
TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Pemberdayaan perempuan di sektor ekonomi tidak cukup berhenti pada keberanian memulai usaha. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan usaha tersebut mampu tumbuh, memiliki pasar, dikelola secara profesional, dan naik kelas.
Pesan itu mengemuka dalam seminar kewirausahaan yang digelar Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Tulungagung bersama KADIN Institute Tulungagung, Rabu (19/8/2026).
Mengusung tema “Ibu Hebat, Dompet Sehat — Jangan Biarkan Perempuan Hanya sebagai Penonton”, forum yang berlangsung di Aula Lantai 3 Kantor KADIN Tulungagung tersebut membedah persoalan perempuan pelaku UMKM dari sisi yang lebih substantif.

Seminar menghadirkan Ir. Novi Hanifah, SE., MM., Wakil Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan KADIN Kabupaten Tulungagung, sebagai pemateri.
Ketua KADIN Tulungagung, Rifqi Firmansyah, S.H., menegaskan bahwa modal bukan satu-satunya persoalan dalam membangun usaha.
Menurutnya, keberanian mengambil keputusan, kemampuan membaca peluang, serta kesanggupan mengeksekusi gagasan justru menjadi modal awal yang sangat menentukan.
“Seandainya Anda semua hari ini saya beri modal sepuluh miliar rupiah, Anda pasti akan bingung mau buat usaha apa,” ujar Rifqi.
Pernyataan itu menyentil cara pandang yang selama ini kerap menempatkan keterbatasan modal sebagai hambatan utama dalam berwirausaha.
Padahal, ketika usaha sudah berjalan, persoalannya berkembang jauh lebih kompleks.
Produk tanpa identitas yang kuat, pencatatan keuangan yang lemah, pemasaran terbatas, manajemen yang belum tertata, hingga ketidakmampuan membaca perubahan perilaku konsumen dapat membuat UMKM berjalan di tempat.
Karena itu, perempuan pelaku UMKM tidak cukup hanya mengejar omzet harian. Mereka perlu memahami bagaimana membangun merek, menghitung biaya produksi secara tepat, menentukan harga, mengelola arus kas, memperluas pasar, membangun jaringan, serta menciptakan sistem usaha yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
Banyak usaha perempuan memang bermula dari ruang domestik. Dapur menjadi tempat produksi, halaman rumah menjadi etalase, sementara telepon genggam berubah menjadi toko digital.
Namun persoalan berikutnya adalah bagaimana usaha tersebut mampu keluar dari ruang domestik dan berkembang menjadi bisnis yang memiliki daya saing.
Di sinilah pemberdayaan perempuan harus bergerak dari sekadar pelatihan menuju pendampingan yang terukur.
Sebab, mengajarkan cara membuat produk dan memasarkannya melalui media sosial belum cukup. Pelaku usaha juga harus dibekali kemampuan mengelola keuangan, memahami pasar, membangun branding, mengembangkan produk, memanfaatkan teknologi, hingga menciptakan model bisnis yang tidak sepenuhnya bergantung pada pemilik.
Tanpa langkah tersebut, slogan pemberdayaan perempuan berisiko berhenti sebagai kegiatan seremonial.
KADIN Tulungagung menyatakan siap menjadi bagian dari ekosistem pendampingan perempuan pengusaha. Pendampingan diarahkan tidak hanya pada pembenahan manajemen, tetapi juga perluasan jejaring dan pembukaan akses usaha dengan investor.
Komitmen tersebut sekaligus menghadirkan pekerjaan rumah yang tidak ringan.
Sebab, ukuran keberhasilan pemberdayaan UMKM bukan berapa banyak seminar yang digelar, melainkan berapa banyak pelaku usaha yang benar-benar mengalami peningkatan setelah mendapatkan pendampingan.
Apakah omzet meningkat? Apakah pasar semakin luas? Apakah produk mampu masuk jaringan ritel yang lebih besar? Apakah usaha mampu membuka lapangan kerja? Dan apakah akses terhadap pembiayaan serta jaringan bisnis menjadi lebih mudah?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang semestinya menjadi indikator keberhasilan.
Kehadiran Novi Hanifah sebagai pemateri diharapkan tidak berhenti pada pemberian motivasi. Pemberdayaan perempuan membutuhkan langkah lanjutan agar pengetahuan yang diperoleh dalam forum dapat diterjemahkan menjadi keputusan bisnis dan pertumbuhan usaha.
Tema “Ibu Hebat, Dompet Sehat” juga membawa konsekuensi bagi penyelenggara. Ketika perempuan didorong berani menjadi pelaku ekonomi, maka akses terhadap pengetahuan, pasar, modal, teknologi, jejaring, dan pendampingan harus benar-benar dibuka.
Meminta perempuan berani berwirausaha tanpa membangun ekosistem bisnis yang mendukung sama saja dengan meminta mereka bertanding tanpa arena yang setara.
KADIN Tulungagung kini ditantang membuktikan bahwa komitmen pemberdayaan perempuan bukan sekadar slogan di ruang seminar.
Pada akhirnya, keberhasilan “Ibu Hebat, Dompet Sehat” harus terlihat dalam angka dan perubahan nyata: semakin banyak perempuan memiliki usaha yang sehat, pasar semakin luas, produk semakin kompetitif, omzet bertumbuh, dan lapangan kerja semakin banyak tercipta.
Di titik itulah perempuan tidak lagi menjadi penonton. Mereka harus menjadi pelaku sekaligus kekuatan baru ekonomi Tulungagung.
Jurnalis: Pandhu













