

Haflah Akhirussanah dan Haul ke-11 KH Abdul Aziz serta Haul Karomah MIA ke-18 yang digelar di Pondok Pesantren MIA (Ma’hadul ‘Ilmi Wal ‘Amal), Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Sabtu (31/1/2026).
TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Pesantren dituntut tetap relevan di tengah percepatan perubahan sosial dan kemajuan teknologi digital tanpa kehilangan jati dirinya. Tantangan tersebut mengemuka dalam peringatan Haflah Akhirussanah dan Haul ke-11 KH Abdul Aziz serta Haul Karomah MIA ke-18 yang digelar di Pondok Pesantren MIA (Ma’hadul ‘Ilmi Wal ‘Amal), Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Sabtu (31/1/2026).
Kegiatan yang dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) serta Wakil Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin itu menjadi ruang refleksi tentang peran pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang berakar pada tradisi, sekaligus adaptif terhadap dinamika zaman.

Ketua Tanfidziyah PCNU Tulungagung, Dr KH Bagus Ahmadi, M.Sy., M.Pd.I., menegaskan bahwa peringatan haul tidak sekadar ritual tahunan, melainkan memiliki makna strategis dalam menjaga kesinambungan nilai dan tradisi keilmuan pesantren.
“Bagi Nahdlatul Ulama, haul merupakan sarana mengirim doa sekaligus bentuk bakti santri kepada para kiai. Dari sini, santri diingatkan bahwa ilmu yang diperoleh hari ini tidak terlepas dari perjuangan dan tirakat para ulama terdahulu,” ujarnya.
Bagus Ahmadi juga menyoroti keteladanan almarhum KH Abdul Aziz sebagai ulama yang tidak hanya berperan dalam pengajaran agama, tetapi juga aktif menyelesaikan persoalan sosial di masyarakat.
Almarhum dikenal sebagai sosok yang membuka ruang dialog dan solusi bagi warga dari berbagai latar belakang.
“Beliau mendedikasikan hidupnya untuk umat. Persoalan masyarakat, baik ekonomi, keluarga, maupun sosial, selalu diupayakan jalan keluarnya,” katanya.
Menurut Bagus Ahmadi, keteladanan tersebut relevan bagi santri dan para pemimpin saat ini. Di tengah kompleksitas persoalan masyarakat modern, ulama dan pemimpin dituntut hadir sebagai problem solver, bukan sekadar simbol otoritas.
Dalam konteks kebangsaan, ia menegaskan pesantren memiliki peran strategis dalam menjaga moderasi beragama. Berlandaskan prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah, pesantren mengajarkan sikap keberagamaan yang seimbang, tidak ekstrem, serta menghargai keberagaman.
“Moderasi beragama yang diajarkan di pesantren menjadi pondasi penting dalam menjaga persatuan nasional, terutama di tengah polarisasi pandangan keagamaan di ruang publik,” ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan pesantren saat ini juga berkaitan dengan pesatnya perkembangan teknologi. Santri hidup di era digital dan kecerdasan buatan, sehingga perlu dibekali keterampilan tambahan tanpa kehilangan identitas keislamannya.
Senada, Pengasuh Pondok Pesantren MIA, Gus Samsul Umam, menyampaikan bahwa peringatan haul menjadi momentum meneguhkan akar sejarah pesantren sekaligus memperkuat orientasi pendidikan ke depan.
“Pesantren lahir, tumbuh, dan berkembang bersama masyarakat. Apa yang kita jalani hari ini adalah hasil perjuangan para pendahulu. Tugas generasi sekarang adalah menjaga dan mengembangkannya sesuai tuntutan zaman,” katanya.
Dalam setahun terakhir, Pondok Pesantren MIA mencatat perkembangan signifikan, baik dari jumlah santri maupun capaian pendidikan. Meski demikian, Gus Samsul menegaskan bahwa proses menuntut ilmu tidak berhenti pada satu jenjang.
“Belajar adalah proses sepanjang hayat,” ujarnya.
Menghadapi tantangan ke depan, pesantren mulai mengintegrasikan penguasaan teknologi dalam sistem pendidikan agar santri mampu bersaing di ruang publik yang semakin terbuka, tanpa meninggalkan nilai dasar kepesantrenan.

Melalui tausiyah KH Abdul Rahman Ahmad Hafidz sebagai penceramah utama, disampaikan pula pesan tentang pentingnya kehati-hatian dalam mendidik generasi muda di tengah derasnya arus budaya dan informasi global.
Peringatan Haflah Akhirussanah dan Haul di Pondok Pesantren MIA ini menegaskan peran pesantren sebagai penjaga nilai moral, pusat pendidikan keagamaan, serta ruang pembentukan generasi santri yang moderat dan adaptif di tengah disrupsi zaman.
Jurnalis: Pandhu/Rif
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !