

TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — DPD Partai Golkar Kabupaten Tulungagung menggelar Seminar Deteksi dan Cegah Kanker Serviks Sedini dengan menghadirkan dua narasumber medis, yakni dr. Wilis Nurkumala, Sp.OG., M.Ked.Klin, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, serta dr. Aris Setiawan, M.Kes, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, di Aula Karya Mandiri, Kantor DPD Golkar Tulungagung, Sabtu (10/1/2026).
Kegiatan ini diikuti puluhan perempuan dari berbagai kecamatan sebagai upaya meningkatkan kesadaran dan mendorong deteksi dini kanker serviks, penyakit yang masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan perempuan dan kerap terdeteksi pada stadium lanjut.
Ketua DPD Golkar Tulungagung, Jairi Irawan, S.Hum., M.KP, menyatakan kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian partai kepada masyarakat.
“Kesejahteraan keluarga dimulai dari kesehatan ibu. Jika kesadaran ini meningkat, kami berharap angka kanker serviks di Tulungagung dapat ditekan,” katanya.
Seminar berlangsung di Aula Karya Mandiri, Kantor DPD Golkar Tulungagung, Jalan MT Haryono No. 22, Kedungwaru, dan diikuti puluhan perempuan dari berbagai kecamatan.

Seluruh 75 kursi yang disediakan panitia terisi penuh, mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap isu kesehatan yang selama ini kerap dianggap sensitif dan tabu.
Rangkaian acara diawali dengan senam sehat bersama sejak pukul 07.00 WIB di halaman kantor DPD Golkar. Sesi seminar utama dimulai pukul 09.30 WIB

Dalam pemaparannya, dr. Aris Setiawan menegaskan kanker serviks merupakan kanker terbanyak kedua pada perempuan setelah kanker payudara. Ironisnya, kanker ini justru termasuk jenis yang paling memungkinkan dicegah jika terdeteksi sejak dini.
“Masalahnya, sebagian besar pasien datang sudah dalam fase lanjut. Padahal, skrining melalui IVA atau pap smear memungkinkan pencegahan dilakukan sebelum berkembang menjadi kanker,” ujarnya.
Ia menambahkan, ketika kanker serviks telah memasuki stadium lanjut, pengobatan menjadi jauh lebih kompleks dan membutuhkan biaya besar, baik bagi pasien maupun negara.

Karena itu, pemerintah terus mendorong program pencegahan, mulai dari Cek Kesehatan Gratis (CKG), pemeriksaan IVA di puskesmas, hingga vaksinasi HPV yang kini menyasar anak sekolah sebagai perlindungan jangka panjang.
“Pemeriksaan IVA, bahkan tindakan lanjutan seperti krioterapi, sebenarnya sudah bisa dilakukan di puskesmas. Artinya, akses itu ada. Tantangannya adalah membangun kesadaran masyarakat secara konsisten,” tegasnya.
Sekretaris DPD Golkar Tulungagung, Jarot, menyampaikan bahwa seminar ini bukan kegiatan tunggal, melainkan tindak lanjut rekomendasi kegiatan sebelumnya yang digagas bidang keperempuanan dan bidang kesehatan partai.
“Peserta sebelumnya mengusulkan agar ada kegiatan yang fokus pada kesehatan, khususnya kanker serviks. Dalam waktu dua minggu persiapan, seminar ini akhirnya bisa terlaksana,” katanya.
Ia mengakui tantangan utama kegiatan semacam ini adalah memastikan dampaknya tidak berhenti pada edukasi sesaat.

Karena itu, Golkar berencana mendorong langkah konkret pasca-seminar, salah satunya melalui pendataan peserta untuk pemeriksaan lanjutan.
“Ke depan, kami akan mengupayakan pendataan bagi peserta yang ingin melakukan pap smear dan menghubungkannya dengan rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang memiliki layanan tersebut,” ujarnya.
Meski demikian, keterlibatan partai politik dalam isu kesehatan publik kerap memunculkan pertanyaan kritis: sejauh mana konsistensi dan komitmen jangka panjang dapat dijaga, terlebih isu kesehatan membutuhkan kesinambungan lintas sektor dan dukungan anggaran.
Menanggapi potensi politisasi kegiatan, Golkar menegaskan seminar ini tidak memuat muatan kampanye atau ajakan politik praktis. Peserta berasal dari masyarakat umum tanpa syarat afiliasi.
“Kami tidak membawa narasi mencoblos Golkar atau kepentingan politik lain. Kami ingin menunjukkan partai politik bisa hadir memberi manfaat nyata, bukan hanya saat momentum politik,” ujar Jarot.
Narasumber utama, dr. Wilis Nurkumala, menekankan kanker serviks masih menjadi salah satu penyebab kematian utama perempuan, padahal pencegahannya relatif jelas dan terukur.
“Kanker serviks sangat bisa dicegah jika terdeteksi sejak dini. Pemeriksaan rutin seperti pap smear dan vaksinasi HPV adalah kunci. Jangan menunggu sakit dulu baru periksa,” tegasnya.
Ia juga menyoroti masih kuatnya rasa takut dan stigma terhadap pemeriksaan organ reproduksi, yang membuat banyak perempuan enggan memeriksakan diri.
“Pemeriksaan bukan untuk ditakuti. Justru pemeriksaan adalah upaya menyelamatkan,” ujarnya.

Selain edukasi kesehatan, peserta seminar memperoleh snack, sertifikat, doorprize, serta materi medis aplikatif yang dapat diterapkan di lingkungan keluarga.
Antusiasme peserta menjadi sinyal positif bahwa isu kesehatan reproduksi perempuan mulai mendapat ruang perhatian.
Jurnalis: Pandhu
Editor: Arief Gringsing
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !