

TULUNGAGUNG,HARIAN-NEWS.com — Menjelang libur panjang awal Ramadhan 1447bHijriah/2026, Wakil Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin menyampaikan pesan yang tidak biasa kepada insan pers yang tergabung dalam Kelompok Kerja (Pokja) Humas Pemkab. Tulungagung, Kamis (12/2/2026).
Di tengah dinamika kerja jurnalistik yang kerap berpacu dengan waktu dan kepentingan publik, ia mengajak media untuk menjadikan bulan suci sebagai ruang refleksi sekaligus penguatan integritas.
Pesan itu disampaikan bukan dalam konteks seremonial semata. Baharudin menegaskan bahwa Ramadhan tidak boleh dimaknai sebagai jeda produktivitas, melainkan sebagai momentum pembenahan diri—termasuk dalam menjalankan profesi jurnalis yang sarat
tanggung jawab.
“Perbanyak ibadah dan perkuat niat. Tuhan tidak pernah memutus rezeki bagi hamba-Nyabyang taat dan bersungguh-sungguh,” ujarnya di hadapan awak media.
Namun, di balik pesan spiritual tersebut, terdapat penegasan yang lebih dalam:
profesionalitas tidak boleh kendur. Ia mengingatkan bahwa tugas jurnalistik tetap berjalan, bahkan di bulan puasa sekalipun.
Tantangan peliputan Ramadhan—mulai dari isu harga bahan pokok, distribusi kebutuhan masyarakat, hingga pengawasan kebijakan publik—justru
menuntut ketajaman dan kepekaan yang lebih tinggi.
Ramadhan, menurutnya, adalah ujian konsistensi. Di satu sisi, insan pers dituntut menjaga kualitas ibadah. Di sisi lain, tanggung jawab menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan berpihak pada kepentingan publik tidak boleh terabaikan.
Baharudin juga menyinggung soal kekhawatiran berlebihan terhadap urusan materi.
Ia mengajak awak media untuk tetap optimistis dalam menjalani profesi, tanpa menggadaikan prinsip demi kepentingan sesaat.
“Jangan sampai urusan dunia membuat kita ragu menjalankan kewajiban agama. Janji Tuhan itu pasti,” tegasnya.
Pernyataan tersebut dapat dimaknai sebagai ajakan menjaga independensi dan integritas.
Dalam konteks relasi antara pemerintah daerah dan media, pesan ini relevan. Media
sebagai mitra humas pemerintah memiliki peran strategis, tetapi tetap harus berdiri di atas prinsip jurnalistik yang objektif dan kritis.
Wabup juga mendorong agar pemberitaan selama Ramadhan tidak sekadar informatif, tetapi juga edukatif dan menyejukkan. Narasi yang dibangun, menurutnya, perlu memberi inspirasi
dan menjaga kondusivitas sosial di Tulungagung.
Di tengah derasnya arus informasi digital dan potensi polarisasi opini publik, peran media lokal menjadi krusial. Bulan suci sering kali diwarnai isu sensitif—mulai dari kelangkaan komoditas, kebijakan bantuan sosial, hingga pengawasan penggunaan anggaran daerah.
Dalam situasi seperti itu, media dituntut tidak hanya cepat, tetapi juga akurat dan
bertanggung jawab.
Selain aspek kerja, Baharudin mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan kehidupan
pribadi. Libur panjang awal Ramadhan, kata dia, bisa dimanfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga melalui tradisi munggahan serta melakukan refleksi diri sebelum memasuki agenda peliputan yang biasanya meningkat selama bulan puasa.
Pesan tersebut mengandung makna ganda: penguatan spiritual dan profesional harus berjalan beriringan. Integritas personal akan berpengaruh pada kualitas kerja.
Etos kerja yang lahir dari kesadaran nilai diyakini mampu mendorong jurnalisme yang lebih bermartabat.
Di akhir penyampaiannya, Wabup berharap Ramadhan menjadi titik awal pembaruan
semangat bagi insan pers Tulungagung. Bukan hanya untuk meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga untuk mempertegas komitmen pada etika jurnalistik dan pembangunan daerah.
Ramadhan, pada akhirnya, bukan sekadar momentum ritual. Ia adalah ruang uji bagi
konsistensi nilai—baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam menjalankan profesi.
Bagi insan pers, bulan suci bisa menjadi cermin: sejauh mana integritas dijaga, dan sejauh mana tanggung jawab kepada publik benar-benar ditegakkan.
Jurnalis : Pandhu/Rif
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !