Koko Thole, komposer musik, konten kreator kuliner, dan penggiat Event Organizer (EO) di Jong Java,
Tulungagung, Kamis (30/7/2026).
TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com – Paradigma pemasaran digital bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mulai mengalami pergeseran. Jika selama ini media sosial dianggap sebagai arena utama untuk memperkenalkan produk dan mengejar popularitas, kini konsumen justru semakin mengandalkan mesin pencarian dan layanan berbasis lokasi untuk menentukan pilihan mereka.
Fenomena tersebut menjadi perhatian komposer musik, konten kreator kuliner, sekaligus penggiat Event Organizer (EO), Joko “Koko Thole”, saat menjadi narasumber dalam seminar digitalisasi UMKM yang digelar di Jong Java,
Tulungagung, Kamis (30/7/2026).
Di hadapan para pelaku usaha, Joko menegaskan bahwa ukuran keberhasilan promosi digital tidak lagi ditentukan oleh jumlah tayangan, tanda suka, atau tingkat viralitas sebuah konten.
Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah kemampuan menghadirkan calon pelanggan yang benar-benar datang dan melakukan transaksi.
“Media sosial kadang terlalu fake. Orang sudah mulai sulit percaya karena banyak konten yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya,” ujarnya.
Menurut Koko, perubahan perilaku masyarakat dalam mencari informasi harus menjadi perhatian serius para pelaku UMKM. Ketika membutuhkan tempat makan, kedai kopi, bengkel, atau layanan tertentu, masyarakat kini lebih sering membuka Google Maps dibandingkan menelusuri media sosial.
Karena itu, ia menilai keberadaan Google Business Profile dan Google Maps saat ini telah menjadi instrumen pemasaran yang sangat strategis bagi usaha lokal.
Melalui platform tersebut, konsumen dapat memperoleh informasi yang lebih akurat mengenai lokasi usaha, jam operasional, nomor kontak, foto produk, hingga ulasan pelanggan.
“Kalau orang tidak menemukan bisnis Anda di Google Maps, peluang kehilangan pelanggan juga semakin besar,” tegasnya.

Koko menilai masih banyak pelaku UMKM yang belum memanfaatkan fasilitas tersebut secara optimal. Padahal, layanan yang disediakan Google dapat digunakan secara gratis dan memiliki pengaruh besar terhadap keputusan konsumen.
Dalam sesi seminar, Koko bahkan mengajak peserta untuk memeriksa status akun Google Maps masing-masing, khususnya level Local Guide. Hasilnya, sebagian besar peserta masih berada pada level rendah, yang menunjukkan minimnya partisipasi dalam memperbarui informasi lokasi maupun memberikan ulasan.
Menurutnya, aktivitas tersebut bukan sekadar hobi digital. Semakin aktif seseorang memberikan foto, ulasan, dan pembaruan data, semakin tinggi pula tingkat kepercayaan yang diberikan sistem Google terhadap akun tersebut.
Kondisi itu, kata dia, menunjukkan bahwa transformasi digital tidak cukup berhenti pada kemampuan membuat konten media sosial. Pelaku usaha juga harus memahami bagaimana mesin pencari bekerja serta bagaimana konsumen menemukan bisnis mereka di ruang digital.
Ia juga mengkritisi kecenderungan sebagian pelaku usaha yang rela mengeluarkan biaya besar untuk promosi media sosial tanpa strategi yang jelas dan terukur.
“Buat apa konten viral sampai ditonton orang Korea atau Taiwan kalau yang dijual kopi di Tulungagung?” ujarnya disambut tawa peserta seminar.
Menurut Koko, promosi yang efektif harus mampu menjangkau konsumen yang memang memiliki kebutuhan terhadap produk atau jasa yang ditawarkan. Dalam konteks tersebut, Google Maps dinilai lebih relevan karena bekerja berdasarkan lokasi dan kebutuhan pencarian pengguna.
Ketika seseorang mengetik kata kunci seperti “warung kopi terdekat”, “bakso terdekat”, atau “jasa servis AC terdekat”, sistem akan menampilkan usaha-usaha yang memiliki profil bisnis lengkap dan mudah ditemukan. Peluang terjadinya transaksi pun menjadi lebih besar karena calon pelanggan memang sedang mencari layanan tersebut.
Selain sebagai sarana promosi, Koko melihat rendahnya literasi digital UMKM juga membuka peluang ekonomi baru. Pengelolaan Google Business Profile kini berkembang menjadi layanan profesional yang dibutuhkan banyak pelaku usaha.
Mulai dari pembuatan titik lokasi, pengelolaan foto usaha, pembaruan informasi bisnis, hingga optimalisasi profil pencarian dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat yang memiliki keterampilan digital.
Menurutnya, peluang tersebut layak dimanfaatkan oleh generasi muda karena kebutuhan pasar terus meningkat seiring bertambahnya jumlah usaha yang ingin memperkuat kehadiran digital mereka.
Lebih jauh, seminar tersebut tidak sekadar membahas penggunaan sebuah aplikasi, melainkan mengingatkan pentingnya perubahan pola pikir dalam menghadapi persaingan ekonomi digital yang semakin ketat.
Di tengah melimpahnya produk dan layanan yang tersedia, tantangan terbesar pelaku UMKM saat ini bukan hanya menghasilkan produk berkualitas, tetapi memastikan produk tersebut dapat ditemukan dengan mudah oleh calon konsumen.
Usaha yang sulit ditemukan di ruang pencarian berisiko kehilangan pasar meskipun memiliki kualitas yang baik. Sebaliknya, pelaku usaha yang mampu memanfaatkan ekosistem digital secara tepat memiliki peluang lebih besar untuk bertahan, berkembang, dan memenangkan persaingan tanpa harus bergantung pada promosi yang semata-mata mengejar viralitas.
Jurnalis: Pandhu













