TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Sampah tidak lagi dipandang sekadar limbah yang dikumpulkan dan dijual. Melalui pendekatan psikologi komunitas dan teknologi digital, anggota Bank Sampah Unit (BSU) di bawah Paguyuban Pelaku Bank Sampah (PAKUBANKSA) Kabupaten Tulungagung didorong bertransformasi menjadi produsen produk daur ulang yang memiliki merek, identitas, dan daya saing pasar.
Transformasi tersebut menjadi fokus program Pengabdian Masyarakat Pemula (PMP) Universitas Bhinneka PGRI (UBhi) Tahun 2026 melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan bertajuk “Intervensi Psikologi Komunitas untuk Meningkatkan Brand Awareness Produk Daur Ulang Sampah melalui Platform SIPAKUBANKSA dalam Mewujudkan Sirkular Ekonomi.”
Kegiatan yang dilaksanakan di Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, tersebut merupakan kelanjutan program sebelumnya yang telah mengembangkan platform SIPAKUBANKSA. Kali ini, platform tersebut dioptimalkan sebagai sarana pemasaran sekaligus bagian dari proses perubahan perilaku anggota BSU.
Program berlangsung bertahap sejak April hingga Juli 2026. Tahapan diawali sosialisasi bersama PAKUBANKSA dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tulungagung pada pekan ketiga April di Balai Desa Sukorejo, Kecamatan Karangrejo.
Pendampingan kemudian dilanjutkan dengan diversifikasi produk unggulan pada Mei, penguatan packaging produk daur ulang melalui intervensi psikologi komunitas pada Juni, serta strategi peningkatan brand awareness dan optimalisasi SIPAKUBANKSA melalui pemasaran multi-channel pada Juli.
Dalam proses diversifikasi, anggota BSU diajak mengidentifikasi jenis sampah yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Mereka juga mendapatkan pelatihan teknik pengolahan, desain produk hingga pengemasan sederhana.
Sejumlah produk yang dikembangkan antara lain tas belanja, tempat pensil, organizer, hiasan dinding hingga berbagai souvenir. Pendekatan tersebut membuat sampah tidak berhenti sebagai bahan baku, tetapi diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Pada tahap packaging, peserta diperkenalkan dengan prinsip kemasan ramah lingkungan, pembuatan label informatif serta standar tampilan produk untuk pemasaran secara langsung maupun melalui kanal digital.
Sementara pada tahap akhir, peserta diarahkan memanfaatkan SIPAKUBANKSA sebagai kanal pemasaran digital. Materi meliputi pembuatan akun toko, pengunggahan produk, pengelolaan stok hingga integrasi dengan WhatsApp Business dan media sosial.
Yang membedakan program ini adalah penekanan pada aspek psikologi komunitas. Anggota BSU tidak hanya dibekali keterampilan teknis, tetapi juga didorong membangun kepercayaan diri, motivasi kolektif serta identitas sebagai produsen produk sirkular.
Ketua Pelaksana PMP, Dr. Ajar Dirgantoro, mengatakan pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong perubahan pola pikir anggota BSU.
“Kami tidak hanya memberikan pelatihan teknis, tetapi juga melakukan intervensi psikologi komunitas agar anggota BSU memiliki rasa percaya diri, motivasi kolektif, dan identitas sebagai produsen merek sirkular,” ujarnya.
Menurutnya, SIPAKUBANKSA tidak sekadar ditempatkan sebagai alat operasional. Platform tersebut dioptimalkan sebagai media yang mendukung transformasi perilaku masyarakat menuju ekonomi sirkular.
“Hasilnya, produk daur ulang menjadi lebih kompetitif, layak jual, dan memiliki citra pro-lingkungan yang lebih kuat,” katanya.
Dampak pendampingan juga tercermin dari hasil evaluasi post-test. Seluruh indikator memperoleh nilai rata-rata di atas 4,20 dari skala 1–5.
Tingkat kepuasan peserta menjadi indikator tertinggi dengan nilai rata-rata 4,57. Sementara daya tarik tampilan platform, kemudahan pemahaman, dan kebermanfaatan kegiatan masing-masing mencapai nilai rata-rata 4,52.
Peningkatan juga terlihat pada aspek visibilitas merek, kredibilitas, literasi digital dan jejaring kolaborasi.
Ketua PAKUBANKSA Suwignyo mengapresiasi pendampingan yang diberikan Tim PMP UBHI. Menurutnya, kegiatan tersebut membantu anggota BSU melihat peluang baru dari pengelolaan sampah.
“Dulu kami lebih banyak fokus mengumpulkan dan menjual bahan baku sampah. Sekarang anggota BSU mulai mampu menghasilkan produk jadi yang rapi, berkemasan menarik, dan dipasarkan melalui platform digital,” katanya.
Ia menilai intervensi yang diberikan tidak hanya meningkatkan keterampilan, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga dan semangat anggota untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi.
“Kami berharap kerja sama ini terus berlanjut agar ekonomi sirkular di Tulungagung semakin kuat,” ujarnya.
Program PMP UBHI tersebut juga menghasilkan sejumlah luaran, di antaranya artikel ilmiah yang diterima di Jurnal Abdimas Pedagogi (SINTA 5), publikasi media massa, video dokumentasi pada kanal YouTube berafiliasi dengan Universitas Bhinneka PGRI, poster kegiatan, serta optimalisasi platform SIPAKUBANKSA yang dilengkapi manual penggunaan.
Program ini menunjukkan bahwa penguatan ekonomi sirkular tidak cukup hanya mengandalkan teknologi pengolahan sampah. Perubahan pola pikir, identitas komunitas, kemampuan membangun merek dan literasi digital menjadi bagian penting agar produk daur ulang mampu masuk dan bertahan di pasar.
Dari sampah yang sebelumnya hanya dipandang sebagai limbah, anggota BSU PAKUBANKSA kini didorong menjadi pelaku ekonomi kreatif yang menghasilkan produk bernilai tambah. SIPAKUBANKSA menjadi jembatan yang menghubungkan keterampilan komunitas dengan pasar digital.
Model pemberdayaan yang memadukan aspek teknis, psikologis dan digital tersebut diharapkan dapat menjadi praktik baik pengembangan ekonomi sirkular berbasis komunitas di Kabupaten Tulungagung.
Jurnalis: Pandhu













