

Molotov
Oleh: Imam Mawardi Ridlwan*
TULUNGAGUNG, HARIAN- NEWS com –
Rabu (3/8/2025) di berbagai cannel ditayangkan orang tua menangis. Di berbagai daerah, anak-anak diamankan. Polisi mencatat mereka membawa benda-benda yang bahkan orang dewasa pun takut menyentuhnya. Molotov. Miras. Pylox untuk mencoret-coret tembok bangsa. Lalu orang tua datang ke polres. Menangis. Menjemput anaknya yang baru saja belajar menjadi preman.
Mereka menyesal saat huah hatinya ditangkap APH karena terlibat anarkis. Mereka terlibat vandalisme, perusakan, pembakaran dan penjarahan. Saya prihatin saat menyaksikan data keterlibatan anak-anak kita.
Mereka pelajar berseragam di siang hari. Di senja dan malamnya mereka membawa molotov, dan miras. Semakin prihatin di mana mereka yang masih duduk di bangku sekolah, tapi sudah berdiri di garis api.
Demo itu bukan masalah. Anarkisme, itulah yang menjadi ancaman kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tentu kita tidak akan menyalahkan siapapun. Tapi kita boleh bertanya, siapakah yang sebenarnya gagal?
Semua orang akan menjawab, “sekolah yang gagal. Kami yang lalai. Pemerintah yang abai.”
Bagimana solusinya? Semua akan bersepakat, “kita harus edukasi mereka.”
Sayapun bertanya, “apakah selama ini kurang edukasi?” Saya kira tidak. Sekolah ada. Guru ada. Buku ada. Bahkan YouTube pun penuh dengan konten edukatif. Jadi, ini bukan soal kurang edukasi. Ini soal faktor lain yang perlu dibahas, dicarikan solusi.
Faktor pertama, lingkungan pergaulan jauh dari sentuhan adab, moral dan agama
Anak-anak terlibat demo karena bukan karena tidak paham isu. Mereka demo karena diajak. Karena ingin dianggap keren. Karena ingin eksis di story Instagram. Mereka manut pada ajakan, bukan pada pemahaman. Dunia nyata dan dunia maya sama-sama membentuk mereka. Tapi kita, orang tua dan guru, hanya hadir di dunia nyata. Di dunia maya, mereka sendirian.
Mereka tidak dalam pelukan guru agama. Mereka hidup jauh dari rumah ibadah.
Faktor kedua, pembiaran prilaku negatif
Kita terlalu sering berkata, “Namanya juga anak-anak.”
Padahal dari kebiasaan kecil yang dibiarkan, lahirlah generasi anarkis. Anak yang terbiasa membentak, mencuri waktu belajar, merokok di gang sekolah—semua itu bukan kenakalan. Itu bibit. Dan bibit yang dibiarkan akan tumbuh menjadi pohon yang merusak.
Faktor Ketiga, yaitu rumah ana orang tua bergeser fungsi
Dulu rumah adalah tempat pulang. Tempat belajar nilai. Tempat orang tua menjadi guru pertama. Sekarang rumah hanya tempat transit. Tempat makan. Tempat tidur. Orang tua bergeser menjadi ATM. Anak pulang hanya untuk ambil uang, bukan untuk ambil hikmah.
Faktor keempat, yaitu ada desain anarkis oleh tokoh-Tokoh tertentu
Ini yang paling mengerikan. Ada yang mendesain demo anarkis dengan melibatkan anak-anak. Mahasiswa sudah tidak bisa dibujuk, maka generasi labil dijadikan pion. Mereka digerakkan lewat medsos. Lewat konten yang dikemas rapi. Lewat narasi yang menggugah emosi tapi miskin logika.
Dan kita? Kita tidak masuk ke dunia itu. Kita tidak ikut membentuk mindset mereka tentang premanisme, tentang anarkisme, tentang masa depan bangsa.
Lalu, Apa yang Harus Dilakukan?
Pertama, orang tua dan guru harus masuk ke dunia anak-anak. Bukan hanya dunia nyata, tapi juga dunia maya. Masuk ke mindset mereka. Bicara tentang nilai, bukan hanya larangan.
Kedua, jangan langsung marahi anak di depan publik. Anak yang dimarahi di depan umum akan merasa malu, bukan sadar. Ajak pulang. Bicara baik-baik. Tanyakan: “Apa yang kamu cari dari demo?”
Bukan “Kenapa kamu demo?”
Ketiga, ajak anak berpikir. Sekali. Dua kali.
Tiga kali. Sampai mereka menemukan perspektif sendiri. Demo itu boleh. Tapi harus tahu apa yang disuarakan. Harus tahu batas. Harus tahu tanggung jawab.
Keempat, kita harus kembali menjadikan rumah sebagai tempat nilai. Tempat diskusi. Tempat spiritualitas. Tempat anak merasa dihargai, bukan hanya diberi.
Kelima, anak yang terlibat demo anarkis segera diserahkan pada guru agama. Diserahkan agar hidup bersama guru agama. Didik dan dilatih beribadah.
Saatnya kita tidak menyalahkan anak-anak. Saatnya introspeksi diri kita sendiri. Saatnya mengajak anggota keluarga dan masyarakat semua untuk bercermin.
Karena anak-anak itu cermin dari kita.
Kalau mereka membawa molotov, mungkin kita yang lupa membawa hikmah.
Dan bangsa ini tidak akan hancur karena demo. Tapi bisa hancur kalau kita gagal mendidik anak-anak sehingga terlibat demo anarkis.
Dewan Pembina Yayasan Kekerabatan*
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !