EkonomiWawancara

Ketua KADIN Bicara UMKM hingga Marmer, Menakar Masa Depan Ekonomi Tulungagung

×

Ketua KADIN Bicara UMKM hingga Marmer, Menakar Masa Depan Ekonomi Tulungagung

Sebarkan artikel ini

Rifqi Firmansyah, S.H., Ketua KADIN Kabupaten Tulungagug, Jawa Timur.

TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Tulungagung sebenarnya tidak kekurangan modal untuk tumbuh. Di berbagai sudut daerah, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah terus bergerak. Produk lokal bermunculan. Sementara di sektor industri, marmer masih menjadi salah satu identitas ekonomi yang melekat kuat dengan nama Tulungagung.

Namun, potensi tidak selalu berbanding lurus dengan kekuatan ekonomi.
Di balik geliat usaha tersebut, masih terdapat persoalan yang membuat pertumbuhan ekonomi daerah belum maksimal. Legalitas UMKM, akses pembiayaan, jejaring bisnis, persaingan harga hingga sinergi antara pemerintah dan dunia usaha menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya selesai.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Tulungagung, Rifqi Firmansyah, S.H., melihat persoalan UMKM harus dibenahi dari fondasi paling dasar.

Salah satunya adalah akses modal.
Bukan berarti pembiayaan tidak tersedia. Pemerintah telah menyediakan berbagai fasilitas, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR). Masalahnya, tidak semua pelaku UMKM siap memenuhi persyaratan lembaga keuangan.
“Banyak UMKM kita yang belum memiliki legalitas usaha yang komplit,” kata Rifqi saat ditemui di Kantor KADIN Tulungagung, Rabu (20/8/2026).

Pernyataan itu memperlihatkan persoalan yang lebih dalam. UMKM tidak cukup hanya memiliki produk dan keberanian berjualan. Untuk berkembang, pelaku usaha membutuhkan administrasi yang tertata, pencatatan keuangan, manajemen usaha, kapasitas produksi, serta akses pasar.

Dengan kata lain, istilah “UMKM naik kelas” tidak boleh berhenti sebagai slogan.
Pelaku usaha harus benar-benar disiapkan agar memiliki profil bisnis yang dapat dipercaya lembaga keuangan maupun mitra usaha.

Digitalisasi Bukan Sekadar Masuk Marketplace

Era digital memang membuka pintu pasar yang jauh lebih luas. Produk UMKM kini bisa dipasarkan melalui media sosial maupun marketplace. Jarak antara produsen dan konsumen semakin pendek. Tetapi ada jebakan lain.

Ketika semua pelaku usaha masuk ke ruang digital tanpa strategi yang kuat, persaingan bisa berubah menjadi perang harga.
“Digitalisasi saja tidak cukup. Harus dibarengi dengan networking,” ujar Rifqi.

Di sinilah jejaring bisnis menjadi penting.
Produk yang bagus harus memiliki pasar yang jelas. Pelaku usaha harus memahami distribusi, membangun hubungan dengan mitra, membaca perubahan selera konsumen dan menemukan nilai tambah yang membuat produknya tidak mudah dibandingkan hanya dari sisi harga.

Jika tidak, digitalisasi justru berpotensi memperbesar persaingan yang menggerus margin keuntungan.
Karena itu, KADIN mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi yang tidak hanya mengajarkan pelaku UMKM bagaimana menjual produk, tetapi juga bagaimana membangun jaringan dan mempertahankan bisnis.
Marmer dan Persoalan Setelah Tambang
Persoalan berbeda muncul di industri marmer.

Marmer sudah lama menjadi bagian dari identitas Tulungagung. Namun, status sebagai ikon daerah belum otomatis membuat seluruh potensinya menghasilkan nilai tambah secara optimal.

Rifqi Firmansyah, S.J., Ketua KADIN Tulungagung di forum UMKM.

Menurut Rifqi, masih terdapat persoalan komunikasi dan sinergi antara pengusaha marmer dengan pemerintah daerah.
Padahal, dunia industri membutuhkan kepastian kebijakan, dukungan pemerintah, akses pasar dan ruang komunikasi yang efektif.

Di sisi lain, pemerintah membutuhkan industri yang mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi sekaligus menyerap tenaga kerja.

Tantangan marmer Tulungagung juga semakin kompleks karena bahan baku lokal semakin terbatas. Menariknya, industri tidak kemudian berhenti.

Bahan mentah justru didatangkan dari sejumlah daerah, seperti Lampung dan Makassar, bahkan dari Italia, untuk kemudian diolah di Tulungagung.
Fakta ini membuka perspektif baru.

Masa depan industri marmer Tulungagung tidak harus semata-mata bergantung pada seberapa banyak bahan tambang yang tersedia di daerah. Kekuatan baru justru bisa dibangun melalui industri pengolahan.
Jika bahan baku berasal dari luar, tetapi tenaga kerja, teknologi, proses produksi, desain, pemasaran dan branding dikerjakan di Tulungagung, maka nilai tambah ekonomi tetap dapat tinggal di daerah.

Bahkan, Tulungagung memiliki peluang untuk membangun posisi sebagai pusat pengolahan marmer bernilai tinggi.
Ketika Kualitas Belum Cukup Persoalannya, kualitas produk saja tidak cukup.

Rifqi menilai kemampuan produksi marmer Tulungagung saat ini sudah semakin mumpuni. Tantangan berikutnya adalah bagaimana membawa produk tersebut memiliki identitas yang kuat di pasar.

Sebab produk berkualitas belum tentu menjadi produk yang paling dikenal.
Tanpa branding, desain kompetitif, strategi pemasaran dan jaringan distribusi yang luas, produk lokal berpotensi kalah bersaing dengan produk dari daerah maupun negara lain.

Maka, identitas “marmer Tulungagung” perlu didorong lebih jauh. Bukan sekadar menunjukkan asal produk. Tetapi menghadirkan merek, desain dan kualitas yang mampu berbicara di pasar nasional bahkan internasional. Kolaborasi yang Jangan Berhenti di Meja Rapat

Pada akhirnya, persoalan UMKM maupun marmer memiliki satu titik temu: kolaborasi.

KADIN Tulungagung berencana mempertemukan pelaku industri marmer dengan pemerintah daerah untuk menyamakan visi sekaligus membahas persoalan yang selama ini menghambat perkembangan industri.

Namun, forum semacam itu baru akan berarti jika menghasilkan langkah konkret.
Pelaku usaha membutuhkan kebijakan yang memberikan kepastian. Pemerintah membutuhkan mitra dunia usaha yang mampu menciptakan investasi, nilai tambah dan lapangan kerja. Begitu pula UMKM.

Jangan sampai pelaku usaha terus diminta tumbuh dan naik kelas, sementara persoalan legalitas, pembiayaan, pemasaran dan pendampingan masih berjalan sendiri-sendiri.

Tulungagung sesungguhnya memiliki modal ekonomi yang besar. Tetapi potensi tidak boleh berhenti menjadi angka, slogan atau kebanggaan daerah.

UMKM harus diberi jalan untuk tumbuh.
Industri marmer harus diberi ruang untuk naik kelas. Dan pemerintah harus hadir bukan hanya sebagai regulator, tetapi menjadi bagian dari solusi.

Sebab, ukuran keberhasilan pembangunan ekonomi bukan sekadar seberapa besar potensi yang dimiliki sebuah daerah.
Ukuran sesungguhnya adalah seberapa besar potensi itu mampu diubah menjadi nilai tambah, membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Jurnalis: Pandhu