
TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com – Ancaman diabetes melitus dan gagal ginjal kini semakin nyata di kalangan usia muda. Temuan pasien cuci darah berusia 24 tahun menjadi peringatan serius bahwa penyakit tidak menular tidak lagi hanya mengancam kelompok lanjut usia. Persoalan ini menjadi perhatian Anggota Komisi IX DPR RI, Heru Tjahjono, saat melaksanakan reses di Kabupaten Tulungagung, Jumat (6/11/2026).
Heru mengingatkan, upaya mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045 harus dibarengi dengan perhatian serius terhadap kesehatan anak dan remaja. Sebab, kualitas sumber daya manusia tidak cukup dibangun melalui pendidikan, tetapi juga harus ditopang kondisi kesehatan yang baik sejak dini.
Peringatan tersebut disampaikan dalam Sarasehan Kebangsaan MPR RI bertema Mengenal MPR RI: Memahami Peran, Fungsi, dan Kewenangan MPR sebagai Rumah Kebangsaan, Pengawal Konstitusi, dan Penjaga Kedaulatan Rakyat, di Aula Sabha Husada Bakti, Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung.
Kegiatan dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung dr. Desi Lusiana Wardhani, S.KM., M.Kes., jajaran tenaga kesehatan, kepala puskesmas, guru pendamping, serta perwakilan pelajar SMA, SMK, dan MA.
Heru menyoroti temuan pasien anak yang harus menjalani hemodialisa berdasarkan informasi yang dibahas dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi IX DPR RI bersama Kementerian Kesehatan. Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi alarm bagi semua pihak untuk memperkuat pencegahan penyakit tidak menular sejak usia sekolah.

Dalam dialog bersama pelajar, Heru mengajak generasi muda memahami risiko diabetes serta bahaya pola konsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula, garam, dan lemak secara berlebihan.
Ia juga mengingatkan pentingnya membiasakan membaca tabel informasi nilai gizi pada kemasan sebelum membeli makanan atau minuman. Konsumen, terutama kalangan remaja, tidak seharusnya hanya mempertimbangkan rasa dan harga, tetapi juga memperhatikan kandungan gula, natrium, serta lemak.
Heru mengapresiasi langkah Dinas Kesehatan Tulungagung yang meluncurkan gerakan Jagung Bakar Manis (Gerakan Remaja Tulungagung Bersatu Atasi Kencing Manis). Inisiatif tersebut dinilainya sebagai terobosan edukasi kesehatan dengan melibatkan remaja sebagai penggerak perubahan perilaku.
Ia bahkan menyatakan akan menyampaikan inovasi tersebut kepada Menteri Kesehatan agar mendapat perhatian dan berpeluang dikembangkan lebih luas.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, dr. Desi Lusiana Wardhani, mengungkapkan tingginya kebutuhan layanan hemodialisa di RSUD dr. Iskak Tulungagung.
Dari total 35 mesin cuci darah yang tersedia, sebanyak 30 mesin beroperasi setiap hari dalam tiga sif pelayanan. Sekitar 90 pasien dilayani setiap hari.
Yang menjadi perhatian, usia pasien gagal ginjal kini semakin beragam. Jika sebelumnya penyakit tersebut lebih banyak ditemukan pada kelompok usia 50–60 tahun, kini pasien berusia 35 tahun, 25 tahun, bahkan mahasiswa berusia 24 tahun juga menjalani terapi cuci darah.
Meski demikian, peningkatan kebutuhan layanan hemodialisa tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh kasus gagal ginjal disebabkan diabetes. Penyakit ginjal memiliki beragam faktor risiko sehingga diperlukan pemetaan medis yang lebih terperinci.
Menurut Desi, kondisi tersebut menjadi alasan pentingnya memperkuat edukasi dan pencegahan penyakit tidak menular sejak usia remaja.
Melalui Jagung Bakar Manis, Dinas Kesehatan melibatkan pelajar SMA, SMK, dan MA sebagai kader kesehatan dengan pendekatan peer educator atau pendidik sebaya.
Para pelajar terpilih akan mendapatkan pembekalan mengenai diabetes melitus, faktor risiko, konsumsi gula, serta penerapan perilaku hidup sehat. Mereka diharapkan mampu menyebarkan pengetahuan tersebut kepada teman sebaya, lingkungan sekolah, hingga keluarga.
Setiap sekolah melibatkan siswa, guru pendamping, kepala puskesmas, dan pengelola program kesehatan remaja. Kader juga diharapkan menjadi teladan dengan menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Desi menegaskan, kader kesehatan tidak cukup hanya mengajak orang lain mengurangi konsumsi minuman manis. Mereka harus terlebih dahulu menunjukkan perilaku yang sesuai dengan pesan kesehatan yang disampaikan.
Program Jagung Bakar Manis direncanakan berlangsung selama satu tahun. Sejumlah sekolah, di antaranya SMAN 1 Boyolangu dan SMAN 1 Kauman, masuk dalam jejaring penggerak program. Setelah pelaksanaan, Dinas Kesehatan akan melakukan evaluasi dan merencanakan kompetisi antarsekolah pada tahun berikutnya.
Namun, keberhasilan gerakan ini tidak cukup diukur dari jumlah kader, kegiatan sosialisasi, maupun kompetisi antarsekolah. Perubahan perilaku konsumsi, peningkatan pengetahuan, keterlibatan keluarga, serta keberlanjutan kegiatan edukasi harus menjadi indikator evaluasi.
Dukungan lingkungan sekolah dan keluarga juga penting agar edukasi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pelajar memang dapat menjadi agen perubahan, tetapi tanggung jawab pencegahan penyakit tetap membutuhkan peran pemerintah, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, dan masyarakat.
Apresiasi Heru Tjahjono terhadap inovasi tersebut diharapkan menjadi dorongan bagi Dinas Kesehatan Tulungagung untuk memastikan program berjalan konsisten dan terukur.
Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan cuci darah dan munculnya pasien usia muda, penguatan pencegahan menjadi kebutuhan mendesak. Jagung Bakar Manis kini ditantang membuktikan bahwa gerakan berbasis sekolah mampu melahirkan perubahan nyata dalam pola hidup sehat generasi muda Tulungagung.
Jurnalis: Pandhu













