Tulungagung

Aula Mangkrak SMAN 1 Boyolangu Kembali Digarap, Alumni Turun Tangan

×

Aula Mangkrak SMAN 1 Boyolangu Kembali Digarap, Alumni Turun Tangan

Sebarkan artikel ini
Subagas, Kepala SMA Negeri 1 Boyolangu, Tulungagung

TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Setelah bertahun-tahun terhenti, pembangunan aula SMAN 1 Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, kembali digerakkan. Pihak sekolah bersama alumni dan komite sekolah berupaya melanjutkan pembangunan fasilitas yang dinilai penting untuk menunjang berbagai kegiatan siswa.

Langkah awal pembangunan ditandai dengan selamatan yang digelar di lingkungan SMAN 1 Boyolangu, Senin (24/8/2026). Kegiatan tersebut dipimpin Samiran dan dihadiri jajaran sekolah serta pihak-pihak yang terlibat dalam rencana kelanjutan pembangunan aula.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat (Waka Humas) SMAN 1 Boyolangu, Muarif, mengatakan dimulainya kembali pembangunan tersebut merupakan ikhtiar bersama untuk menyelesaikan aula yang selama ini belum tuntas.

Menurutnya, pembangunan kembali digerakkan setelah rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia selesai. Momentum Senin Pon, 24 Agustus 2026, kemudian dipilih sebagai awal dimulainya kembali pekerjaan.

“Yang kita mulai ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi ikhtiar bersama agar aula yang selama ini belum selesai dapat benar-benar terwujud,” kata Muarif.

Ia mengajak guru, alumni, orang tua atau wali murid, serta pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap SMAN 1 Boyolangu untuk ikut berkontribusi.

Dukungan tersebut, kata dia, tidak harus selalu berupa materi. Pemikiran, jaringan, maupun dukungan lainnya juga dibutuhkan untuk mempercepat penyelesaian pembangunan.

Namun, karena pembangunan mengandalkan sumbangan masyarakat, pengelolaan dana menjadi bagian penting yang harus mendapat perhatian. Transparansi diperlukan agar setiap sumbangan dapat dipertanggungjawabkan kepada para donatur.

Untuk itu, panitia pembangunan telah dibentuk. Ketua pelaksana dipercayakan kepada H. Maryanto, alumni SMAN 1 Boyolangu sekaligus pemilik Toko Sarjana. Sementara pengelolaan keuangan dipercayakan kepada Darminto selaku Bendahara Komite.

Muarif menegaskan, transparansi menjadi salah satu prinsip utama dalam pelaksanaan pembangunan. Panitia berencana membuka Rencana Anggaran Biaya (RAB) serta desain aula kepada para donatur.

“RAB dan desain akan kami sampaikan secara terbuka kepada donatur. Tidak ada niat sedikit pun dari panitia untuk mencari keuntungan pribadi,” tegasnya.

Bukan Bangunan Baru

Kepala SMAN 1 Boyolangu, Subagas, S.Pd., menjelaskan bahwa pembangunan tersebut bukan pembangunan gedung baru maupun revitalisasi bangunan lama.

Menurutnya, pekerjaan yang dilakukan merupakan kelanjutan dari struktur aula yang sebelumnya sudah dibangun, tetapi terhenti sebelum selesai.

Fasilitas tersebut kembali digarap karena keberadaannya dinilai dibutuhkan untuk menunjang kegiatan sekolah.

“Kalau tidak ada yang berani memulai, bangunan ini tidak akan pernah selesai,” ujarnya.

Persoalan pendanaan menjadi tantangan utama. Pihak sekolah tidak mengandalkan anggaran pemerintah untuk menyelesaikan pembangunan tersebut.

 

 

 

Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat (Waka Humas) SMAN 1 Boyolangu, Muarif,

Sumber pembiayaan berasal dari sumbangan alumni, kontribusi guru, serta donasi sukarela dari orang tua atau wali murid.

Untuk menjaga akuntabilitas, sekolah menerapkan pola pengelolaan dengan konsep “terima manfaat”. Dalam skema ini, sekolah tidak menjadi pihak yang memegang dan mengelola uang sumbangan pembangunan.

Pengumpulan dana dan pelaksanaan pembangunan berada di bawah kendali perwakilan alumni. Setelah pembangunan selesai, sekolah akan menjadi pihak yang menerima manfaat berupa bangunan aula.

Skema tersebut diharapkan dapat memisahkan pengelolaan dana sumbangan dari institusi sekolah sekaligus memastikan proses pembangunan dapat dipertanggungjawabkan kepada para donatur.

Dibangun Bertahap Sesuai Ketersediaan Dana

Pihak sekolah juga menyadari bahwa kemampuan penggalangan dana tidak selalu stabil. Karena itu, pembangunan tidak dipatok dengan target waktu yang terlalu kaku.

Jika dana yang tersedia habis, pekerjaan akan dihentikan sementara. Pembangunan kemudian dilanjutkan setelah dana berikutnya berhasil dihimpun.

Pola tersebut membuat pembangunan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan pendanaan. Langkah itu dipilih daripada memaksakan penyelesaian proyek tanpa dukungan pembiayaan yang memadai.

Meski demikian, pola pembangunan berbasis sumbangan tersebut membutuhkan keterbukaan. RAB, desain, sumber dana, penggunaan anggaran, hingga perkembangan fisik pembangunan menjadi informasi penting bagi pihak-pihak yang memberikan dukungan.

Transparansi bukan sekadar pelengkap, tetapi menjadi modal utama untuk menjaga kepercayaan alumni, guru, orang tua, maupun masyarakat.

Pada akhirnya, pembangunan aula SMAN 1 Boyolangu bukan hanya tentang menyelesaikan sebuah bangunan yang sempat mangkrak.

Aula tersebut diharapkan menjadi ruang bersama bagi siswa untuk menjalankan berbagai kegiatan kesiswaan, ekstrakurikuler, pertemuan, maupun kegiatan sekolah lainnya secara lebih terpusat dan tertata.

Setelah bertahun-tahun terhenti, proyek tersebut kini kembali dihidupkan. Tantangannya bukan hanya bagaimana bangunan itu bisa berdiri hingga selesai, tetapi juga bagaimana seluruh proses pembangunan mampu menjaga kepercayaan para donatur.

Sebab, menyelesaikan bangunan yang mangkrak adalah pekerjaan teknis. Membangun dan menjaga kepercayaan para donatur justru menjadi ujian yang jauh lebih besar.

Jurnalis: Pandhu