

BLITAR, HARIAN-NEWS.com — Malam itu, suasana hangat terasa di kawasan Wisata Edukasi Kampung Coklat, Kabupaten Blitar. Bukan sekadar ajang Halal Bihalal pasca Lebaran, pertemuan yang digagas H. Ahmad Tamim—akrab disapa Gus Tamim—berubah menjadi ruang belajar sekaligus gerakan nyata menuju kemandirian pangan berbasis rumah tangga, Rabu (1/4/2026).
Di tengah canda tawa dan jabat tangan penuh keakraban, para petani lokal, kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), hingga tokoh masyarakat berkumpul dengan satu semangat: mencari cara agar lahan pekarangan tak lagi sekadar ruang kosong, melainkan sumber kehidupan.
Gus Tamim tak datang hanya membawa pesan silaturahmi. Ia menghadirkan solusi. Melalui sosialisasi greenhouse skala kecil, para peserta diajak memahami bagaimana bertani secara lebih adaptif di tengah perubahan iklim yang kian tak menentu.
Materi yang disampaikan pun membumi—mulai dari cara membuat greenhouse sederhana, memilih bibit unggul, hingga teknik perawatan tanaman yang efisien.
Bahkan, peserta diberi kesempatan praktik langsung dan berdialog tentang persoalan yang selama ini mereka hadapi di lapangan.
“Hari ini bukan hanya soal Halal Bihalal. Kami ingin kader PKB sampai tingkat RT bisa mulai menanam sayur, lombok, dan tanaman lain di pekarangan rumah,” ujar Gus Tamim usai kegiatan.
Bagi Gus Tamim, langkah kecil seperti menanam di halaman rumah memiliki dampak besar. Ia menilai, greenhouse sederhana bukan hanya melindungi tanaman dari cuaca ekstrem, tetapi juga meningkatkan produktivitas secara signifikan.
Di sinilah gagasan besar itu bermula—ketahanan pangan tidak harus dimulai dari lahan luas, tetapi dari pekarangan rumah sendiri.
“Kalau ini dilakukan bersama-sama, maka ketahanan pangan keluarga akan kuat. Dari keluarga yang kuat, kita bisa menopang ketahanan pangan nasional,” tegasnya.
Kehadiran pengurus ranting PKB se-Kabupaten Blitar dalam kegiatan ini juga menjadi sinyal bahwa gerakan ini bukan sekadar wacana. Ada upaya kolektif untuk menjadikannya gerakan berkelanjutan yang menyentuh langsung masyarakat akar rumput.
Bagi para peserta, kegiatan ini bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membangkitkan harapan. Suparman (45), petani asal Kecamatan Sanankulon, mengaku termotivasi untuk segera mencoba metode greenhouse di rumahnya.
“Materinya mudah dipahami. Kami jadi tahu cara membuat greenhouse sederhana dan memilih bibit yang tepat. Semoga bisa menambah penghasilan keluarga,” ungkapnya.
Harapan serupa mengalir dari peserta lain. Mereka ingin program ini tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan terus berlanjut hingga benar-benar memberi dampak ekonomi dan sosial.Di balik suasana hangat Halal Bihalal, terselip pesan kuat: kemandirian pangan bisa dimulai dari rumah. Dan dari Blitar, langkah kecil itu kini mulai digerakkan.
Jurnalis::Etok
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !