
TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Jalanan Desa Gedangsewu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, berubah menjadi panggung budaya pada Sabtu (22/8/2026).
Ribuan warga tumpah ruah menyaksikan Sound Carnival Gedangsewu yang digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Mengusung slogan “Bersatu dalam Budaya, Maju Bersama Desa”, kegiatan yang dimulai sejak pukul 15.00 WIB tersebut bukan sekadar hiburan tahunan.

Pemerintah Desa Gedangsewu menjadikan momentum kemerdekaan sebagai ruang untuk memperkuat persatuan warga sekaligus mempertahankan kesenian tradisional di tengah semakin kuatnya tren pertunjukan dengan sound system berkapasitas besar.
Antusiasme masyarakat bahkan telah terasa jauh sebelum karnaval digelar. Warga terus mempertanyakan jadwal pelaksanaan karena acara tersebut telah menjadi salah satu agenda yang dinantikan setiap Agustus.
Kepala Desa Gedangsewu, Miswan, menilai tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa semangat gotong royong dan kecintaan terhadap budaya masih hidup kuat di tengah masyarakat.
Menurutnya, karnaval tidak boleh berhenti pada kemeriahan semata. Kegiatan tersebut harus mampu menjadi ruang bersama bagi masyarakat, seniman lokal, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk bergerak dan tumbuh bersama.
Libatkan 16 Kelompok dari Enam RW
Kemegahan karnaval terlihat dari keterlibatan masyarakat yang cukup besar. Sebanyak 16 kelompok dari enam RW ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Setiap kelompok membawa puluhan hingga ratusan peserta, dengan jumlah berkisar antara 70 hingga 150 orang dalam setiap rombongan.
Mereka bergerak menyusuri rute sekitar tiga kilometer, dimulai dari wilayah selatan Desa Gedangsewu, melewati Balai Desa, kemudian berakhir di kawasan ujung barat desa.
Barisan peserta yang panjang membuat suasana desa berubah menjadi lautan manusia. Warga dari berbagai kelompok usia berkumpul di sepanjang jalan untuk menyaksikan pertunjukan sekaligus memberikan dukungan kepada peserta.
Batasi Sound System, Utamakan Seni Tradisional
Di balik kemeriahan tersebut, Pemerintah Desa Gedangsewu mengambil sikap berbeda terhadap penggunaan sound system.
Di tengah maraknya fenomena sound horeg yang menggunakan perangkat suara berkapasitas besar, Pemerintah Desa Gedangsewu justru membatasi penggunaan sound system.
Sound system dalam karnaval dibatasi maksimal sekitar empat hingga enam subwoofer.
Kebijakan tersebut menjadi penegasan bahwa kemeriahan tidak harus selalu diukur dari seberapa keras suara yang dihasilkan.
Bagi Pemerintah Desa Gedangsewu, pertunjukan budaya harus tetap menjadi pusat perhatian.
Berbagai kesenian tradisional ditampilkan, mulai dari Reog Kendang, Tari Kecak Bali, Dadak Merak, hingga drama kolosal.
Dengan pembatasan perangkat suara, pertunjukan tersebut diharapkan tidak kehilangan karakter dan tidak tenggelam di balik dentuman musik berintensitas tinggi.
Langkah tersebut sekaligus menunjukkan adanya upaya mencari titik temu antara perkembangan hiburan modern dan keberlangsungan budaya tradisional.
Sebab, jika karnaval hanya berubah menjadi ajang adu keras suara, substansi kebudayaan berpotensi kehilangan ruang.
Beri Dampak Ekonomi bagi UMKM
Karnaval juga memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Kerumunan warga dan peserta menciptakan ruang bagi pelaku UMKM untuk menawarkan berbagai produk kepada pengunjung.
Bagi desa, kondisi tersebut menjadi peluang agar kegiatan kebudayaan tidak hanya menghasilkan hiburan, tetapi juga memberikan efek ekonomi langsung kepada masyarakat.
Jalan desa yang biasanya menjadi ruang mobilitas sehari-hari berubah menjadi ruang interaksi sosial dan ekonomi. Pedagang, pelaku UMKM, seniman, peserta karnaval, hingga masyarakat umum bertemu dalam satu momentum.
Dengan demikian, karnaval menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial peringatan kemerdekaan.
Berlanjut hingga Malam
Kemeriahan tidak berhenti ketika matahari terbenam. Rangkaian kegiatan berlanjut hingga malam dengan berbagai pertunjukan tradisional.
Penampilan Tari Bujang Ganong, Jaranan Jedor, dan Kuda Lumping menjadi bagian dari pertunjukan yang menarik perhatian masyarakat.
Ribuan warga tetap bertahan hingga malam. Acara kemudian ditutup sekitar pukul 23.00 WIB.
Besarnya jumlah masyarakat yang hadir juga menuntut pengamanan dan pengaturan lalu lintas yang tidak sederhana. Koordinasi antara pemerintah desa, peserta, aparat, dan masyarakat di sepanjang jalur karnaval menjadi faktor penting agar kegiatan tetap berjalan tertib.
Meriah Tanpa Kehilangan Identitas
Karnaval Gedangsewu pada akhirnya memperlihatkan bahwa perayaan kemerdekaan tidak selalu harus dikemas dengan pesta yang serba modern.
Di tengah derasnya perubahan zaman dan popularitas hiburan berbasis sound system berkapasitas besar, masyarakat Gedangsewu memilih tetap memberikan ruang yang besar bagi kesenian tradisional.
Pesan yang dibawa pun menjadi jelas: kemajuan desa tidak harus mengorbankan identitas budaya.
Melalui slogan “Bersatu dalam Budaya, Maju Bersama Desa”, Pemerintah Desa Gedangsewu berupaya menempatkan karnaval sebagai ruang persatuan sekaligus panggung bagi kebudayaan lokal.
Kemeriahan memang menjadi wajah luarnya. Namun, di balik parade dan sorak penonton, terdapat pesan yang jauh lebih penting: budaya hanya akan tetap hidup apabila masyarakat tidak sekadar menjadi penonton, tetapi ikut menjaga, menampilkan, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Gedangsewu pun menunjukkan bahwa dari sebuah desa, semangat kemerdekaan dapat dirayakan dengan cara yang meriah tanpa kehilangan akar budaya dan semangat gotong royong.
Jurnalis: Pandhu














