa masyarakat Munjungan memiliki akar budaya yang kuat, semangat gotong royong yang tetap terjaga, serta rasa hormat tinggi terhadap warisan leluhur.
“Saya bangga melihat antusiasme masyarakat, tokoh adat budaya, tokoh agama, pemuda, dan seluruh elemen yang bersama-sama menjaga tradisi ini tetap hidup. Ini bukan sekadar seremoni budaya, tetapi wujud syukur, kebersamaan, dan identitas masyarakat Munjungan yang harus kita rawat bersama,” ujarnya.
Ia berharap ke depan tradisi tersebut terus lestari dan berkembang, tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang mampu mengangkat potensi daerah, menggerakkan ekonomi masyarakat, serta memperkuat persatuan dan gotong royong.
“Saya juga berharap generasi muda semakin mencintai dan memahami nilai-nilai luhur dalam tradisi ini, agar warisan budaya tetap terjaga hingga generasi berikutnya. Mugi Gusti Alloh paring berkah, wilujeng, lan kasembadan tumrap masyarakat Munjungan sedoyo,” pungkasnya.
Jurnalis: Nanang/Rif














