160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Kadisbupdar Tulungagung  Ardian Candra Dorong Penguatan Warisan Budaya Lokal

Kadisbupdar Tulungagung  Muhamad Ardian Candra Dorong Penguatan Warisan Budaya Lokal

Budaya Lokal: Pembentukan Dewan Kesenian Tulungagung diharapkan menjadi rumah bersama bagi para seniman, sekaligus memperkuat ekosistem budaya dan mendorong kesejahteraan para pelaku seni.

TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung, Muhamad Ardian Candra, mendorong penguatan pelestarian warisan budaya lokal sebagai fondasi identitas masyarakat.

Hal itu disampaikan Kadin yang akrab disapa Chandra ini,  saat menghadiri Dialog Budaya dan Penyerahan Apresiasi Pelaku Budaya yang digelar DPD Partai Golkar Tulungagung, Senin (9/3/2026).

Dalam forum tersebut, Chandra menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari denyut kehidupan masyarakat yang membentuk karakter dan jati diri Tulungagung dari generasi ke generasi.

750 x 100 AD PLACEMENT

Kegiatan bertema “Akulturasi Kebudayaan Lokal sebagai Bentuk Menjaga Warisan Dunia” itu menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen bersama dalam menjaga keberlangsungan kebudayaan daerah.

Meski rintik gerimis mengguyur halaman Kantor DPD Golkar Tulungagung, antusiasme para seniman, budayawan, dan masyarakat tetap tinggi mengikuti dialog budaya tersebut.

Menurutnya, memahami kebudayaan Tulungagung harus dimulai dari menelusuri sejarah panjang wilayah yang dahulu dikenal sebagai Ngrowo. Secara topografis, kawasan tersebut merupakan hamparan rawa agraris yang dialiri Sungai Brantas.

Kondisi alam tersebut membentuk karakter masyarakat yang hidup selaras dengan alam, menjunjung nilai gotong royong, serta menggantungkan kehidupan pada tradisi agraris.

750 x 100 AD PLACEMENT

Chandra menjelaskan, tonggak sejarah penting wilayah ini tercatat pada 18 November 1205 melalui Prasasti Lawadan.

Dalam prasasti tersebut, Raja Kertajaya dari Kerajaan Kediri memberikan anugerah kepada masyarakat tani Lawadan sebagai bentuk penghargaan atas kesetiaan mereka di masa krisis kerajaan.
“Sejak saat itu wilayah ini dikenal tidak hanya sebagai kawasan agraris, tetapi juga sebagai komunitas masyarakat yang memiliki keteguhan nilai dan budaya,” jelasnya.

Seiring runtuhnya pengaruh Hindu-Buddha pada masa Majapahit, kebudayaan Islam mulai berkembang melalui pengaruh Kesultanan Demak, Pajang, hingga Mataram.

Wilayah Ngrowo pun berkembang menjadi kawasan strategis yang berperan sebagai lumbung logistik bagi kerajaan-kerajaan di Jawa Timur.

750 x 100 AD PLACEMENT

Pusat peradaban daerah ini kemudian bergeser dari Kalangbret menuju pusat kota yang kini dikenal sebagai Tulungagung sekitar tahun 1824.

Transformasi identitas wilayah mencapai titik penting pada 1901 ketika nama Ngrowo resmi berubah menjadi Tulungagung.

Menurut Chandra, nama Tulungagung memiliki makna filosofis mendalam. “Tulung berarti sumber air atau pertolongan, sedangkan Agung berarti besar. Tulungagung dapat dimaknai sebagai sumber pertolongan besar bagi masyarakatnya,” paparnya.

Ia juga menyoroti kuatnya pengaruh budaya Mataraman yang hingga kini masih melekat dalam kehidupan masyarakat Tulungagung. Nilai tersebut tercermin dalam tata krama sosial, penggunaan bahasa Jawa dengan tingkatan unggah-ungguh dari ngoko hingga kromo inggil, hingga berbagai tradisi adat yang masih dijalankan.

Berbagai ritual budaya seperti Bersih Desa, Sedekah Bumi, hingga upacara adat Ulur-ulur di Telaga Buret menjadi bukti bagaimana masyarakat Tulungagung menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Selain itu, Tulungagung juga dikenal memiliki beragam seni budaya yang telah diakui secara nasional, di antaranya, Jaranan Senterewe yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia serta Reog Kendang yang memiliki perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Seni Karawitan dan tradisi Tiban juga menjadi bagian penting dari khazanah budaya daerah.

Namun di tengah kekayaan tersebut, Ardian mengingatkan adanya tantangan besar di era globalisasi. Arus informasi yang cepat serta penetrasi budaya global melalui teknologi digital berpotensi menjauhkan generasi muda dari akar budaya lokal.
“Kekhawatiran terbesar kita adalah ketika generasi muda mulai kehilangan kedekatan dengan seni dan tradisi daerahnya sendiri. Jika itu terjadi, mereka juga akan kehilangan kompas identitasnya,” tegasnya.

 

Dialog Budaya dan Penyerahan Apresiasi Pelaku Budaya di Kantor DPD Partai Golkar Tulungagung, Senin(9/3/2026).Kadisbupdar Tulungagung Muhamad   Ardian Candra Dorong Penguatan Warisan Budaya Lokal

Sebagai langkah konkret, Disbudpar Tulungagung mendorong pembentukan Dewan Kesenian atau Dewan Kebudayaan Kabupaten Tulungagung. Lembaga ini diharapkan menjadi wadah resmi bagi para seniman dan budayawan untuk menyalurkan aspirasi sekaligus merumuskan arah kebijakan kebudayaan daerah.

Gagasan tersebut, kata Chandra, telah mendapat dukungan dari Bapak Bupati Tulungagung. Kehadiran dewan kesenian dinilai penting karena hingga kini Tulungagung belum memiliki lembaga representatif yang menaungi para pelaku seni.
“Nantinya dewan kesenian ini diharapkan menjadi rumah bersama bagi para seniman, sekaligus memperkuat ekosistem budaya dan mendorong kesejahteraan para pelaku seni,” jelasnya.

Dialog budaya ini menjadi momentum memperkuat kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Budaya adalah identitas kita. Jika kita mampu merawatnya dengan baik, Tulungagung akan terus menjadi sumber pertolongan besar bagi masa depan generasi berikutnya,” pungkasnya.

Jurnalis : Pandhu/Rif

Berita Terkait
930 x 180 AD PLACEMENT
Ayo ikut berpartisipasi untuk mewujudkan jurnalistik berkualitas!
Promo Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !