160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Dari Jejak Purba ke Wajah Baru Kota: Tulungagung Merajut Identitas, Menjemput Lompatan Ekonomi

Yohanes Bagus Kuncoro, Kepala Bappeda Kabupaten Tulungagung

TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Di antara jejak purba dan denyut zaman, Tulungagung tengah menenun identitas barunya. Branding The Home of Wajakensis tidak lagi diposisikan sebagai slogan, melainkan jangkar arah pembangunan yang diharapkan mampu mengurai simpul-simpul usaha baru dan menggerakkan ekonomi kerakyatan secara berkelanjutan.

Kabupaten Tulungagung kini memasuki fase krusial dalam merumuskan wajah dan orientasi pembangunan jangka menengah.

Pemerintah daerah tak lagi semata bertumpu pada sektor konvensional, melainkan mulai mengawinkan warisan prasejarah, penataan ikon kota, hingga penguatan ekonomi kreatif dalam satu tarikan visi yang terintegrasi.

Hal tersebut terungkap dalam wawancara eksklusif Harian News bersama Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Tulungagung, Johanes Bagus Kuncoro, Selasa (24/2/2026), di Azana Hotel Tulungagung.

750 x 100 AD PLACEMENT

Pria yang akrab disapa Bagus itu memaparkan cetak biru pembangunan yang kini tengah dikawal instansinya. Menurutnya, Tulungagung tidak cukup hanya membangun fisik wilayah, tetapi juga harus memperkuat identitas sebagai daya ungkit ekonomi.

Salah satu langkah strategis yang sedang dimatangkan adalah redesign ikon Kota Tulungagung. Transformasi wajah kota tersebut, tegasnya, bukan gagasan populis sesaat, melainkan telah terintegrasi resmi dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
“Perubahan tata ruang dan wajah kota tidak bisa dilakukan secara instan. Harus terencana, bertahap, dan disesuaikan dengan kapasitas fiskal daerah,” ujarnya.

Yohanes Bagus Kuncoro, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Tulungagung memaparkan tentang rencana Resign Ikon  Tulungagung, Selasa (24/2/2026).

Geopark sebagai Lokomotif Identitas
Sebagai lokomotif awal, Bappeda memprioritaskan pengembangan Geopark Tulungagung yang dinilai memiliki nilai historis sekaligus potensi ekonomi tinggi. Kawasan Campurdarat—tempat ditemukannya fosil manusia purba Homo wajakensis—menjadi fondasi narasi besar tersebut.

Jejak arkeologis itu bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi hendak diangkat menjadi identitas masa depan. Dokumen kajian ilmiah dan persyaratan administratif untuk pengajuan status Geopark Nasional telah dirampungkan dan kini memasuki tahap evaluasi pemerintah pusat.

750 x 100 AD PLACEMENT

Namun ambisi tersebut tidak berhenti pada status administratif semata. Branding The Home of Wajakensis, kata Bagus, harus hidup dalam denyut ekonomi masyarakat.
“Ketika ada event kebudayaan, pameran, atau pembangunan infrastruktur di kawasan itu, masyarakat sekitar harus menjadi pelaku utama, bukan sekadar penonton,” tegasnya.

Konsep Geopark dirancang secara holistik—menyentuh aspek edukasi, konservasi, hingga pemberdayaan ekonomi lokal. Harapannya, kawasan ini menjadi episentrum pertumbuhan usaha berbasis komunitas.

Museum dan Tantangan Fiskal
Untuk memperkuat narasi sejarah tersebut, Pemerintah Kabupaten Tulungagung juga merancang pembangunan Museum Homo Wajakensis. Museum ini diproyeksikan sebagai pusat edukasi, penelitian, sekaligus destinasi wisata sejarah unggulan di wilayah selatan Jawa Timur.

Namun keterbatasan APBD menjadi tantangan tersendiri. Pembangunan museum representatif membutuhkan pembiayaan besar. Karena itu, Bappeda telah mengajukan proposal pendanaan melalui skema APBN.
“Kami realistis. Perencanaan harus sejalan dengan kemampuan fiskal. Sinergi dengan pusat menjadi kunci,” jelasnya.

750 x 100 AD PLACEMENT

Merangkul Industri Kreatif
Tak hanya menatap lorong sejarah, Bappeda juga mulai membuka jendela bagi industri kreatif, termasuk perfilman lokal. Sektor ini diakui masih relatif baru dalam peta kebijakan daerah.

Saat ini, belum tersedia basis data komprehensif terkait ekosistem sineas dan komunitas kreatif di Tulungagung. Karena itu, pendekatan partisipatif menjadi pilihan.
“Kami tidak ingin membuat kebijakan top-down yang tidak tepat sasaran. Kami butuh masukan langsung dari para kreator muda,” ujar Bagus.

Ruang dialog dan kolaborasi dibuka untuk memetakan potensi, hambatan, dan kebutuhan pelaku industri kreatif. Langkah ini dipandang penting guna membangun ekosistem yang sehat dan berkelanjutan.

Visi pembangunan yang kini dirancang menunjukkan upaya menyeimbangkan pelestarian warisan masa lalu dengan tuntutan kemajuan zaman. Dari jejak Homo wajakensis di Campurdarat hingga ruang-ruang diskusi sineas muda, arah pembangunan Tulungagung tengah dirajut menjadi lebih inklusif dan berdampak ekonomi.

Dengan strategi terukur, kolaboratif, dan berorientasi pada identitas daerah, Tulungagung sedang menyiapkan lompatan besar—bukan sekadar membangun infrastruktur, tetapi membangun makna dan masa depan.

Jurnalis: Pandhu/Rif

Berita Terkait
930 x 180 AD PLACEMENT
Ayo ikut berpartisipasi untuk mewujudkan jurnalistik berkualitas!
Promo Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !