Gus Iqdam bersama Plt. Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin beserta Istri Ny. Yuyun Ahmad Baharudin. Rsbu(19/8/2026) di Lapangan Desa Moyoketen.

TULUNGAGUNG,HARIAN-NEWS.com — Lapangan Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, dipadati ribuan jamaah, Rabu (19/8/2026) malam. Mereka mengikuti Pengajian Umum dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah yang dirangkai dengan tasyakuran HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Hadirnya ulama muda H. Agus Muhammad Iqdam Kholid atau Gus Iqdam menjadi magnet utama kegiatan tersebut. Di hadapan ribuan jamaah, Gus Iqdam tidak sekadar menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga mengajak masyarakat menjaga persatuan bangsa di tengah derasnya arus informasi digital.
Pengajian mengusung tema “Kerukunan Ulama dan Umaro”. Momentum tersebut sekaligus mempertemukan tokoh agama, pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat dalam satu majelis.
Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin turut hadir bersama KH. Syamsul Umam Aziz, KH. Nashihuddin Alwie, Camat Boyolangu Yusuf Riyadi, Kapolsek Boyolangu AKP Retno Pujiarsih, serta Kepala Desa Moyoketen Hari Purwanto.
Kehadiran Plt Bupati Tulungagung di tengah ribuan jamaah menjadi bagian dari pesan penting yang dibangun dalam kegiatan tersebut, yakni pentingnya sinergi antara ulama dan umara dalam menjaga kehidupan masyarakat yang aman, rukun, dan kondusif.

Kepala Desa Moyoketen Hari Purwanto mengatakan, peringatan Maulid Nabi dan tasyakuran kemerdekaan memiliki makna yang saling berkaitan. Keduanya harus mampu diterjemahkan menjadi semangat membangun kebersamaan di tengah masyarakat.
“Kerukunan ulama dan umara bukan sekadar slogan, tetapi fondasi agar masyarakat hidup damai, rukun, dan sejahtera,” ujarnya.
Gus Iqdam: Kemerdekaan Harus Diisi dengan Kerja Profesional
Di hadapan jamaah, Gus Iqdam mengajak masyarakat kembali memahami makna kemerdekaan secara lebih substantif.
Menurutnya, kebebasan beribadah, menuntut ilmu, bekerja, serta berkumpul dengan tenang merupakan hasil perjuangan para pahlawan. Karena itu, kemerdekaan tidak seharusnya hanya diperingati melalui upacara dan slogan.
Cinta tanah air, kata Gus Iqdam, harus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Petani yang mengolah sawah dengan sungguh-sungguh, pedagang yang jujur, guru yang mendidik dengan ikhlas, semuanya sedang mengisi kemerdekaan,” tutur Gus Iqdam.
Pesan tersebut menempatkan kejujuran dan profesionalisme sebagai bagian penting dalam mengisi kemerdekaan.
Setiap orang, menurutnya, memiliki peran masing-masing. Tidak harus menjadi pejabat atau tokoh besar untuk memberikan kontribusi kepada bangsa. Bekerja dengan sungguh-sungguh dan memberikan manfaat kepada orang lain juga merupakan bentuk pengabdian.
Ancaman Persatuan Kini Bisa Datang dari Telepon Genggam
Gus Iqdam kemudian membawa jamaah pada persoalan yang lebih aktual, yakni ancaman perpecahan di era digital.
Jika dahulu bangsa menghadapi penjajahan dengan senjata, kini masyarakat menghadapi bentuk ancaman yang lebih halus. Perpecahan dapat muncul melalui informasi palsu, fitnah, provokasi, hingga manipulasi foto dan video.
Gus Iqdam mengaku pernah mengalami sendiri bagaimana foto dan video dirinya direkayasa dan disebarkan seolah-olah dirinya membuka praktik padepokan gaib.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa perkembangan teknologi tidak selalu digunakan untuk tujuan positif.
Menurutnya, masyarakat harus memiliki budaya tabayyun, yakni memeriksa dan mengklarifikasi informasi sebelum mempercayai ataupun menyebarkannya.
Ia mengingatkan jamaah agar tidak mudah terpancing oleh informasi yang beredar di media sosial, terutama informasi yang sengaja dibuat untuk membangun kebencian atau memecah masyarakat.
Menjaga persatuan Indonesia, kata Gus Iqdam, bukan hanya tugas pemerintah dan aparat. Setiap pengguna telepon genggam dan media sosial juga memiliki tanggung jawab yang sama.
Plt Bupati dan Ulama Bersatu di Tengah Masyarakat
Kehadiran Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin bersama para ulama, aparat, dan masyarakat dalam satu forum memperkuat pesan utama kegiatan di Moyoketen.
Kerukunan antara ulama dan umara dinilai menjadi modal penting dalam menciptakan suasana daerah yang aman sekaligus mendukung pembangunan.
Pemerintah membutuhkan dukungan masyarakat, sementara masyarakat membutuhkan pemerintahan yang mampu menjalankan pelayanan dan pembangunan secara profesional.
Karena itu, hubungan harmonis antara tokoh agama dan pemerintah tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Sinergi tersebut diharapkan mampu diterjemahkan dalam kehidupan sosial, pelayanan masyarakat, hingga pembangunan di tingkat desa.
Pengajian kemudian ditutup dengan zikir, selawat bersama Hadrah Sabilu Taubah Pusat, serta doa untuk keselamatan bangsa.
Moyoketen malam itu tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya ribuan jamaah untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Dari majelis tersebut, Gus Iqdam menyampaikan pesan bahwa menjaga Indonesia di tengah banjir informasi membutuhkan iman, persatuan, kerja profesional, kejujuran, dan nalar kritis.
Sementara kehadiran Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin bersama ulama, aparat, dan masyarakat menjadi simbol bahwa menjaga kerukunan merupakan tanggung jawab bersama.
Jurnalis: Pandhu
Harian-news.com














