Seni Budaya

Kauman Jadul Meledak! Nostalgia 80-an Hidupkan Budaya dan Ekonomi Warga

×

Kauman Jadul Meledak! Nostalgia 80-an Hidupkan Budaya dan Ekonomi Warga

Sebarkan artikel ini
Kepala Desa Kauman Brida Mardi Utomo, S.E.,(baju biru) bersama bersama Camat Kauman Ima Suwoyo, Bhabinkamtibmas Desa Kauman. Perwakilan BPD, Perangkat dan Noval KDI.
Berebut jajanan jadul

 

TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Lagu-lagu lawas era 1980-an kembali menggema di Balai Desa Kauman, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung, Sabtu (29/8/2026) malam.

Warga datang dengan mengenakan pakaian bergaya jadul. Panggung karaoke, hiburan seni budaya, hingga deretan stan kuliner membuat suasana perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Kauman terasa berbeda.

Kepala Desa Kauman Brida Mardi Utomo, S.E., buka acara dan sanbutan.

Namun, “Kauman Jadoel” bukan sekadar pesta nostalgia. Di balik musik lawas dan kostum era 1980-an, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk merawat budaya, memperkuat kebersamaan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat desa.

Rangkaian kegiatan yang berlangsung pada 29–30 Agustus 2026 itu dikemas dengan konsep nostalgia. Hiburan seni budaya, lomba karaoke, pasar rakyat dan kuliner tradisional dipadukan dalam satu panggung perayaan kemerdekaan.

Kepala Desa Kauman Brida Mardi Utomo, S.E., membuka kegiatan dengan rasa syukur karena masyarakat dapat kembali berkumpul dalam suasana sehat, guyub dan penuh kebersamaan.

Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Camat Kauman Drs. Imam Suwoyo, M.Si., perwakilan BPD Desa Kauman, perangkat desa, sesepuh dan pinisepuh, tokoh masyarakat serta warga.

Kades Brida turut berkaraoke ria lagu tahun 80-an

Karaoke Bukan Sekadar Bernyanyi

Panggung utama menjadi pusat perhatian warga. Sebanyak 12 peserta dari berbagai wilayah Desa Kauman mengikuti lomba karaoke dengan membawakan lagu-lagu lawas.

Uniknya, peserta tidak hanya dituntut memiliki kemampuan bernyanyi. Mereka juga diwajibkan mengenakan pakaian atau kostum yang merepresentasikan gaya era 1980-an.

Alhasil, lomba karaoke berubah menjadi pertunjukan nostalgia yang mampu menghibur berbagai kelompok usia.

Penilaian dilakukan secara terukur. Kualitas vokal mendapat bobot 40 persen, ketepatan nada dan lirik 20 persen, penampilan serta kostum 20 persen, penghayatan dan ekspresi 10 persen, serta kreativitas dan kesesuaian tema 10 persen.

 

Untuk menjaga kualitas penjurian, panitia menghadirkan Noval KDI (KDI 2015) dan Dallyn Maghfiroh sebagai dewan juri.

Nuansa jadul bahkan ikut ditampilkan Kepala Desa Kauman Brida Mardi Utomo. Mengenakan busana bernuansa lawas dan kacamata hitam, penampilannya diselingi candaan sehingga suasana semakin cair.

Empat Dusun Ikut Menggerakkan Ekonomi

Di tengah kemeriahan panggung hiburan, geliat ekonomi warga juga terlihat melalui bazar kuliner.

Empat dusun di Desa Kauman, yakni Kauman, Tawang, Jetaan dan Kalitumpang, ikut membuka stan makanan.

Beragam makanan ditawarkan kepada pengunjung, mulai bakso, sate ayam hingga jajanan tradisional seperti klepon, kicak dan cenil.

Salah satu sajian yang turut menarik perhatian warga adalah kolak kacang hijau racikan Pak Ponirin.

Bazar tersebut menunjukkan bahwa perayaan kemerdekaan bisa sekaligus menjadi ruang ekonomi sederhana bagi masyarakat.

Warga tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi juga menjadi pelaku usaha. Produk mereka dipasarkan langsung kepada masyarakat sehingga perputaran uang diharapkan tetap terjadi di lingkungan desa.

Camat Kauman Imam Suwoyo memberikan apresiasi terhadap keterlibatan masyarakat dalam bazar. Kegiatan tersebut dinilai mampu mempertemukan semangat gotong royong dengan pemberdayaan ekonomi lokal.

Prinsip “dari warga, oleh warga, dan untuk warga” terasa kuat. Masyarakat memproduksi, menjual dan menikmati hasil kegiatan di lingkungan mereka sendiri.

Camat Ikut Naik Panggung

Suasana semakin akrab ketika Camat Kauman Imam Suwoyo didaulat ikut menyumbangkan suara.

Momen tersebut menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat. Kehadiran pejabat yang ikut membaur bersama warga juga memperlihatkan bahwa perayaan kemerdekaan dapat menjadi ruang untuk memangkas jarak antara pemerintah dan masyarakat.

Camat Kauman Imam Suwoyo

Tidak ada sekat formal di atas panggung. Pejabat, perangkat desa, tokoh masyarakat dan warga berada dalam ruang yang sama, menikmati hiburan sekaligus merayakan kemerdekaan.

Bagi warga, suasana semacam itu justru menjadi bagian penting dari makna kemerdekaan.

Kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui upacara dan pidato. Kemerdekaan juga hadir ketika masyarakat bisa berkumpul, tertawa, menikmati budaya dan menghidupkan ekonomi di lingkungannya sendiri.

Nostalgia Menjadi Kekuatan Desa

“Kauman Jadoel” memperlihatkan bahwa perayaan HUT RI dapat dikemas secara kreatif tanpa kehilangan akar budaya masyarakat.

Nostalgia era 1980-an menjadi pintu masuk. Musik dan seni menjadi hiburan, kuliner tradisional menjadi identitas, sedangkan bazar menjadi ruang ekonomi bagi warga untuk bergerak.

Di tengah perubahan zaman, mengangkat kembali budaya “tempo dulu” menjadi pengingat bahwa modernisasi tidak harus berarti meninggalkan tradisi.

Perayaan tersebut pada akhirnya bukan semata soal siapa yang menjadi juara karaoke atau siapa yang paling menarik mengenakan kostum jadul.

Lebih jauh, kegiatan itu menunjukkan bagaimana sebuah desa dapat memanfaatkan momentum kemerdekaan untuk memperkuat persaudaraan, merawat budaya lokal dan memberikan ruang ekonomi kepada warganya.

Rangkaian Kauman Jadoel dijadwalkan berlanjut hingga Minggu (30/8/2026) dan ditutup dengan pembagian hadiah bagi para pemenang lomba.

Dari Balai Desa Kauman, nostalgia masa lalu menemukan makna baru: merawat yang pernah ada, menghidupkan yang mulai terlupakan, dan menjadikannya kekuatan bagi masyarakat hari ini.

Jurnalis: Pandhu