


TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com – Sejak Jum’at sore langkah-langkah warga mengalir menuju Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Tulungagung. Di bawah langit yang kadang teduh, kadang mendung, ribuan orang berkumpul bukan sekadar untuk menyaksikan gunting pita. Mereka datang untuk merasakan denyut ekonomi yang benar-benar hidup.
Grand Opening Kantor KADIN Tulungagung pada Jumat (13/02/2026) yang berada di sisi Utara Simpang Empat Kenongo (ex Gorga).
Tak berhenti pada seremoni. Ia dirancang sebagai panggung pelayanan publik dan penguatan UMKM dalam satu tarikan napas.
Senam massal membuka hari, disusul bazar rakyat, pertunjukan jaranan, hingga penampilan musik yang menjaga suasana tetap hangat dan akrab.
Namun magnet sesungguhnya bukanlah panggung hiburan itu.

Di tengah hiruk pikuk stan kuliner dan kerajinan, antrean justru mengular di meja-meja pelayanan. Pelaku UMKM mengurus PIRT, sertifikat halal, dan Nomor Induk Berusaha (NIB).
Warga mengurus KTP dan KK, memeriksakan kesehatan gratis, hingga mendonorkan darah. Layanan perizinan serta perpanjangan SIM A dan SIM C pun tersedia di ruang terbuka.
Model pelayanan terpadu ini menghadirkan kemudahan yang jarang ditemui. Bagi sebagian pelaku usaha kecil, legalitas kerap menjadi tembok tinggi—terbentur prosedur, waktu, dan biaya. Di momentum ini, tembok itu terasa lebih rendah. Formalitas usaha yang tertunda menemukan jalannya.

Di salah satu sudut bazar, Johan (19) sibuk melayani pembeli dimsum. Uap panas dari kukusan tak berhenti mengepul. Senyumnya tak pernah lepas.
“Biasanya sehari paling laku puluhan porsi. Di sini bisa tembus lebih dari seratus. Hampir dua kali lipat dibanding hari biasa,” ujarnya.
Bagi Johan, lonjakan itu bukan sekadar angka. Banyak pembeli baru mengenal produknya untuk pertama kali, bahkan meminta nomor kontak untuk pemesanan ulang. Jejaring pelanggan, bagi pelaku usaha mikro, adalah napas panjang yang menentukan keberlanjutan.
Meski sempat dihadapkan pada cuaca dan ketatnya persaingan antarstan, Johan melihat antusiasme pengunjung sebagai energi positif.
Ia berharap kegiatan serupa tak berhenti sebagai agenda seremonial.
“Kalau hanya ramai sehari, dampaknya terbatas. Tapi kalau ada pembinaan berkelanjutan, seperti pelatihan pemasaran digital dan akses permodalan, pedagang kecil bisa benar-benar naik kelas,” katanya.
Diantara pengunjung bernama David Tio(21) menyampaikan perasaan senang dan bangga atas diselenggarakannya Festival Bazar Rakyat.

“Ada rasa bangga bisa belanja langsung dari pelaku usahanya. Kita tahu siapa yang membuat dan bagaimana prosesnya,” tuturnya.
Menurutnya, kualitas produk UMKM Tulungagung tak kalah dari luar daerah—bahkan beberapa lebih kreatif dan unik dengan harga yang sepadan. Ia hanya menyarankan penambahan area parkir dan tempat duduk bila acara serupa digelar lebih besar.
Hari itu, ruang publik berubah menjadi ruang ekonomi. Bazar yang memicu kenaikan omzet berpadu dengan layanan legalitas dan kesehatan gratis—sebuah pendekatan yang lebih menyeluruh dalam membangun ekosistem usaha rakyat.

Namun pertanyaan penting tak bisa dihindari: akankah ini menjadi awal konsolidasi ekonomi lokal yang berkelanjutan, atau sekadar euforia sesaat peresmian kantor?
Di tengah persaingan pasar yang kian ketat dan daya beli yang fluktuatif, penguatan UMKM membutuhkan lebih dari satu hari perayaan. Legalitas harus diikuti akses pembiayaan, digitalisasi pemasaran, dan jejaring distribusi yang lebih luas.
Jika komitmen itu terjaga, maka Alun-Alun Tulungagung tak hanya menjadi saksi peresmian kantor. Ia akan dikenang sebagai titik tolak—saat pelaku usaha kecil tak lagi sekadar bertahan, tetapi mulai tumbuh dan berani bersaing.
Jurnalis: Pandhu
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !