

BLITAR, HARIAN-NEWS.com – Pemerintah Kabupaten Blitar melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) mempercepat perbaikan jalan menjelang arus mudik Lebaran 2026.
Upaya tersebut dilakukan melalui Unit Reaksi Cepat (URC) yang dibagi menjadi empat tim dan bekerja secara simultan hingga Lebaran.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Blitar, Agus Zaenal Arifin, mengatakan bahwa pergerakan tim dimulai dari wilayah terluar Kabupaten Blitar agar penanganan bisa lebih cepat dan merata.
“Pergerakan dimulai dari wilayah Wates, Ngeni, dan Wonotirto. Karena pengerjaan dilakukan secara simultan hingga Lebaran, target kami jalan bisa dilalui dengan aman dan tidak ada lubang yang membahayakan pengguna jalan,” jelas Agus.
Ia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Blitar juga mendapat tambahan dukungan material dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur berupa 250 drum bahan aspal. Bantuan tersebut menjadi modal penting yang dikombinasikan dengan anggaran URC untuk mempercepat penanganan jalan rusak.
Menurutnya, perbaikan yang dilakukan oleh URC bersifat sementara dengan metode tambal sulam menggunakan material coldmix dan aspal cair. Langkah ini dilakukan agar kondisi jalan tetap aman dilalui masyarakat.
“Penanganan URC sifatnya tambal sulam menggunakan coldmix dan aspal cair. Yang terpenting masyarakat tidak terganggu dan tetap aman saat melintas,” ujarnya.
Selain penanganan darurat, Pemkab Blitar juga menyiapkan anggaran sebesar Rp111 miliar untuk perbaikan jalan secara menyeluruh di berbagai wilayah Kabupaten Blitar.
Total terdapat sekitar 260 titik perbaikan yang tersebar di 22 kecamatan. Anggaran tersebut digunakan untuk pembangunan jalan, pemeliharaan berkala, serta rehabilitasi jalan menggunakan material hotmix maupun beton, menyesuaikan kondisi wilayah dan kebutuhan penggunaan jalan.
“Jika ruas jalan tersebut sering dilalui kendaraan berat seperti truk bermuatan besar, maka digunakan konstruksi beton yang memiliki struktur lebih kuat,” terang Agus.
Ia menambahkan, saat ini juga dilakukan perbaikan gorong-gorong yang rusak. Setelah proses pengecoran, gorong-gorong tersebut membutuhkan waktu sekitar 27 hari hingga beton benar-benar kuat sebelum dibuka kembali untuk lalu lintas kendaraan.
Agus menjelaskan, sebagian besar kerusakan jalan yang terjadi di wilayah Blitar Selatan disebabkan oleh kendaraan berat bermuatan besar, seperti truk pengangkut tebu dan komoditas lainnya yang melintas di jalur utama.
Meski demikian, pihak dinas tidak memiliki kewenangan untuk melarang kendaraan berat melintasi jalur tersebut. Karena itu, solusi yang dilakukan adalah mempercepat perbaikan jalan utama agar tetap layak dilalui.
“Harapannya, dengan percepatan perbaikan ini keselamatan masyarakat, baik yang mudik maupun yang berwisata ke pantai di Blitar Selatan, bisa lebih terjamin,” katanya.
Perbaikan jalan tersebut telah dimulai sejak Februari 2026 dan ditargetkan rampung sebelum Lebaran, khususnya pada jalan protokol dan jalur utama menuju kawasan wisata di Blitar Selatan.
Tidak kurang dari 50 ruas jalan telah diperbaiki sejak Februari lalu. Untuk mengantisipasi lonjakan arus mudik, beberapa ruas jalan juga dikebut pengerjaannya agar dapat digunakan masyarakat saat Lebaran.
Beberapa ruas jalan yang menjadi prioritas perbaikan antara lain Siraman–Batas Kota, Kawedusan–Bacem Batas Kediri, Bendo–Maron, Semen–Krisik Batas Malang, Nglegok Penataran–Dayu Nglegok, Kademangan–Tambakrejo, Panggungrejo–Pantai Serang, serta Kademangan–Darungan Sutojayan.
“Perbaikan ini dilakukan oleh URC jalan. Meski sifatnya sementara, setidaknya bisa menutup lubang-lubang yang berpotensi membahayakan pengguna jalan,” pungkas Agus.
Jurnalis : Etok,/Rif
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !