160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

UBHI Tulungagung Gelar Workshop “AI Outlook & Potential 2026”.

2. Narasumber, panitia, dan ratusan mahasiswa berfoto bersama usai workshop AI yang membahas optimalisasi potensi bisnis berbasis kecerdasan buatan di UBHI PGRI Tulungagung.
Narasumber dari RTIK Jawa Timur menyampaikan materi tentang pemanfaatan AI di hadapan mahasiswa dalam workshop “AI Outlook & Potential 2026 with Hertech” di Auditorium Universitas Bhineka PGRI Tulungagung, Sabtu (14/2/2026).

TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Transformasi digital bukan lagi sekadar wacana seminar. Ia telah menjadi arus besar yang menuntut keberanian beradaptasi. Menjawab tantangan tersebut, Universitas Bhineka PGRI Tulungagung (UBHI) menggelar workshop bertajuk “AI Outlook & Potential 2026 with Hertech” pada Sabtu (14/2/2026) di auditorium kampus setempat.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari ICT Watch dan Relawan TIK Jawa Timur (RTIK Jatim), mengangkat tema optimalisasi bisnis di era digital serta pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai fondasi pengembangan usaha.

Workshop ini tidak hanya membahas aspek teknis teknologi, tetapi juga menjadi refleksi bagi dunia pendidikan tinggi dan pelaku usaha daerah: siapkah beradaptasi, atau justru tertinggal?

Ketua Unit Inkubator Bisnis UBHI, Pangki Suseno, menegaskan AI tidak boleh berhenti sebagai alat bantu akademik. Selama ini, mahasiswa memanfaatkannya untuk merapikan tugas, mempercepat pencarian referensi, hingga membantu penyusunan skripsi. Namun menurutnya, yang terpenting bukan sekadar penggunaan, melainkan arah pemanfaatannya.
“AI harus diorientasikan sebagai mesin produktivitas bisnis,” ujarnya.

750 x 100 AD PLACEMENT
3. Pangki Suseno, Ketua Unit Inkubator Bisnis UBHI Tulungagung, menyampaikan paparanntentang pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) sebagai strategi pengembangan usaha
mahasiswa dalam workshop “AI Outlook & Potential 2026 with Hertech”, Sabtu (14/2/2026).

Mahasiswa, lanjut Pangki, perlu didorong menggunakan AI untuk merancang konten pemasaran, menyusun proposal usaha, memproduksi materi promosi berbasis otomatisasi, hingga membaca tren pasar. Dengan demikian, AI menjadi instrumen peningkatan nilai tambah, bukan sekadar “penolong tugas”.

UBHI juga mengaitkan penguasaan teknologi ini dengan Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi, di mana kewirausahaan menjadi salah satu prasyarat akademik sebelum mahasiswa menuju yudisium. Langkah tersebut menegaskan komitmen kampus dalam mencetak pencipta peluang, bukan hanya pencari kerja.

Di sisi lain, Ketua RTIK Jawa Timur, Muhajir Shultonul Azis, menyoroti kesenjangan kompetensi antara mahasiswa dan sebagian tenaga pengajar. Mahasiswa sebagai generasi digital native dinilai lebih cepat mengadopsi generative AI dalam aktivitas akademik.

Sebaliknya, tidak semua dosen memiliki kecepatan adaptasi yang sama. Menurutnya, tanpa transformasi metode pembelajaran, ruang kelas berpotensi kehilangan relevansi. Fasilitas laboratorium AI yang telah tersedia di sejumlah kampus, termasuk di Universitas Brawijaya, tidak akan optimal tanpa keterbukaan pola pikir dan kemauan belajar bersama.
Di sektor ekonomi, AI dinilai membuka peluang besar bagi UMKM untuk naik kelas. Digitalisasi tidak cukup berhenti pada promosi media sosial, tetapi harus berkembang ke analisis tren pasar, segmentasi pelanggan, hingga perencanaan produksi berbasis data.
Dengan pemanfaatan AI, pelaku usaha kecil dapat melakukan riset dan pengembangan (R&D) secara lebih efisien dan presisi. Namun Muhajir mengingatkan, tanpa literasi digital yang memadai dan ekosistem pendampingan yang kuat, AI hanya akan menjadi istilah asing di lapangan.
Isu regulasi juga menjadi sorotan. Perkembangan AI yang sangat cepat sering kali tidak diimbangi kebijakan yang adaptif. Pendekatan pemblokiran platform dinilai tidak menyentuh akar persoalan.
“Yang lebih penting adalah membangun kesadaran penggunaan yang etis dan bertanggung jawab,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya literasi digital yang mencakup kecakapan, keamanan, budaya, dan etika, melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan komunitas.

750 x 100 AD PLACEMENT

Workshop di UBHI Tulungagung ini menjadi momentum refleksi bahwa AI tidak lagi menunggu kesiapan manusia. Di tengah kompetisi global yang kian digital, keunggulan ditentukan oleh kemampuan beradaptasi.
Bagi kampus dan UMKM daerah, 2026 menjadi titik pembuktian: berani bertransformasi untuk melompat lebih jauh, atau tertinggal di tengah percepatan zaman.
Jurnalis: Pandhu/Rif

Berita Terkait
930 x 180 AD PLACEMENT
Ayo ikut berpartisipasi untuk mewujudkan jurnalistik berkualitas!
Promo Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !